KBOBABEL.COM (BANGKA BELITUNG) – Krisis dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Pulau Bangka beberapa hari terakhir diduga dipicu oleh pergeseran distribusi BBM dari depo induk Pertamina di Pangkalbalam ke depo yang dikontrak di kawasan Belinyu. Sumber redaksi menyebutkan, sebelum keberadaan depo Belinyu, suplai BBM di Pangkalbalam selalu lancar dan tidak pernah mengalami antrean panjang atau krisis stok. Rabu (19/11/2025)
“Sebelum ada depo Belinyu, tidak ada sejarah antrean minyak seperti saat ini. Stok selalu ada, rata-rata 1000 KL. Dulu memang ada sekali antrean, tapi tidak lama,” kata sumber, Selasa (18/11/2025).
Menurut informasi yang diperoleh, beberapa waktu lalu Depo Belinyu menerima pasokan BBM jenis Pertalite dan Pertamax mencapai 9.000 KL, sementara depo induk di Pangkalbalam baru menerima suplai 1.000 KL pada hari yang sama. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa distribusi lebih banyak diarahkan ke Belinyu dibandingkan dengan Pangkalbalam, yang seharusnya menjadi depo utama di Pulau Bangka.
“Sekarang ini lebih banyak bongkar di Belinyu daripada di Depo Pangkalbalam. Di Pangkalbalam sisanya saja. Seharusnya depo Pangkalbalam ini kan induk, kenapa lalu mengambil sisa,” terang sumber.
Distribusi BBM dari Belinyu ke SPBU-SPBU di berbagai daerah Pulau Bangka juga dilakukan secara bervariasi. Kadang kuota BBM yang dibongkar di Belinyu dikirim sebagian melalui kapal tanker ke Pangkalbalam sebelum didistribusikan menggunakan mobil tangki, kadang seluruh kuota dibongkar di Belinyu dan langsung disalurkan ke SPBU.
“Nanti sisa dari Belinyu itu diantar ke Pangkalan pakai tanker. Kadang bongkar habis baru didistribusikan oleh mobil-mobil tangki ke SPBU-SPBU,” pungkas sumber.
Pergeseran distribusi ini menimbulkan sejumlah spekulasi terkait penyebab krisis BBM di Bangka. Beberapa pihak mempertanyakan apakah keterlambatan dan kelangkaan disebabkan oleh cuaca, perilaku pengecer, pemilik Pertamini, transportir BBM, atau adanya faktor lain di belakang distribusi dari kilang Belinyu.
Sumber redaksi menyebutkan bahwa salah satu faktor utama adalah adanya distribusi BBM dari kilang Belinyu, yang menurut informasi, milik Afuk dan dikontrak oleh Pertamina. Pertanyaan muncul terkait kapasitas depo induk Pangkalbalam, yang memiliki sembilan kilang minyak dengan kapasitas puluhan ribu ton, namun kapal-kapal tanker lebih banyak bersandar di Belinyu.
“Salah satu kelangkaan BBM karena distribusinya banyak dari Belinyu. Sementara Pangkalbalam punya 9 kilang yang ukurannya puluhan ribu ton, tapi kenapa kapal banyak masuk ke Belinyu,” ujar sumber, Senin (17/11/2025) malam.
Belum ada tanggapan resmi dari Humas Pertamina Pangkalbalam, Sandi, terkait banyaknya suplai BBM yang dialihkan ke Belinyu. Upaya konfirmasi terhadap Afuk, pemilik kilang di Belinyu, juga masih berlangsung. Kondisi ini menimbulkan keresahan di masyarakat karena antrean panjang BBM di sejumlah SPBU dan keterlambatan pasokan di berbagai daerah Pulau Bangka.
Beberapa pihak menilai, jika distribusi kembali dioptimalkan melalui depo induk Pangkalbalam, krisis BBM yang terjadi selama beberapa hari terakhir dapat segera teratasi. Sumber redaksi menekankan pentingnya koordinasi antara pihak Pertamina, pengelola depo, dan pemerintah daerah agar distribusi BBM dapat berjalan lancar dan stok aman di seluruh wilayah Pulau Bangka.
Krisis ini juga menimbulkan pertanyaan terkait pengelolaan kilang dan depot BBM di Babel, serta apakah model distribusi yang saat ini diterapkan sudah sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas depo. Mengingat depo Pangkalbalam merupakan induk yang memiliki kapasitas besar, pengalihan suplai ke kilang Belinyu yang dikontrak pihak ketiga menjadi sorotan publik.
Sementara itu, masyarakat berharap agar Pertamina segera memberikan penjelasan resmi dan melakukan penyesuaian distribusi BBM agar stok merata dan kelangkaan di berbagai daerah dapat diatasi, termasuk memastikan Pangkalbalam kembali menjadi pusat distribusi utama di Pulau Bangka.
Dengan kondisi ini, pengawasan distribusi dan koordinasi antar-depo menjadi kunci untuk memastikan pasokan BBM tetap stabil, SPBU tidak kekurangan stok, dan masyarakat tidak lagi mengalami antrean panjang. Hingga kini, publik terus menunggu klarifikasi resmi dari Pertamina terkait penyebab utama krisis BBM dan strategi penanganannya. (Sumber : Babel Aktual, Editor : KBO Babel)










