KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) — Dugaan penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar sekitar 6 ton di wilayah perairan Sadai, Kabupaten Bangka Selatan, terus menjadi perhatian masyarakat. Kasus ini kini tidak hanya menyoroti aktivitas pengangkutan ilegal di laut, tetapi juga memunculkan dugaan adanya kebocoran distribusi dari jalur SPBN Celagen, Pulau Pongok. Jum’at (22/5/2026)
Pengungkapan kasus tersebut dilakukan oleh Tim Tindak Pidana Tertentu (Tipidsus) Satreskrim Polres Bangka Selatan yang mengamankan satu unit kapal KM Usaha Mulia 17 GT di kawasan Dermaga Penutuk. Dari hasil pemeriksaan di lapangan, aparat menemukan ribuan liter solar subsidi yang dikemas dalam drum dan jerigen berbagai ukuran.
Polisi mengamankan barang bukti dalam jumlah besar, termasuk puluhan drum dan jerigen berisi solar subsidi. Selain itu, lima orang yang berada di kapal tersebut turut diamankan untuk dimintai keterangan, termasuk nakhoda kapal yang diduga bertanggung jawab atas pengangkutan BBM tersebut.
Kasat Reskrim Polres Bangka Selatan menjelaskan bahwa pengungkapan ini bermula dari laporan masyarakat terkait aktivitas mencurigakan di jalur laut Pulau Celagen menuju Tanjung Gading. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan patroli dan penyelidikan di wilayah perairan Sadai dan sekitarnya.
Menurut keterangan kepolisian, kapal yang dicurigai sempat berusaha menghindari petugas dengan mematikan lampu penerangan saat melintas di laut. Aksi kejar-kejaran pun tidak dapat dihindari hingga akhirnya kapal berhasil diamankan di dermaga.
Namun, temuan solar subsidi dalam jumlah besar tersebut justru memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat, khususnya nelayan kecil di wilayah Sadai dan Pulau Pongok. Mereka menilai distribusi BBM subsidi seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan nelayan, bukan untuk disalahgunakan dalam jumlah besar.
Sejumlah nelayan mengaku selama beberapa bulan terakhir mengalami kesulitan mendapatkan solar subsidi di SPBN maupun titik distribusi resmi. Kondisi tersebut bahkan membuat sebagian nelayan terpaksa mengurangi aktivitas melaut karena keterbatasan bahan bakar.
“Kadang solar susah sekali didapat, harus antre lama. Tapi kalau ada yang bisa keluar sampai ribuan liter seperti ini, kami jadi bertanya-tanya,” ujar salah satu nelayan yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Dari situ, muncul dugaan publik bahwa terdapat kemungkinan kebocoran distribusi BBM subsidi dari jalur SPBN Celagen Pulau Pongok. Dugaan ini masih bersifat spekulatif di tengah masyarakat dan belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai adanya pelanggaran dalam sistem distribusi tersebut.
Di sisi lain, nama seorang pria yang disebut sebagai Haji RHMN mulai ramai diperbincangkan publik. Ia diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan distribusi solar subsidi yang kini sedang dalam penyelidikan aparat penegak hukum. Meski demikian, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari kepolisian mengenai sejauh mana dugaan keterlibatan pihak tersebut.
Masyarakat menyoroti bahwa dalam kasus pengangkutan BBM subsidi hingga sekitar 6 ton, mustahil hal tersebut terjadi tanpa adanya sistem distribusi yang terorganisir. Oleh karena itu, publik mendesak agar aparat tidak hanya berhenti pada pelaku lapangan seperti nakhoda dan anak buah kapal, tetapi juga menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang berperan sebagai pengendali atau pemasok.
“Kalau jumlahnya besar seperti itu, pasti ada yang mengatur dari atas. Tidak mungkin hanya kapal saja yang bekerja,” ungkap warga lainnya.
Desakan juga datang agar aparat penegak hukum melakukan audit dan evaluasi terhadap distribusi BBM subsidi di SPBN Celagen dan wilayah Pulau Pongok. Masyarakat menilai pengawasan harus diperketat agar penyaluran solar subsidi benar-benar tepat sasaran dan tidak bocor ke pihak yang tidak berhak.
Selain itu, pemerintah daerah dan instansi terkait juga diminta untuk turun tangan memperbaiki sistem distribusi BBM subsidi. Nelayan berharap ada mekanisme pengawasan yang lebih transparan, termasuk pendataan penerima solar subsidi agar tidak terjadi penyalahgunaan di lapangan.
Kasus ini juga menyoroti persoalan klasik terkait distribusi BBM subsidi di wilayah kepulauan, di mana pengawasan sering kali dianggap masih lemah. Kondisi geografis yang terdiri dari banyak pulau dinilai menjadi salah satu tantangan dalam memastikan distribusi tepat sasaran.
Sementara itu, pihak kepolisian menegaskan bahwa penyidikan terhadap kasus dugaan penyelundupan solar subsidi ini masih terus berjalan. Aparat memastikan akan melakukan pengembangan lebih lanjut untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan yang lebih besar di balik aktivitas tersebut.
Polisi juga membuka peluang untuk memeriksa pihak-pihak lain apabila ditemukan bukti yang cukup dalam proses penyidikan. Saat ini, seluruh barang bukti telah diamankan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, kasus dugaan penyelundupan solar subsidi di perairan Sadai masih menjadi perhatian publik Bangka Selatan. Masyarakat menunggu langkah tegas aparat dalam mengungkap seluruh pihak yang diduga terlibat, termasuk memastikan apakah terdapat kebocoran dalam sistem distribusi BBM subsidi di tingkat SPBN.
Kasus ini diharapkan dapat menjadi momentum perbaikan sistem distribusi BBM subsidi di wilayah kepulauan agar tepat sasaran dan tidak lagi dimanfaatkan oleh oknum yang diduga mencari keuntungan pribadi dari komoditas bersubsidi tersebut. (Sumber : babelnewsupdate.com, Editor : KBO Babel)











