KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Sebanyak 185 personel gabungan disiagakan untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Pangkalpinang. Personel tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Satpol PP, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga petugas pemadam kebakaran. Kamis (13/8/2026)
Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan pelaksanaan apel siaga karhutla yang digelar sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kebakaran yang dapat meningkat seiring kondisi cuaca. Apel tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan sinergi seluruh unsur dalam menghadapi ancaman karhutla.
Kapolresta Pangkalpinang Kombes Pol Indra Wijatmiko mengatakan, dari total 185 personel gabungan yang disiagakan, sebanyak 100 personel berasal dari jajaran Polri. Seluruh personel tersebut dipersiapkan untuk mendukung upaya pencegahan hingga penanganan apabila terjadi kebakaran.
Menurutnya, karhutla tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Titik api yang tidak segera ditangani berpotensi berkembang menjadi kebakaran besar dan menimbulkan dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat.
“Karhutla bukan persoalan biasa. Titik api yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi kebakaran besar, serta berdampak terhadap lingkungan, sosial hingga perekonomian masyarakat,” ujar Indra, Kamis (13/8/2026).
Ia menegaskan, kesiapan personel harus diikuti dengan kesiapan logistik, armada, peralatan, serta berbagai sarana pendukung lainnya. Seluruh perlengkapan tersebut harus dipastikan dalam kondisi siap digunakan sehingga penanganan dapat dilakukan dengan cepat ketika kebakaran terjadi.
Indra juga menekankan pentingnya sinergi antarlembaga. Menurutnya, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja karena ancaman kebakaran membutuhkan respons bersama dan terkoordinasi.
“Untuk kesiapsiagaan dan sinergi seluruh unsur menjadi kunci dalam menghadapi potensi karhutla. Deteksi dini juga harus diperkuat dengan melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang dianggap rawan karhutla, serta meningkatkan koordinasi bersama perangkat lingkungan, termasuk RT dan RW,” katanya.
Selain kesiapan dalam penanganan, upaya pencegahan menjadi perhatian utama. Aparat bersama instansi terkait akan meningkatkan kegiatan sambang, sosialisasi, edukasi, serta memberikan imbauan kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebiasaan tersebut dinilai dapat menjadi pemicu kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan dan cuaca mendukung penyebaran api.
Menurut Indra, masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya karhutla. Kesadaran masyarakat menjadi bagian dari sistem pencegahan karena kebakaran dapat muncul dari aktivitas pembakaran yang tidak terkendali.
“Penanganan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab satu institusi. Seluruh unsur, termasuk masyarakat, memiliki peran dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran. Jika terjadi karhutla, seluruh kekuatan yang ada harus segera dikerahkan agar penanganan dapat dilakukan secara cepat, terpadu dan terukur,” tegasnya.
Selain melakukan pencegahan, penguatan sistem pelaporan juga menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi karhutla. Masyarakat yang melihat atau mengetahui adanya kebakaran diminta segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang.
Pelaporan secara cepat diharapkan dapat mempercepat proses penanganan sehingga api tidak sempat meluas. Masyarakat dapat memanfaatkan layanan Call Center Polri 110 untuk menyampaikan informasi terkait kejadian kebakaran maupun kondisi yang membutuhkan penanganan kepolisian.
Indra menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi. Dengan demikian, ketika muncul titik api, personel dan peralatan sudah berada dalam kondisi siap sehingga respons dapat dilakukan tanpa menunggu kondisi membesar.
“Kita tidak hanya siap ketika bencana terjadi, tetapi harus siap sebelum bencana terjadi. Dengan solidaritas seluruh unsur, saya yakin kita bisa mencegah dan menanggulangi karhutla di Pangkalpinang,” ungkapnya.
Dengan disiagakannya 185 personel gabungan, pemerintah daerah dan aparat keamanan menunjukkan komitmen untuk memperkuat langkah pencegahan serta penanganan karhutla di Kota Pangkalpinang.
Kesiapan tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada apel siaga, tetapi dilanjutkan dengan pemantauan wilayah rawan, edukasi masyarakat, koordinasi lintas sektor, serta respons cepat terhadap setiap laporan kebakaran. Kolaborasi antara aparat, pemerintah, perangkat lingkungan, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga Pangkalpinang dari ancaman karhutla. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)











