KBOBABEL.COM (JAKARTA) – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi lanjutan terkait temuan rekening bantuan sosial (bansos) yang diduga digunakan untuk aktivitas judi online (judol). Dalam keterangannya di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Selasa (8/7/2025), Gus Ipul menyatakan bahwa Kementerian Sosial (Kemensos) tengah mendalami motif para penerima manfaat yang memanfaatkan rekening bansos untuk kegiatan ilegal tersebut. Selasa (8/7/2025)
“Kita ingin tahu lebih jauh apakah ini ketidaktahuan, atau sebagian dari jaringan, apakah ini iseng, atau memang kebiasaan, habit,” kata Gus Ipul.
Ia menekankan pentingnya analisis lebih mendalam untuk memahami fenomena ini sebelum mengambil langkah-langkah selanjutnya.
Gus Ipul mengungkapkan bahwa temuan awal ini berasal dari hasil pemadanan data rekening penerima bansos dengan data milik Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Dari uji cepat terhadap data di satu bank, ditemukan indikasi kuat adanya penyalahgunaan rekening untuk aktivitas judol.
“Ini ingin kita analisis lebih jauh. Ini baru satu bank dan uji cepat. Nanti kalau hasilnya sudah utuh, akan kami evaluasi lebih jauh,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Ipul menjelaskan bahwa pihaknya menemukan sejumlah rekening yang tidak dapat digunakan untuk menyalurkan bansos. Hal ini memicu Kemensos untuk menggali lebih dalam mengenai profil para penerima manfaat.
“Karena ada rekening yang tidak bisa salur, sementara itu kita periksa KPM (Keluarga Penerima Manfaat) mendapatkan bansos 10 tahun, ada yang 15 tahun, dan program PKH ini mulai 2007, maka kita ingin mengetahui lebih jauh profil penerima manfaat,” jelasnya.
“Kenapa kerasan (betah) sekali bisa 10-15 tahun? Penasaran saya, tim juga. Kita awali dengan mencoba koordinasi dengan PPATK,” tambahnya.
Gus Ipul menyampaikan bahwa Kemensos telah menyerahkan seluruh data rekening penerima dan eks penerima bansos kepada PPATK untuk dianalisis setelah mendapat izin dari Presiden. Total, lebih dari 28 juta rekening diserahkan untuk diperiksa.
“Setelah mendapatkan izin dari Presiden, seluruh rekening penerima bansos dan yang pernah menerima bansos dari Kemensos, sebanyak 28 juta rekening lebih, kami serahkan kepada PPATK untuk dianalisis, didalami, dan dilihat agar kita mengetahui profil KPM,” ujar dia.
Proses pemadanan data antara Kemensos dan PPATK dilakukan dengan cepat. Gus Ipul menuturkan,
“Dalam pemadanan yang cepat, Jumat ketemu, Sabtu data kami serahkan, dan malam saya sudah dapat informasi awal. Belum keseluruhan. Baru ada di satu bank.”
Temuan sementara dari PPATK menunjukkan bahwa dari 28,4 juta data rekening penerima bansos yang diserahkan Kemensos, terdapat 571.410 KPM yang NIK-nya identik dengan data 9,7 juta NIK yang diduga sebagai pemain judi online.
“Dari 28,4 juta data yang kita serahkan dipadankan dengan 9,7 juta NIK yang ditengarai mereka sebagai pemain judol, ada 571.410 KPM yang NIK-nya sama,” ungkap Gus Ipul.
Ia juga menegaskan bahwa dari jumlah penerima bansos tahun 2024, sekitar 2 persen terindikasi menggunakan rekening untuk aktivitas judi online. Namun, ia mengingatkan bahwa data ini baru berasal dari satu bank dan kemungkinan masih ada temuan serupa di bank-bank lainnya.
“2 persen orang penerima bansos adalah pemain judol tahun 2024. Dan ini hanya untuk 2024 dan hanya di satu bank. Ini berdasarkan data yang kita kirim, terdapat 7,5 juta kali transaksi dengan nilai hampir Rp1 triliun,” kata Gus Ipul.
Kemensos berencana mengambil langkah tegas setelah hasil analisis menyeluruh selesai dilakukan oleh PPATK. Evaluasi menyeluruh akan menentukan apakah ada penerima manfaat yang harus dicoret dari program bansos atau diberi sanksi lain.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan bantuan sosial tepat sasaran dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang merugikan negara maupun masyarakat. (Sumber: Kompas, Editor: KBO Babel)