Cetak Rekor MURI, 300 Peserta di Toboali Produksi 300 Kg Terasi Secara Bersama

Bikin Terasi Massal, 300 Peserta di Toboali Sukses Torehkan Rekor MURI

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) — Sebanyak 300 orang secara bersama-sama membuat 300 kilogram (kg) belacan atau terasi dalam kegiatan kuliner di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Produksi massal tersebut berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Senin (28/9/2026)

Kegiatan pembuatan terasi ini berlangsung pada Sabtu (26/9/2026) dan menjadi salah satu rangkaian Kemilau Pesona Bangka Selatan 2026 yang digelar pada 23-26 September 2026.

banner 336x280

Ratusan peserta mengolah bahan dasar udang menjadi terasi secara bersama-sama. Proses tersebut dilakukan secara terbuka dan disaksikan masyarakat serta tim juri MURI hingga menghasilkan total 300 kg terasi.

Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudkepora) Bangka Belitung, Irwanto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan kuliner daerah melalui kegiatan pariwisata.

“Rekor MURI pembuatan belacan atau terasi terbanyak bersama OJK Pangkalpinang,” kata Irwanto di Toboali, Sabtu (26/9/2026).

Diolah dengan Cara Tradisional

Proses pembuatan terasi dilakukan dengan memanfaatkan cuaca yang terik. Para peserta terlebih dahulu menjemur udang segar di lapangan terbuka.

Setelah udang cukup kering, bahan tersebut kemudian ditumbuk menggunakan lumpang kayu hingga berubah menjadi bubuk.

Bubuk udang selanjutnya diolah menjadi adonan dengan menambahkan air, garam, serta rempah-rempah khas Bangka. Adonan kemudian dibentuk hingga menghasilkan terasi dengan warna merah mengilap dan tekstur lembut.

Hasil produksi tersebut kemudian dikumpulkan dan ditimbang di hadapan tim juri untuk memastikan jumlah yang dihasilkan sesuai dengan ketentuan rekor.

Kegiatan pembuatan terasi juga memiliki keterkaitan erat dengan Festival Memasak Lempah Kuning, salah satu agenda dalam Kemilau Pesona Bangka Selatan. Terasi menjadi salah satu bumbu yang digunakan dalam hidangan khas Bangka tersebut.

Menurut Irwanto, kekuatan sebuah event pariwisata tidak hanya terletak pada nama atau kemeriahannya. Atraksi wisata harus mampu menghadirkan seni, budaya, kuliner, serta aktivitas masyarakat yang menjadi identitas daerah.

“Yang dipasarkan bukan hanya nama event-nya, tetapi keseluruhan pengalaman, cerita, budaya, kuliner dan karakter masyarakat yang menjadi identitas Bangka Selatan. Dari sana, sebuah event dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan destinasi secara lebih luas,” ujarnya.

Ribuan Pengunjung Padati Event

Kemilau Pesona Bangka Selatan 2026 digelar dengan mengusung tema “Jelajahi Pesonanya, Rasakan Budayanya”. Selama empat hari pelaksanaan, kawasan Sport Center Bangka Selatan dipadati ribuan masyarakat dan pengunjung.

Berbagai kegiatan disiapkan untuk memberikan pengalaman wisata yang menggabungkan unsur seni, budaya, kuliner, hiburan, hingga ekonomi kreatif.

Sejumlah agenda yang digelar antara lain bazar UMKM, pagelaran seni dan budaya, festival tari kreasi daerah, lomba etnik wastra nusantara, melukis tudung saji, jalan sehat, serta Festival Memasak Lempah Kuning.

Selain itu, rangkaian kegiatan juga diisi santunan kepada 1.000 anak yatim serta tabligh akbar bersama Ustaz Abdul Somad pada Jumat (25/9/2026) malam.

Suasana kemeriahan semakin terasa dengan penampilan vokalis grup musik Hijau Daun, Dide. Ribuan penonton ikut bernyanyi ketika lagu “Cobalah” dibawakan di panggung utama.

Seremoni pembukaan kegiatan turut ditandai dengan penabuhan instrumen pentas bersama. Sejumlah pejabat hadir dalam rangkaian acara tersebut, di antaranya Kepala Disparbudkepora Bangka Belitung Eko Kurniawan, Bupati Bangka Selatan Riza Herdavid, Wakil Bupati Debby Vita Dewi, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Dorong UMKM dan Ekonomi Kreatif

Bupati Bangka Selatan Riza Herdavid mengatakan, Kemilau Pesona Bangka Selatan tidak hanya diselenggarakan sebagai ajang hiburan masyarakat.

Menurutnya, event tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk mengembangkan aktivitas ekonomi.

“Alhamdulillah, berjalan meriah dan masyarakat sangat antusias. Terima kasih kepada seluruh panitia, jajaran pemerintah daerah, pihak keamanan, pelaku UMKM dan seluruh masyarakat yang sudah ikut menyukseskan kegiatan ini,” ujar Riza.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, serta berbagai pihak menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penyelenggaraan kegiatan.

Dalam event tersebut, sebanyak 214 pelaku UMKM turut berpartisipasi dengan menjajakan berbagai produk lokal dan kuliner khas daerah.

Kehadiran pelaku UMKM menjadi bagian penting karena pengunjung tidak hanya mendapatkan hiburan dan atraksi budaya, tetapi juga dapat membeli berbagai produk yang dihasilkan masyarakat setempat.

Kepala Disparbudkepora Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Eko Kurniawan mengatakan, Kemilau Pesona Bangka Selatan dapat menjadi contoh bagaimana sebuah event daerah dimanfaatkan sebagai ruang promosi sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kami melihat Kemilau Pesona Bangka Selatan sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, pelaku UMKM, seniman, komunitas, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan,” katanya.

Libatkan Organisasi Pers

Pelaksanaan Kemilau Pesona Bangka Selatan 2026 juga melibatkan sejumlah organisasi pers sebagai bagian dari kolaborasi publikasi dan pengembangan kegiatan daerah.

Organisasi yang terlibat di antaranya Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Bangka Selatan, PWI Bangka Selatan, dan Pro Jurnalis Siber (PJS).

Kolaborasi tersebut turut memperluas publikasi mengenai potensi wisata, budaya, kuliner, dan ekonomi kreatif Bangka Selatan kepada masyarakat.

Dengan adanya produksi 300 kg terasi yang melibatkan 300 peserta hingga tercatat dalam rekor MURI, kegiatan tersebut sekaligus mengangkat salah satu produk kuliner yang lekat dengan identitas masyarakat Bangka.

Kemilau Pesona Bangka Selatan 2026 akhirnya tidak hanya menjadi rangkaian hiburan selama empat hari, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan potensi budaya, kuliner, pariwisata, UMKM, komunitas, dan masyarakat dalam satu kegiatan.

Melalui perpaduan tersebut, pemerintah daerah mendorong agar event pariwisata tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi juga mampu memperkenalkan karakter daerah serta membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *