KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Diskursus mengenai rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung kembali mencuat. Namun berbeda dari hiruk-pikuk perdebatan pro dan kontra yang selama ini berkembang di ruang publik, Diskusi Publik bertajuk “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung; Diskusi Data dan Fakta” yang digelar di Aston Emidary Bangka Hotel dan Conference Center, Sabtu (7/2/2026), justru menegaskan satu hal penting: publik masih berada dalam fase ketidaktahuan. Senin (9/2/2026)
Moderator diskusi, Zamhari SE MM, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk mendukung maupun menolak PLTN, melainkan murni sebagai ruang edukasi dan literasi publik. Ia menilai, perdebatan keras yang selama ini muncul lebih banyak lahir dari asumsi, bukan dari pengetahuan yang utuh.
“Sejak awal kami tegaskan, kegiatan ini netral. Tidak ada statement mendukung atau menolak PLTN sampai acara berakhir,” ujar Zamhari dalam keterangannya.
Menurutnya, perdebatan PLTN di Bangka Belitung sudah berlangsung lama, namun ironisnya sering kali bertumpu pada pemahaman yang dangkal. Baik kelompok yang mengaku pro maupun kontra, kerap membangun argumen berdasarkan ketakutan, kekhawatiran, atau harapan yang tidak disertai basis data dan pemahaman teknis yang memadai.
“Yang pro dan kontra sering kali diputuskan berdasarkan asumsi masing-masing. Padahal kita sendiri belum benar-benar tahu apa itu PLTN,” katanya.
Diskusi ini, lanjut Zamhari, sengaja dirancang sebagai forum pemahaman awal—memberikan gambaran dasar tentang teknologi nuklir, tahapan pengembangan, serta posisi aktual rencana PLTN di Bangka Belitung. Tujuannya sederhana namun krusial: meluruskan ekspektasi publik.
Ia mengungkapkan fakta penting yang kerap luput dari perhatian, yakni posisi PT Thorcon Power Indonesia sebagai salah satu pihak yang kerap dikaitkan dengan rencana PLTN. Secara faktual, perusahaan tersebut masih berada pada tahap sangat awal.
“Kalau kita ibaratkan perjalanan dari angka 1 sampai 100, PT Thorcon baru di step 2 atau 3. Masih riset, masih penelitian. Sementara pertanyaan audiens sudah di step 50,” tegasnya.
Ketimpangan inilah yang menurutnya sering memicu kegaduhan. Publik seolah berdebat pada tahap akhir, sementara objek yang diperdebatkan bahkan belum mendekati fase pengambilan keputusan.
Zamhari menekankan bahwa diskusi yang baru saja digelar bukanlah ruang untuk menyimpulkan, melainkan ruang untuk belajar. Pengetahuan yang diperoleh pun masih sebatas “kulit luar”, namun dinilai penting sebagai fondasi agar masyarakat mampu menempatkan diri secara objektif saat menyampaikan pendapat.
“Apalagi kita harus jujur, sebagian besar dari kita tidak paham teknis PLTN secara mendalam,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu forum. Ke depan, diskusi harus diperluas dengan menghadirkan ilmuwan, akademisi, dan praktisi yang benar-benar kompeten agar pembahasan PLTN tidak terus terjebak pada narasi emosional dan politis.
Pada titik tertentu—entah lima atau sepuluh tahun ke depan—barulah masyarakat dinilai layak mengambil posisi tegas, apakah mendukung atau menolak. Itu pun, kata Zamhari, harus berangkat dari data, ilmu pengetahuan, dan pemahaman yang matang.
“Mungkin nanti, setelah kita benar-benar paham, barulah kita bisa mengatakan mendukung atau menolak. Sekarang masih terlalu dini,” tandasnya.
Menutup pernyataannya, Zamhari menyampaikan apresiasi sekaligus permohonan maaf kepada seluruh peserta atas dinamika diskusi yang berlangsung. Ia menilai, pertanyaan kritis yang muncul justru menunjukkan antusiasme publik yang tinggi—sebuah modal penting untuk membangun diskursus energi yang sehat dan rasional di Bangka Belitung. (*)

















