Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Bangka Barat Naik, 70 Persen Korban Masih di Bawah Umur

DP2KBP3A Catat 40 Kasus Kekerasan di Bangka Barat, Pemerintah Minta Orang Tua Perketat Pengawasan Anak

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA BELITUNG) – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bangka Barat menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bangka Barat, tercatat sebanyak 40 kasus terjadi sejak Januari hingga September 2025. Jum’at (10/10/2025)

Kepala DP2KBP3A Bangka Barat, Sarbudiono, mengungkapkan bahwa jumlah tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan fisik, psikis, hingga pencabulan terhadap anak dan perempuan. Ia menyebut angka itu meningkat dibandingkan tahun 2024 lalu, yang mencatat jumlah kasus serupa sebanyak 33 kasus.

banner 336x280

“Artinya, ada kenaikan yang cukup signifikan. Kita juga tidak tahu tiga bulan ke depan apakah jumlah ini akan terus bertambah atau tidak. Namun, tren peningkatan ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Sarbudiono, Jumat (10/10/2025).

Menurutnya, dari total 40 kasus yang tercatat, sekitar 70 persen di antaranya merupakan kekerasan terhadap anak. Sisanya merupakan kekerasan terhadap perempuan, baik dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun kekerasan seksual.

“Kebanyakan korban adalah anak di bawah umur. Ini menjadi keprihatinan kami bersama. Anak-anak seharusnya mendapat perlindungan, kasih sayang, dan perhatian penuh dari keluarga,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan upaya pencegahan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, terutama di tingkat desa dan sekolah. Menurutnya, edukasi menjadi kunci utama dalam menekan angka kekerasan terhadap kelompok rentan ini.

“Kami senantiasa menyampaikan pemahaman kepada masyarakat, terutama orang tua, agar lebih memperhatikan anak-anaknya. Kasih sayang dan pengawasan orang tua itu penting. Anak adalah bagian dari hidup kita yang harus dijaga,” tegas Sarbudiono.

Selain itu, pihak DP2KBP3A juga menyoroti pentingnya pengawasan dalam keluarga yang mengalami pernikahan sambung. Kasus kekerasan terhadap anak, kata dia, tidak jarang muncul dalam situasi keluarga dengan orang tua tiri.

“Kami minta agar orang tua lebih peka dan waspada terhadap kondisi anak di rumah. Dalam banyak kasus, pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat korban,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran tokoh agama dan masyarakat dalam mencegah serta memberikan pemahaman terkait perlindungan anak dan perempuan. Menurutnya, keterlibatan tokoh masyarakat dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial kepada warga.

“Kami berharap tokoh agama bisa membantu memberikan edukasi kepada masyarakat, misalnya melalui khutbah Jumat atau kegiatan keagamaan lainnya, agar isu perlindungan anak dan perempuan ini terus disuarakan,” tambahnya.

Sarbudiono juga meminta kepala desa dan perangkat desa agar lebih aktif dalam mengayomi dan memberikan perlindungan kepada warganya, khususnya perempuan dan anak-anak. Ia menilai aparat desa memiliki peran penting dalam mendeteksi dini potensi kekerasan di lingkungan mereka.

“Kami juga meminta perangkat desa agar bisa menjadi pelindung bagi masyarakatnya. Jangan sampai ada kasus kekerasan yang tidak terdeteksi karena kurangnya perhatian dari lingkungan sekitar,” ucapnya.

Untuk itu, DP2KBP3A Bangka Barat berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat, agar setiap laporan kekerasan bisa segera ditangani.

“Kami terus bekerja sama dengan kepolisian, kejaksaan, serta lembaga sosial untuk memberikan pendampingan hukum dan psikologis bagi para korban. Setiap laporan yang masuk pasti kami tindak lanjuti,” tegasnya.

Ia menambahkan, masyarakat juga memiliki peran besar dalam memutus rantai kekerasan dengan cara berani melapor bila melihat atau mengetahui adanya tindak kekerasan.

“Jangan diam. Jika ada kekerasan di sekitar kita, segera laporkan. Karena perlindungan anak dan perempuan adalah tanggung jawab bersama,” tutupnya.

Dengan meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bangka Barat ini, pemerintah daerah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya peran keluarga dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan anak semakin meningkat. Sinergi semua pihak menjadi kunci agar kasus serupa tidak terus bertambah. (Sumber : Wowbabel, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *