KBOBABEL.COM (Jakarta) – Pemberitaan mengenai potensi dan cadangan uranium di Indonesia pada awal 2026 membuka kembali diskursus energi nuklir dalam konteks yang lebih konkret. Bukan lagi sekadar wacana, berbagai hasil penelitian geologi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis sumber daya radioaktif yang menjanjikan untuk memasuki fase awal pembangunan industri nuklir.
Namun perlu ditegaskan sejak awal, data potensi dan cadangan uranium serta thorium yang selama ini dipublikasikan masih bersifat parsial, yakni merupakan hasil penelitian di lokasi-lokasi tertentu, bukan hasil eksplorasi nasional yang menyeluruh.
Mengacu pada laporan “Mengenal Potensi dan Cadangan Uranium di Indonesia” yang dimuat Spirits.id, total potensi uranium nasional diperkirakan mencapai sekitar 81.090 ton, tersebar di Kalimantan Barat, Sumatera, Sulawesi Barat, Bangka Belitung, dan Singkep.
Di saat yang sama, cadangan thorium diperkirakan berada pada kisaran 130.000–150.000 ton, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan potensi bahan bakar nuklir non-konvensional terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Angka-angka tersebut perlu dipahami sebagai estimasi berbasis lokasi penelitian tertentu, bukan gambaran utuh seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kalimantan Barat tercatat sebagai wilayah dengan potensi uranium terbesar, terutama di Kabupaten Melawi dengan estimasi sekitar 24.112 ton.
Sumatera menyusul dengan potensi sekitar 31.567 ton, sementara kawasan Mamuju di Sulawesi Barat menyimpan sekitar 3.793 ton. Meski sebagian besar masih berada dalam kategori sumber daya indikatif dan hipotesis, temuan ini menegaskan bahwa Indonesia tidak memulai dari nol.
Belum pernah dilakukan eksplorasi uranium dan thorium secara sistematis dan komprehensif di seluruh wilayah Indonesia, sehingga potensi sesungguhnya sangat mungkin jauh lebih besar daripada yang saat ini teridentifikasi.
Temuan di Pulau Bangka memberikan gambaran teknis yang lebih rinci. Identifikasi radiometri pada zona granit Klabat dan Formasi Ranggam menunjukkan konsentrasi ekuivalen uranium (eU) berada pada kisaran 5–15 ppm, sementara thorium (eTh) mencapai 45–75 ppm. Unsur radioaktif ini berasosiasi dengan mineral monasit pada endapan aluvial, dengan kandungan sekitar 2,82–10,66% dalam sampel konsentrat.
Monasit tersebut selama ini muncul sebagai produk ikutan pertambangan timah di Jalur Timah Asia Tenggara, menandakan bahwa bahan baku nuklir berpotensi dikembangkan melalui optimalisasi aktivitas pertambangan yang sudah ada.
Uranium menjadi krusial karena merupakan bahan bakar utama PLTN dengan densitas energi sangat tinggi. Secara teknis, satu pelet uranium seberat sekitar enam gram mampu menghasilkan energi setara dengan satu ton batu bara.
Karakteristik ini menjadikan uranium komoditas strategis global, terutama bagi negara-negara yang mengoperasikan reaktor nuklir tetapi tidak memiliki sumber daya domestik. Dalam lanskap energi dunia yang semakin menekankan pasokan rendah karbon, permintaan uranium diproyeksikan terus meningkat.
Bagi Indonesia, situasi tersebut menghadirkan pilihan strategis. Cadangan uranium nasional dapat menjadi daya tarik bagi pasar internasional, namun ekspor bahan mentah hanya akan menempatkan Indonesia sebagai pemasok hulu dengan nilai tambah minimal.
Sebaliknya, pemanfaatan domestik melalui pembangunan PLTN membuka ruang bagi kemandirian energi sekaligus pengembangan industri berteknologi tinggi. Terlebih, dengan cakupan eksplorasi yang masih terbatas, kebijakan eksplorasi nasional berpotensi mengungkap cadangan uranium dan thorium yang jauh lebih besar dari estimasi saat ini, sehingga memperkuat argumen pengembangan nuklir domestik jangka panjang.
Momentum ini mulai menemukan bentuk melalui ketertarikan pengembang asing. Thorcon menjadi salah satu aktor yang paling progresif dengan menawarkan teknologi Thorcon 500 (TMSR-500) untuk dilisensikan di Indonesia. Perusahaan ini telah memperoleh Persetujuan Evaluasi Tapak dari BAPETEN untuk rencana pembangunan PLTN di Bangka Belitung, menandai langkah konkret menuju realisasi proyek nuklir swasta pertama di Tanah Air.
Reaktor berbasis garam cair yang ditawarkan Thorcon dirancang modular, beroperasi pada tekanan rendah, dan mengandalkan sistem keselamatan pasif.
Teknologi TMSR juga relevan dengan karakter cadangan mineral Indonesia karena memanfaatkan siklus thorium. Dalam konsep ini, satu ton thorium berpotensi menghasilkan energi setara dengan sekitar 35 ton uranium pada reaktor konvensional, meskipun uranium tetap diperlukan sebagai pemantik awal reaksi fisi.
Kombinasi cadangan uranium dan thorium nasional dengan desain reaktor generasi baru membuka peluang pengelolaan bahan bakar yang lebih efisien sekaligus berkelanjutan.
Kehadiran Thorcon pada akhirnya bukan hanya soal pembangunan satu pembangkit, melainkan pintu masuk menuju pembentukan ekosistem industri nuklir nasional.
Pelisensian teknologi di dalam negeri berpotensi mendorong transfer pengetahuan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta tumbuhnya rantai pasok lokal, mulai dari pengolahan bahan bakar hingga manufaktur komponen reaktor.
Dengan fondasi sumber daya yang sudah terpetakan, meski masih terbatas secara spasial, dan ketertarikan investor yang mulai terwujud, Indonesia sejatinya berada pada momentum penting transisi energi. Tantangan terbesar bukan lagi pada ketersediaan bahan bakar atau kesiapan teknologi, melainkan pada keberanian kebijakan untuk melakukan eksplorasi nasional terpadu dan membawa nuklir dari ruang diskusi menuju realisasi industri. Jika dikelola secara terarah, pemanfaatan uranium dan thorium domestik berpotensi menjadi tulang punggung ketahanan energi sekaligus penggerak lahirnya industri nuklir nasional yang berdaulat. (KBO Babel)











