Ratusan Jamaah Muhammadiyah Belitung Gelar Shalat Id, Seruan Istiqamah Jadi Sorotan

Idul Fitri 1447 H: Warga Muhammadiyah Belitung Tumpah Ruah, Ajak Lanjutkan Amalan Ramadhan

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (Belitung) — Ratusan warga Muhammadiyah Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, melaksanakan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah di halaman Komplek Perguruan Muhammadiyah Belitung, Jalan KH Ahmad Dahlan, Desa Air Raya, Tanjungpandan, Jumat (20/3) pukul 07.00 WIB. Jum’at (20/3/2026)

Sejak pagi hari, tepatnya sekitar pukul 06.30 WIB, jamaah mulai berdatangan ke lokasi pelaksanaan shalat. Mereka datang secara berkelompok bersama keluarga dengan mengenakan pakaian terbaik sebagai simbol kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di Bulan Suci Ramadhan.

banner 336x280

Pantauan di lapangan menunjukkan suasana yang tertib dan penuh kekhusyukan. Halaman komplek pendidikan tersebut dipadati jamaah dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Gema takbir yang berkumandang sejak sebelum pelaksanaan shalat menambah nuansa religius dan memperkuat rasa kebersamaan di antara warga Muhammadiyah.

Pelaksanaan shalat Idul Fitri berlangsung dengan khidmat. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Belitung, H.M. Turfan Amir. Dalam khutbahnya, ia menyampaikan pesan penting tentang makna Idul Fitri sebagai momentum kembali kepada fitrah serta pentingnya menjaga konsistensi dalam beribadah setelah Ramadhan.

Menurut Turfan Amir, terdapat dua perasaan yang umumnya dirasakan oleh umat Islam saat Ramadhan berakhir. Di satu sisi, umat merasakan kebahagiaan karena telah sampai pada hari kemenangan Idul Fitri. Namun di sisi lain, terdapat kesedihan karena harus berpisah dengan bulan yang penuh keberkahan dan ampunan.

“Ada dua perasaan yang berkecamuk dalam diri seorang Muslim saat Ramadhan pergi. Gembira karena datangnya Idul Fitri, namun juga bersedih karena ditinggalkan bulan yang begitu agung,” ujarnya dalam khutbah.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama Ramadhan tidak seharusnya berhenti begitu saja. Sebaliknya, umat Islam didorong untuk melanjutkan kebiasaan baik tersebut di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya.

Turfan Amir mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Ia menyebutkan bahwa ibadah, kedermawanan, serta kepedulian sosial yang meningkat selama Ramadhan harus tetap dijaga agar tidak kembali seperti sebelum bulan suci.

“Apa yang sudah terbiasa kita lakukan di bulan Ramadhan hendaknya dilanjutkan di bulan Syawal. Apakah ibadah kita, kedermawanan kita, akan ikut berlalu atau tetap melekat pasca Ramadhan, itulah yang disebut dengan konsep agung istiqamah,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bulan Syawal menjadi momentum pembuktian bagi setiap Muslim. Pada bulan inilah terlihat apakah seseorang mampu mempertahankan kualitas ibadahnya atau justru kembali kepada kebiasaan lama yang kurang baik.

Sebagai bentuk konkret dalam menjaga istiqamah, Turfan Amir menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga shalat wajib, khususnya bagi laki-laki, untuk tetap dilaksanakan secara berjamaah di masjid.

“Kita harus mengunci kebaikan di bulan Ramadhan agar berlanjut di bulan Syawal. Salah satu caranya adalah dengan berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal serta menjaga shalat wajib di masjid,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa menjaga konsistensi dalam beribadah bukanlah perkara mudah. Namun demikian, dengan niat yang tulus dan pertolongan dari Allah SWT, setiap Muslim diyakini mampu mempertahankan kebaikan tersebut dan meraih derajat sebagai orang-orang yang bertakwa atau muttaqin.

Menutup khutbahnya, Turfan Amir mengajak seluruh jamaah untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi. Momentum Idul Fitri, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk membersihkan hati dari segala kesalahan serta memperkuat hubungan antar sesama.

“Mari kita saling memaafkan dan saling mendoakan agar amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT di hari yang fitri ini. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin,” tuturnya.

Usai pelaksanaan shalat, jamaah tampak saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terlihat jelas di antara mereka, mencerminkan makna sejati Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan kembali kepada kesucian.

Pelaksanaan shalat Idul Fitri oleh warga Muhammadiyah di Belitung ini berlangsung dengan lancar dan tertib. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. (Sumber : Antara, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *