KBOBABEL.COM (BATANG) — Jumlah warga yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus bertambah. Hingga Kamis (24/9/2026), tercatat sebanyak 411 orang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang diduga berkaitan dengan program tersebut.
Dari total korban, sebanyak 50 orang merupakan balita, 141 orang merupakan anak usia sekolah, sedangkan 220 lainnya merupakan orang tua yang diketahui ikut mengonsumsi makanan yang dibawa pulang oleh penerima manfaat MBG.
Bupati Batang M Faiz Kurniawan mengatakan, ratusan warga tersebut telah mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Berdasarkan pendataan sementara, 119 orang telah dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan, 20 orang menjalani perawatan di Puskesmas Bawang, sementara 272 lainnya menjalani rawat jalan.
“Yang pertama adalah make sure apa yang terjadi, sehingga bisa menimpa lebih dari 411 korban. Per tadi jam 12.00 WIB dilaporkan di puskesmas, di rumah sakit ada lebih dari 411,” kata Faiz saat ditemui di dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Bawang, Kamis (24/9/2026) siang.
Faiz menjelaskan, sebagian korban yang sebelumnya menjalani perawatan telah diperbolehkan kembali ke rumah setelah mendapatkan penanganan medis. Namun, masih terdapat korban yang harus menjalani perawatan karena mengalami sejumlah keluhan kesehatan.
Ia menyebut korban berasal dari berbagai kelompok usia. Selain anak-anak usia sekolah yang menjadi penerima manfaat program MBG, terdapat pula balita dan orang dewasa yang ikut terdampak setelah mengonsumsi makanan yang dibawa pulang dari penerima manfaat.
Pendataan terhadap korban yang masih menyusui juga belum dapat dilakukan secara pasti karena proses identifikasi masih berlangsung.
Faiz mengatakan pemerintah daerah tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian tersebut. Pemeriksaan secara menyeluruh perlu dilakukan untuk mengetahui tahapan yang kemungkinan menjadi sumber persoalan.
Menurutnya, penelusuran akan dilakukan mulai dari bahan makanan tiba di dapur SPPG, proses pengolahan, hingga makanan tersebut dikemas dan didistribusikan kepada penerima manfaat.
“Kita harus make sure betul apa yang sebenarnya terjadi dari step processing-nya, dari step proses ketika barang datang, kemudian processing, kemudian sampai ter-deliver, mobilisasi ke para penerima manfaat MBG tersebut,” ujarnya.
Pemeriksaan setiap tahapan dinilai penting untuk mengetahui secara faktual bagaimana makanan tersebut dapat menyebabkan keluhan kesehatan pada ratusan orang. Pemerintah daerah juga masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut sebelum menentukan penyebab kejadian.
Di tengah proses penelusuran, kondisi sejumlah korban masih menjadi perhatian. Faiz menyebut masih banyak anak-anak yang menjalani perawatan dengan kondisi lemas, muntah, diare, hingga harus mendapatkan infus.
“Banyak sekali anak-anak kecil yang kemudian diinfus, kondisinya masih lemas, kemudian masih muntah, diare, dan lain-lain,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah tidak ingin menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum untuk mencari pihak yang disalahkan. Fokus utama saat ini adalah memastikan kondisi para korban tertangani dan mengetahui penyebab kejadian secara objektif.
“Kita dalam posisi tidak ingin mencari siapa yang salah, siapa yang benar, atau bahkan mungkin tidak dalam posisi mencari political score, skor politik dalam kondisi yang semacam ini,” tegas Faiz.
Cek Dapur SPPG Bawang
Sementara itu, Kepala KPPG Semarang BGN, Hadiriajaya, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung terhadap dapur SPPG Bawang yang memasok makanan MBG pada Kamis (24/9/2026).
Pemeriksaan dilakukan dengan melihat kondisi bangunan dan tata letak dapur. Tim juga mengecek rekaman kamera pengawas atau CCTV untuk mengetahui aktivitas di lingkungan dapur dan proses penyediaan makanan.
Hadiriajaya mengatakan, pihaknya masih perlu melakukan pendalaman, terutama terkait bagaimana makanan MBG dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang bukan penerima manfaat langsung.
Menurutnya, salah satu kemungkinan yang perlu ditelusuri adalah makanan MBG yang dibawa pulang oleh orang tua penerima manfaat kemudian dikonsumsi bersama anggota keluarga lainnya.
“Ini mungkin perlu kami dalami lagi karena memang ada kemungkinan makanan ini, MBG ini, dibawa pulang oleh orang tua dari penerima manfaat yang tidak seharusnya menerima MBG,” kata Hadiriajaya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jumlah korban tidak hanya berasal dari kelompok penerima manfaat program MBG. Korban tercatat berasal dari berbagai rentang usia, mulai dari balita, anak-anak usia sekolah, hingga orang dewasa.
“Nah, ini dari jumlah korban yang terdampak ini cukup banyak, mulai dari balita, anak-anak, dan juga ada usia yang bukan penerima manfaat,” ujarnya.
Dengan jumlah korban yang mencapai 411 orang, pemerintah daerah bersama pihak terkait masih melakukan pendataan dan pemeriksaan. Penelusuran terhadap proses penyediaan makanan, kondisi dapur SPPG, distribusi, hingga pola konsumsi makanan terus dilakukan.
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penyebab pasti kejadian dan memastikan langkah penanganan yang diperlukan. Sementara itu, penanganan medis terhadap warga yang mengalami keluhan kesehatan tetap menjadi prioritas sembari proses investigasi berlangsung. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

















