KBOBABEL.COM (JAKARTA) – Fakta baru terus terungkap terkait aksi pelaku atau Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH) dalam insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading. Pelaku yang juga turut menjadi korban dalam peristiwa ledakan pada Jumat (7/11/2025) itu kini diketahui menggunakan sejumlah siasat untuk merakit hingga meledakkan bahan peledak tanpa diketahui keluarga maupun lingkungan terdekat. Aksi pelaku membuat keluarga kaget karena menyadari bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan sebelumnya telah disamarkan dengan rapi. Sabtu (22/11/2025)
Sebagaimana diketahui, peristiwa ledakan terjadi saat khotbah salat Jumat berlangsung di area masjid sekolah. Ledakan tersebut menyebabkan 96 orang mengalami luka dan memicu kepanikan besar di lingkungan sekolah. Polisi kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengungkap struktur peledak dan asal bahan-bahan yang digunakan.
Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahan utama peledak yang digunakan ABH adalah potassium chloride. Bahan tersebut dideteksi menggunakan alat rigaku yang dimiliki pihak kepolisian.
“Kemudian bahan peledak atau explosive yang kami temukan, dengan menggunakan alat rigaku yang kami punya, itu terdeteksi potassium chloride, yang digunakan terduga,” kata Henik dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).
Selain bahan utama, polisi menemukan serpihan plastik dan sejumlah paku yang diduga menjadi bagian penting dari struktur bom. Plastik digunakan sebagai pembungkus, sementara paku baja dan paku seng menjadi serpihan logam untuk menambah dampak ledakan.
“Paku itu ada paku baja dan paku seng yang ada payungnya, seperti itu, yang ada berserakan di dalam masjid,” ujar Henik.
Dari lokasi kejadian, polisi juga menemukan empat baterai A4 dan alat pemicu ledakan. Meskipun bom menggunakan sistem receiver yang dapat dikendalikan dengan remote, pihak kepolisian tidak menemukan perangkat remote tersebut di masjid.
“Bahwa power yang digunakan oleh terduga itu menggunakan empat buah baterai A4, kemudian inisiatornya adalah electric mass… switching-nya menggunakan receiver yang dikendalikan dengan remote, namun remote tidak kami temukan,” jelas Henik.
Menurutnya, bom tersebut disimpan menggunakan jeriken plastik berukuran 1 liter dengan serpihan paku sebagai komponen pelengkap.
Beli Bahan Peledak Lewat Online, Keluarga Tidak Curiga
Fakta mengejutkan lainnya diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto. Ia menyebut bahan-bahan yang digunakan ABH untuk merakit bom diduga dibeli secara online. Paket berisi bahan kimia dan komponen elektronik tersebut diterima langsung oleh orang tua pelaku tanpa menaruh sedikit pun kecurigaan.
“Iya seperti itu (diduga dibeli online). Karena kan orang tuanya yang menerima paket,” kata Budi, Jumat (21/11/2025).
Ketika keluarga bertanya mengenai isi paket, pelaku mengaku bahwa barang-barang tersebut digunakan untuk keperluan ekstrakurikuler di sekolah. Alasan itu membuat keluarga tidak memeriksa lebih jauh isi paket dan justru menyimpannya untuk pelaku.
“Kalau ke orang tuanya, ke keluarga, dia bilang untuk ekstrakurikuler, makanya disimpan sama pihak keluarga,” ujar Budi.
Modus Laptop Rusak untuk Akses Dark Web
Selain memanipulasi informasi pada keluarga, pelaku juga menggunakan alasan lain untuk menutupi aktivitasnya. Pelaku mengaku bahwa laptopnya sedang rusak, padahal perangkat tersebut digunakan untuk berselancar di dark web dan mencari informasi mengenai bahan peledak.
“Menurut si ABH ke orang tuanya, laptopnya itu rusak,” jelas Budi.
Polisi telah menyita laptop tersebut dan sedang melakukan pemeriksaan digital forensik untuk menelusuri riwayat pencarian, transaksi, hingga kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Keluarga Terkejut, Sebut Pelaku Pendiam
Setelah fakta-fakta terungkap, pihak keluarga mengaku terkejut dan tidak menyangka pelaku bisa terlibat dalam kasus sebesar ini. Menurut Budi, pelaku memang dikenal sebagai sosok pendiam.
“Karakter pelaku memang sifatnya seperti itu, pendiam,” kata Budi.
Bukan hanya manipulatif, pelaku juga disebut jarang bercerita mengenai aktivitas pribadi sehingga pihak keluarga sama sekali tidak menduga bahwa anak mereka sedang merakit bom di rumah.
Kondisi Pelaku Belum Stabil untuk Diperiksa
Pelaku sendiri merupakan salah satu dari korban ledakan dan mengalami luka serius. Hingga kini, polisi masih menunggu kondisi fisiknya pulih untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.
“Baru kemarin lepas selang makan, dua hari lalu. Artinya dia masih beradaptasi,” jelas Budi.
Dokter yang menangani pelaku menyampaikan bahwa kondisi psikologisnya belum stabil.
“Dia masih bengong, terus ngomong sebentar kadang masih belum pulih sepenuhnya,” tambahnya.
Polda Metro Jaya menegaskan pemeriksaan akan dilakukan segera setelah pelaku dinyatakan layak diperiksa oleh dokter.
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih mendalami motif pelaku, asal bahan peledak, kemungkinan keterlibatan pihak lain, serta jejak digital pelaku selama mempersiapkan aksi yang menyebabkan puluhan korban luka. Kasus ini menjadi perhatian publik karena menunjukkan bagaimana seorang pelajar dapat mengakses bahan peledak dan memperoleh informasi berbahaya dengan memanfaatkan celah pengawasan keluarga dan kemudahan transaksi digital.
Polisi memastikan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah kasus serupa terjadi kembali. (Sumber : detiknews, Editor : KBO Babel)










