KLH Segel Empat Perusahaan Diduga Perparah Banjir Sumatera, Delapan Lainnya Mulai Diperiksa

Operasi Penindakan KLH: PLTA Batang Toru hingga Perkebunan Sawit Disegel Terkait Banjir

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) resmi menyegel empat perusahaan yang diduga memiliki kontribusi besar terhadap banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Langkah tegas ini diambil setelah kementerian mengidentifikasi adanya aktivitas pembukaan lahan dan operasi industri yang memberi tekanan serius terhadap kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru. Selasa (9/12/2025)

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menyebut empat perusahaan tersebut telah dipasangi segel Papan Pengawasan dan PPLH Line sebagai tanda penghentian sementara seluruh aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

banner 336x280

“Ada empat perusahaan yang sudah dipasang segel Papan Pengawasan dan PPLH Line,” ujar Diaz kepada awak media, Selasa (9/12/2025).


Empat Perusahaan yang Disegel KLH

Empat perusahaan yang dikenai tindakan penghentian aktivitas tersebut ialah:

  1. PT Agincourt Resources, perusahaan tambang emas.

  2. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengembang proyek PLTA Batang Toru.

  3. PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III).

  4. PT Sago Nauli, perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Diaz menjelaskan bahwa penyegelan terhadap tiga perusahaan—PTPN III, PT Agincourt Resources, dan PLTA Batang Toru—telah dilakukan pada Jumat (5/12/2025). Sementara PT Sago Nauli menyusul disegel pada Minggu (7/12/2025).

Menurut Diaz, langkah penyegelan ini merupakan tindakan awal untuk memastikan seluruh aktivitas operasi yang memberikan dampak langsung terhadap kerusakan hutan dapat dihentikan.


KLH Periksa Delapan Perusahaan di DAS Batang Toru

Selain penyegelan, KLH juga menjadwalkan pemanggilan terhadap delapan perusahaan lain yang diduga melakukan aktivitas pembukaan lahan secara agresif dan berdampak pada ekosistem DAS Batang Toru.

“KLH masih melakukan pemanggilan terhadap delapan perusahaan di DAS Batang Toru. Empat hari ini, besok lainnya menyusul,” jelas Diaz.

Pemeriksaan dilakukan secara bertahap dengan fokus pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sektor energi, tambang, dan perkebunan, yang diduga kuat memicu tekanan berlebih pada kawasan hutan di sekitar aliran sungai.

Dugaan awal KLH menunjukkan bahwa pembukaan lahan yang dilakukan sejumlah perusahaan menyebabkan penurunan daya serap tanah, peningkatan erosi, dan longsoran material yang terbawa hingga ke badan sungai. Tekanan tersebut memperburuk dampak banjir ketika hujan dengan intensitas tinggi melanda kawasan Sumatera.


Pembukaan Hutan dan Erosi Besar Ditemukan dari Pantauan Udara

Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH, Rizal Irawan, mengungkapkan temuan awal dari penyelidikan mencakup kerusakan hutan yang terlihat jelas dari hasil pantauan udara menggunakan helikopter.

“Dari overview helikopter, terlihat jelas aktivitas pembukaan lahan untuk PLTA, hutan tanaman industri, pertambangan, dan kebun sawit,” ungkap Rizal dalam keterangan resmi, Sabtu (6/12/2025).

Menurut Rizal, perubahan masif pada struktur hutan dan DAS menyebabkan meningkatnya volume kayu serta material tanah yang hanyut terbawa arus ketika intensitas hujan meningkat. Hal ini turut memperparah banjir di sejumlah wilayah Sumatera dalam beberapa pekan terakhir.


Kayu Gelondongan Mengapung saat Banjir Masih Diselidiki

Terkait temuan kayu gelondongan yang hanyut terbawa banjir, Diaz menegaskan bahwa hal tersebut masuk dalam ranah penyelidikan Kementerian Kehutanan dan Bareskrim Polri.

Kasus kayu gelondongan ini diduga kuat sebagai indikator adanya pembalakan liar yang terjadi di wilayah hutan industri dan perkebunan, sehingga turut mempercepat kerusakan lingkungan dan memperburuk kondisi banjir.


Langkah Tegas KLH Dinilai Penting untuk Pemulihan Lingkungan

KLH memastikan bahwa seluruh rangkaian pemeriksaan, penyegelan, dan penyelidikan lanjutan dilakukan untuk menghentikan laju kerusakan lingkungan yang semakin mengancam keseimbangan ekosistem di Sumatera.

“Masyarakat perlu mengetahui bahwa kami bekerja sesuai prosedur. Semua langkah ini penting untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan masyarakat,” tegas Diaz.

KLH menegaskan bahwa hasil penyelidikan akan diumumkan secara transparan kepada publik setelah seluruh data dan temuan lapangan dikonsolidasikan. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *