KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengimbau masyarakat untuk kembali memperketat penerapan protokol kesehatan menyusul ditemukannya varian baru virus influenza A(H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai Super Flu di Indonesia. Hingga 31 Desember 2025, Kemenkes mencatat sebanyak 62 kasus terkonfirmasi yang tersebar di delapan provinsi. Jum’at (2/1/2026)
Dari delapan provinsi tersebut, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) hingga kini belum tercatat adanya temuan kasus. Namun demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat provinsi terdekat, Sumatera Selatan, sudah melaporkan lima kasus Super Flu A(H3N2) subclade K.
Berdasarkan data resmi Kemenkes, sebaran kasus Super Flu di Indonesia hingga akhir 2025 meliputi Jawa Timur dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 23 kasus. Disusul Kalimantan Selatan sebanyak 18 kasus, Jawa Barat 10 kasus, Sumatera Selatan 5 kasus, Sumatera Utara 3 kasus, Jawa Tengah 1 kasus, Daerah Istimewa Yogyakarta 1 kasus, dan Sulawesi Utara 1 kasus. Dari data tersebut terlihat bahwa mayoritas kasus terdeteksi di Pulau Jawa dan Kalimantan.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa varian influenza A(H3N2) subclade K bukanlah virus baru secara global. Varian ini pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan saat ini telah terdeteksi di lebih dari 80 negara di berbagai belahan dunia.
“Berdasarkan hasil pemantauan Whole Genome Sequencing (WGS) yang kami rampungkan pada 25 Desember, varian ini sebenarnya sudah masuk ke sistem surveilans Indonesia sejak Agustus 2025,” ujar dr. Prima dalam keterangan resminya, Kamis (1/1/2026).
Meski telah terdeteksi di Indonesia, Kemenkes menegaskan bahwa situasi influenza nasional masih berada dalam kondisi terkendali. Dalam dua bulan terakhir, tren kasus influenza secara umum justru menunjukkan penurunan di sejumlah wilayah. Hal ini menjadi indikator bahwa sistem surveilans dan respons kesehatan masih berjalan efektif.
Prima juga menyampaikan bahwa kondisi Indonesia sejalan dengan laporan dari beberapa negara Asia lainnya, seperti Singapura dan Thailand. Kedua negara tersebut bahkan telah lebih dulu mendeteksi varian subclade K sejak Juli 2025, namun tidak menunjukkan lonjakan kasus berat yang signifikan.
“Situasi di Indonesia masih sangat terkendali. Vaksin influenza yang tersedia saat ini juga masih efektif untuk mencegah risiko sakit berat maupun rawat inap akibat varian ini,” kata Prima.
Terkait belum ditemukannya kasus di Bangka Belitung, Kemenkes tetap meminta pemerintah daerah dan dinas kesehatan setempat untuk meningkatkan kewaspadaan. Penguatan surveilans, deteksi dini, serta pelaporan kasus influenza-like illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI) menjadi langkah penting untuk mencegah potensi penyebaran.
Kemenkes juga mengingatkan bahwa mobilitas masyarakat yang tinggi, terutama pada masa libur akhir tahun dan awal tahun, dapat meningkatkan risiko penularan penyakit pernapasan, termasuk influenza. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak lengah meskipun daerahnya belum mencatat kasus.
“Pencegahan tetap menjadi kunci. Masyarakat di wilayah yang belum ada kasus pun harus tetap waspada,” ujar Prima.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk kembali menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Langkah-langkah sederhana seperti rajin mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker saat sedang sakit dinilai efektif menekan risiko penularan.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala influenza berat, seperti demam tinggi, batuk berat, sesak napas, atau kondisi yang tidak membaik dalam beberapa hari. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis juga diimbau lebih waspada.
Kemenkes menegaskan akan terus memantau perkembangan penyebaran Super Flu A(H3N2) subclade K melalui sistem surveilans nasional berbasis laboratorium dan WGS. Koordinasi dengan pemerintah daerah juga terus diperkuat untuk memastikan kesiapsiagaan layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Dengan langkah pencegahan yang disiplin dan respons kesehatan yang cepat, Kemenkes optimistis penyebaran Super Flu dapat dikendalikan. Masyarakat pun diharapkan tetap tenang, tidak panik, namun tetap waspada demi menjaga kesehatan bersama di awal tahun 2026. (Sumber : koranbabelpos, Editor : KBO Babel)











