KBOBABEL.COM (Mentok, Bangka Barat) — Laut Pantai Tanjung Kalian pagi itu tenang, tetapi langkah-langkah yang berjalan ke arahnya membawa sejarah paling getir dalam ingatan manusia. Di barisan paling depan, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kabupaten Bangka Barat, Tri Hardani, menggenggam tangan seorang cucu korban tragedi 1942. Bunga di tangan mereka bergetar oleh angin atau oleh duka yang diwariskan lintas generasi. Jumat ( 27/2/2026)
Pada 16 Februari 2026, untuk kedelapan kalinya sejak 2017, PPNI Bangka Barat kembali hadir dalam peringatan tragedi pembantaian 22 perawat Angkatan Darat Australia di Mentok. Upacara dimulai di Pantai Tanjung Kalian lalu dilanjutkan ke Pantai Radji, tempat sejarah berdarah yang kini menjadi altar kemanusiaan dunia.
Namun tahun ini terasa berbeda. Lebih hening. Lebih dalam dan lebih personal.
Tri Hardani berdiri bukan sekadar sebagai ketua organisasi profesi. Ia berdiri sebagai penjaga memori dunia.
“Jika dunia lupa, Bangka Barat tidak boleh lupa,” ucapnya pelan, sebelum prosesi tabur bunga dimulai.
“Perawat adalah tangan Tuhan bagi manusia yang terluka. Dan di pantai ini, tangan-tangan itu pernah dipatahkan oleh perang. Maka tugas kami hari ini adalah menyambungnya kembali dengan cinta.” tambahnya.
Kalimat itu bukan retorika. Sejak 2017, Tri Hardani memastikan PPNI Bangka Barat hadir setiap tahun mendampingi keluarga korban, mempersiapkan prosesi, hingga menjembatani komunikasi dengan delegasi Australia.
Seorang delegasi Australia berkata dengan mata basah.
“Kami datang dari ribuan kilometer, tetapi di Pantai Radji kami merasa pulang. Karena perawat Bangka Barat menjaga nenek kami seperti keluarga sendiri.” jelasnya.
Kutipan itu menguatkan penelitian hubungan diplomatik dalam Australian Journal of International Affairs yang menyebut memorialisasi tragedi Bangka sebagai
“jembatan empati antara Indonesia dan Australia yang melampaui politik.”
Tragedi yang Tak Pernah Padam
Sejarah mencatat, tragedi ini bermula dari tenggelamnya SS Vyner Brooke di Selat Bangka akibat serangan udara Jepang. Para perawat Australia yang berjalan dari pantai Tanjung Kalian ke Pantai Radji, berharap keselamatan. Namun mereka ditembak tanpa ampun.
Dalam arsip Australian War Memorial, kesaksian Vivian Bullwinkel menggambarkan momen itu:
“Kami berjalan ke laut… lalu peluru menghujani kami. Saya jatuh dan pura-pura mati.”
Ia satu-satunya yang selamat setelah diselamatkan warga Bangka. Kesaksiannya menjadi bukti dalam pengadilan kejahatan perang Tokyo 1946.
Sejarawan militer Australia menulis dalam publikasi Australian Army History Unit bahwa tragedi Bangka adalah “salah satu kejahatan perang paling mengguncang terhadap tenaga medis tak bersenjata di Asia Pasifik.”
Tri Hardani mengulang kalimat itu di hadapan peserta upacara.
“Jika sejarah ini mengguncang dunia, maka tugas kami adalah memastikan dunia tetap mendengarnya.” ucapnya.
Seorang wanita Australia berlutut di pasir Pantai Radji. Ia menempelkan foto neneknya di batu monumen.
Tri Hardani mendekat. Ia tidak bicara. Ia hanya duduk di sampingnya.
Wanita itu berkata lirih.
“Nenek saya tidak pernah pulang… tapi di sini saya menemukan rumahnya.”
Tri Hardani menjawab pelan:
“Selama kami masih ada, nenek Anda tidak akan pernah sendiri.”
Tangisan mereka menyatu dengan ombak.
Dalam konsep etika medis internasional yang diatur Konvensi Jenewa 1949, tenaga medis harus dilindungi dalam perang. Pembantaian di Pantai Radji menjadi pengingat dunia bahwa ketika kemanusiaan runtuh, sejarah akan menagihnya.
Bagi Tri Hardani, ini bukan sekadar sejarah.
Ini panggilan jiwa profesi.
Branding Bangka Barat di Mata Dunia
Tidak ada situs lain di Indonesia yang memiliki tragedi pembantaian perawat militer seperti Pantai Radji. Karena itu, Tri Hardani memposisikan PPNI Bangka Barat sebagai penjaga narasi kemanusiaan global.
Ia menyebut Pantai Radji sebagai “universitas moral dunia. Di sini perawat Indonesia belajar bahwa profesi ini bukan pekerjaan. Ini sumpah kemanusiaan.” katanya.
Seorang peneliti sejarah dari Australia berkata:
“Pantai Radji bukan hanya situs perang. Ia simbol solidaritas global.” katanya dalam menggali ingatan jejak penelitian.
Kalimat itu sejalan dengan laporan Australian War Memorial yang menegaskan bahwa tragedi Bangka adalah salah satu kisah kemanusiaan paling dikenang dalam sejarah militer Australia.
Bagi masyarakat Bangka Barat, Tri Hardani kini bukan sekadar ketua organisasi. Ia simbol dedikasi profesi.
Seorang anggota PPNI berkata:
“Kami ikut bukan karena tugas. Kami ikut karena Pak Tri membuat kami percaya bahwa perawat harus berdiri di sisi sejarah.” jelas salah satu anggota PPNI.
Aksi itu nyata. PPNI Bangka Barat dikenal internasional sebagai komunitas perawat yang menjaga memori perang dunia.
Di akhir upacara, Tri Hardani bersuara orasi. Suaranya bergetar.
“Untuk para perawat yang gugur… untuk dunia yang masih belajar menjadi manusia… dan untuk Bangka Barat yang menjaga memori ini… Lest We Forget.” tutup Tri Hardani.
Sumber: Rilis Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bangka Barat (Published : KBO Babel)











