KBOBABEL.COM (JAKARTA) – Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan signifikan setelah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Serangan militer terbaru yang dilakukan AS terhadap sejumlah target di Iran memicu kekhawatiran pasar global terhadap terganggunya pasokan minyak, terutama dari jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Kamis (9/7/2026)
Berdasarkan laporan pasar internasional, harga minyak mentah Brent naik menjadi US$79,28 per barel, meningkat dari penutupan sebelumnya di level US$78,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga menguat menjadi US$74,76 per barel, dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar US$73,52 per barel.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah pasar merespons meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu kelancaran distribusi minyak mentah dunia.
Sebelumnya, kedua harga minyak acuan itu telah ditutup pada posisi tertinggi dalam lebih dari dua pekan menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran mulai Rabu malam waktu setempat.
Trump menyebut kesepakatan sementara yang sebelumnya menjadi dasar meredanya konflik antara Washington dan Teheran telah berakhir. Meski demikian, ia menegaskan pemerintahannya tidak menginginkan perang dalam skala penuh.
Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah memulai operasi militer baru terhadap Iran. Operasi tersebut diklaim bertujuan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz agar jalur pelayaran internasional tetap terbuka.
Menurut seorang pejabat Amerika Serikat yang dikutip sejumlah media internasional, operasi militer kali ini diperkirakan memiliki skala yang lebih besar dibandingkan serangan sehari sebelumnya.
Media-media Iran melaporkan bahwa sejumlah ledakan terdengar di beberapa wilayah strategis, termasuk Bandar Abbas, Abu Musa, Bushehr, serta sejumlah lokasi lain yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas militer dan pelayaran.
Serangan tersebut menjadi babak lanjutan dari meningkatnya ketegangan setelah Iran sebelumnya dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, pemerintah Amerika Serikat mencabut pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Iran yang sebelumnya diberikan dalam rangka kesepakatan sementara kedua negara.
Tidak hanya itu, Iran juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Bahrain dan Kuwait. Klaim tersebut kemudian diikuti aksi balasan dari militer AS.
Rangkaian aksi saling serang itu semakin memperbesar kekhawatiran pasar energi global. Para pelaku pasar menilai konflik yang terus meningkat berpotensi mengganggu rantai pasok minyak mentah dunia apabila jalur pelayaran utama di kawasan Teluk terganggu.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sebelum konflik terbaru pecah, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia diangkut melalui selat tersebut setiap harinya.
Posisi geografis Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab menjadikannya jalur vital bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran.
Selama bertahun-tahun, kawasan tersebut menjadi titik sensitif dalam setiap ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz hampir selalu berdampak langsung terhadap harga minyak dunia karena investor mengantisipasi kemungkinan terganggunya distribusi energi.
Meningkatnya konflik kali ini juga membuat otoritas maritim internasional menaikkan tingkat ancaman keamanan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menjadi kategori “parah”.
Peningkatan status tersebut dilakukan setelah dua kapal tanker dilaporkan mengalami serangan pada Selasa (7/7), sehingga perusahaan pelayaran dan pelaku industri energi diminta meningkatkan kewaspadaan saat melintasi kawasan tersebut.
Analis pasar menilai lonjakan harga minyak saat ini lebih banyak dipicu faktor geopolitik dibandingkan perubahan fundamental pasokan maupun permintaan global.
Apabila eskalasi konflik terus berlanjut dan distribusi minyak melalui Selat Hormuz benar-benar terganggu, harga minyak diperkirakan masih berpotensi mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ke depan.
Sebaliknya, apabila ketegangan berhasil diredakan melalui jalur diplomasi dan aktivitas pelayaran kembali normal, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan akan berangsur mereda.
Bagi banyak negara, termasuk Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan bahan bakar, kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan biaya impor energi. Kondisi tersebut juga dapat memberi tekanan terhadap biaya produksi, transportasi, dan inflasi apabila berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Karena itu, perkembangan konflik di Timur Tengah dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz akan terus menjadi perhatian utama pemerintah, pelaku industri energi, serta pasar keuangan global dalam beberapa pekan mendatang. (Sumber : CNN Indonesia, Editor : KBO Babel)











