KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Peluang lada putih Bangka Belitung (Babel) untuk memperluas pasar internasional semakin terbuka. Komoditas yang dikenal dengan nama Muntok White Pepper tersebut mencatat peningkatan volume ekspor hingga pertengahan 2026. Selasa (18/8/2026)
Hingga Juni 2026, ekspor lada putih Babel mencapai 919,5 ton. Angka tersebut meningkat 25,75 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika volume ekspor tercatat sekitar 731,2 ton.
Pertumbuhan ekspor tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan sektor perkebunan lada di Babel. Di tengah meningkatnya permintaan pasar internasional, pemerintah juga tengah membuka peluang pemasaran baru melalui jaringan 1.200 restoran yang tersebar di 63 negara.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Bagus Rachman, mengatakan kebutuhan terhadap bumbu dan rempah-rempah di pasar internasional masih sangat besar. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi produk rempah Indonesia, termasuk lada putih Babel.
Bagus menyampaikan, Kementerian UMKM telah menjalin kerja sama dengan jaringan restoran internasional yang tersebar di berbagai negara. Jaringan tersebut dinilai memiliki kebutuhan terhadap pasokan rempah dalam jumlah besar.
“Kita sudah bekerja sama dengan 1.200 resto di 63 negara dan saat ini mereka kekurangan bumbu dan rempah-rempah,” kata Bagus saat menghadiri pelepasan ekspor lada putih ke Belanda di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperluas pasar lada putih Bangka Belitung. Apalagi, komoditas tersebut telah memiliki identitas yang kuat di pasar global.
Muntok White Pepper Punya Identitas Global
Lada putih Babel memiliki keunggulan tersendiri karena telah dikenal secara internasional dengan nama Muntok White Pepper. Identitas tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat posisi komoditas lada Babel di pasar ekspor.
Selain memiliki nama dagang yang telah dikenal, lada putih Babel juga telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis (IG). Sertifikasi tersebut menunjukkan keterkaitan produk dengan wilayah geografis asalnya sekaligus menjadi bagian dari identitas dan nilai tambah komoditas.
Bagus menilai potensi pasar tersebut harus diikuti dengan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha. Perluasan pasar tidak boleh hanya berujung pada meningkatnya permintaan, tetapi harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat di daerah.
“Kebutuhan bumbu masak berupa rempah-rempah seperti lada putih ini sangat besar sekali,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah mendorong para petani dan pelaku UMKM untuk memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia guna memperkuat usaha mereka. Salah satunya melalui SAPA UMKM, layanan berbasis digital yang dapat membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis sekaligus memperluas pemasaran.
1.300 Petani Lada Masuk Holding UMKM
Saat ini, sekitar 1.300 petani lada putih di Bangka Belitung telah masuk dalam holding UMKM klaster perkebunan. Keberadaan petani dalam ekosistem tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok dan pemasaran komoditas lada.
Bagus mendorong para petani serta pelaku UMKM yang tergabung dalam holding tersebut untuk segera mendaftarkan produk mereka melalui aplikasi SAPA UMKM.
Layanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemasaran. SAPA UMKM juga mencakup berbagai kebutuhan usaha, mulai dari verifikasi data, perizinan, akses pembiayaan, pembukuan digital, pelatihan, hingga pemasaran produk ke pasar global.
“Kita berharap pelaku UMKM segera mendaftar di aplikasi SAPA ini, agar mendapatkan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga pemasaran produk di pasar global,” katanya.
Akses terhadap pembiayaan dan pasar menjadi penting agar petani tidak hanya berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku. Dengan dukungan ekosistem usaha yang lebih kuat, petani diharapkan dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari komoditas yang mereka hasilkan.
Perluasan pasar juga menjadi peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi Muntok White Pepper sebagai salah satu komoditas unggulan Bangka Belitung.
Namun, peningkatan permintaan harus diikuti kemampuan produksi yang memadai. Selain kuantitas, konsistensi kualitas menjadi faktor penting agar lada Babel mampu memenuhi persyaratan pembeli internasional.
Ekspor Capai 919,5 Ton
Peluang pasar tersebut sejalan dengan kinerja ekspor lada putih Babel yang terus menunjukkan perkembangan positif.
Plt Deputi Karantina Tumbuhan Badan Karantina Indonesia (Barantin), Dian S.R. Kusumastuti, menyebut ekspor lada Babel mengalami peningkatan dalam beberapa periode terakhir.
Berdasarkan data Barantin, sepanjang 2025 ekspor lada Babel mencapai sekitar 1,37 ribu ton melalui 184 kali pengiriman. Nilai ekonomi dari ekspor tersebut mencapai sekitar Rp180 miliar.
Lada putih Babel dikirim ke sejumlah negara tujuan, antara lain Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan.
Kinerja ekspor tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Juni, volume ekspor lada Babel telah mencapai 919,5 ton dengan nilai sekitar Rp148,9 miliar.
Jika dibandingkan dengan periode Januari hingga Juni 2025 yang mencatat ekspor sekitar 731,2 ton, volume ekspor pada periode yang sama tahun ini meningkat sekitar 188,3 ton atau 25,75 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan permintaan terhadap lada Babel masih memiliki ruang untuk terus dikembangkan. Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha untuk meningkatkan produksi dan memperluas jaringan pasar.
Kualitas dan Ketertelusuran Jadi Kunci
Di tengah peluang ekspor yang semakin besar, kualitas produk menjadi perhatian utama. Dian menilai pertumbuhan ekspor harus dibarengi dengan kemampuan mempertahankan standar produk.
Menurutnya, keberhasilan menembus pasar internasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyediakan volume dalam jumlah besar. Produk juga harus memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan negara tujuan.
“Tugas kita bersama adalah memastikan kualitas, standar, dan ketertelusurannya terpenuhi sehingga kepercayaan pasar terhadap lada Bangka semakin kuat,” ujarnya.
Ketertelusuran menjadi salah satu aspek penting dalam perdagangan komoditas ekspor. Sistem tersebut memberikan kepastian mengenai asal-usul produk serta proses yang dilalui sebelum komoditas sampai ke konsumen.
Bagi lada putih Babel, penerapan standar dan ketertelusuran secara konsisten dapat memperkuat kepercayaan pembeli internasional. Hal tersebut menjadi semakin penting seiring dengan upaya memperluas pasar melalui jaringan restoran internasional.
Dengan demikian, peningkatan volume ekspor perlu berjalan beriringan dengan penguatan kualitas, standardisasi, dan sistem pengawasan dari tingkat petani hingga produk siap diekspor.
Peluang untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani
Dengan jaringan pasar yang mencakup 1.200 restoran di 63 negara serta pertumbuhan ekspor sebesar 25,75 persen hingga Juni 2026, lada putih Babel memiliki peluang besar untuk memperluas penetrasi pasar global.
Namun, peluang tersebut membutuhkan dukungan dari seluruh rantai usaha. Di tingkat hulu, petani membutuhkan akses pembiayaan, pendampingan, peningkatan kapasitas produksi, serta jaminan kualitas. Sementara di tingkat hilir, pelaku usaha membutuhkan akses pasar dan kemampuan memenuhi standar ekspor.
Jika seluruh aspek tersebut dapat berjalan secara beriringan, peningkatan permintaan terhadap lada putih tidak hanya akan meningkatkan volume ekspor. Lebih jauh, kondisi itu diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah yang diterima petani dan pelaku UMKM.
Muntok White Pepper juga memiliki peluang untuk semakin memperkuat posisinya sebagai produk unggulan Bangka Belitung di pasar internasional. Identitas geografis, reputasi produk, serta pertumbuhan ekspor menjadi modal yang dapat terus dikembangkan.
Pemerintah juga diharapkan mampu memastikan peluang pasar global tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap masyarakat di daerah penghasil. Dengan penguatan dari sisi produksi, pembiayaan, kualitas, pemasaran, hingga ketertelusuran, lada Babel dapat memiliki daya saing yang semakin kuat.
Pertumbuhan ekspor hingga Juni 2026 menjadi momentum bagi sektor lada Babel untuk terus berkembang. Tantangannya kini adalah memastikan pertumbuhan tersebut berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Dengan dukungan pemerintah, petani, pelaku UMKM, serta jaringan pasar internasional, lada putih Babel berpeluang kembali menjadi salah satu komoditas perkebunan yang berperan penting dalam menggerakkan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Sumber : Belitong Ekspres, Editor : KBO Babel)











