Miris! Mentilin Terjebak di Tengah Karhutla Bangka Tengah, Habitatnya Kian Terancam

Karhutla Desa Terak Ancam Mentilin, Primata Endemik Sulit Selamatkan Diri

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA TENGAH) — Seekor mentilin (Tarsius bancanus), primata mungil endemik Bangka Belitung, terlihat bertahan hidup di tengah hamparan hutan yang menghitam akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Terak, Kabupaten Bangka Tengah. Pemandangan itu menjadi potret nyata ancaman serius yang kini dihadapi satwa liar akibat semakin seringnya kebakaran yang melanda kawasan hutan di Pulau Bangka. Rabu (9/9/2026)

Mentilin dengan mata besar khasnya tampak berpindah dari satu batang pohon yang hangus ke batang pohon lainnya untuk mencari tempat aman. Satwa nokturnal tersebut ditemukan saat tim gabungan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan upaya pemadaman karhutla pada Kamis, 3 September 2026.

banner 336x280

Ketua Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Foundation, Langka Sani, mengatakan kemunculan mentilin di lokasi kebakaran menjadi peringatan bahwa habitat satwa endemik di Bangka Belitung semakin terdesak.

“Mentilin sangat rentan menjadi korban kebakaran karena mereka tidak bisa berlari seperti manusia atau satwa lain. Mereka menghindari ancaman dengan cara melompat dari satu pohon ke pohon lainnya,” kata Sani, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, kemampuan melompat mentilin yang hanya mencapai sekitar tiga meter membuat satwa ini sulit menyelamatkan diri ketika api menjalar dengan cepat dan membakar vegetasi hutan dalam skala luas.

“Loncatan mereka tidak lebih dari tiga meter. Saat hutan terbakar hebat, peluang mereka untuk bertahan hidup menjadi sangat kecil. Mereka tidak memiliki kecepatan untuk melarikan diri,” ujarnya.

Mentilin merupakan salah satu satwa endemik yang dilindungi undang-undang dan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Primata ini berperan sebagai pengendali populasi serangga dan menjadi indikator kesehatan lingkungan hutan.

Namun, keberadaan mentilin kini menghadapi berbagai ancaman. Selain kebakaran hutan, alih fungsi lahan untuk perkebunan, aktivitas pertambangan, pembukaan kawasan, serta fragmentasi habitat terus mempersempit ruang hidup satwa tersebut.

Karhutla di Desa Terak menjadi contoh nyata bagaimana bencana ekologis tidak hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga mengancam keberlangsungan berbagai jenis flora dan fauna yang bergantung pada hutan.

Petugas gabungan bahkan harus melakukan pemadaman intensif hingga larut malam untuk mencegah api meluas ke area hutan lainnya. Kondisi cuaca kering yang melanda Bangka Belitung dalam beberapa pekan terakhir juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengingatkan bahwa sejumlah wilayah di Bangka Belitung memasuki periode rawan kekeringan yang berpotensi memicu karhutla.

Pemerhati lingkungan menilai upaya penanggulangan kebakaran harus dibarengi dengan langkah perlindungan habitat satwa. Rehabilitasi kawasan yang terbakar, pengawasan terhadap pembukaan lahan, serta pelestarian hutan yang tersisa menjadi kunci agar satwa endemik seperti mentilin tidak semakin terancam.

Kemunculan mentilin di tengah hutan yang hangus bukan sekadar kisah tentang satwa yang selamat dari kobaran api. Peristiwa ini menjadi alarm bahwa kerusakan hutan telah menyentuh titik yang mengancam kehidupan satwa liar dan keseimbangan ekosistem di Bangka Belitung. Jika kebakaran dan kerusakan habitat terus berulang, bukan tidak mungkin mentilin hanya akan menjadi cerita tentang satwa yang pernah hidup di hutan Bangka. (Sumber : wowbabel.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *