ISPA di Pangkalpinang Meroket, 750 Kasus Tercatat di Tengah Cuaca Kering dan Karhutla

Kasus ISPA Melonjak di Pangkalpinang, Jumlah Laporan Naik dari 179 Jadi 750 Kasus

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang tercatat dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) di Kota Pangkalpinang mengalami peningkatan tajam sepanjang 2026. Jum’at (4/9/2026)

Hingga minggu ke-32 tahun 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pangkalpinang mencatat sebanyak 750 kasus ISPA yang masuk dalam laporan SKDR. Angka tersebut melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 179 kasus.

banner 336x280

Meski terjadi peningkatan signifikan, Dinkes Kota Pangkalpinang mengingatkan bahwa angka 750 kasus tersebut tidak dapat langsung disimpulkan sebagai jumlah warga Pangkalpinang yang mengalami ISPA.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Pangkalpinang, Holipah, menjelaskan data SKDR mencakup seluruh pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan dari fasilitas kesehatan di Kota Pangkalpinang.

Artinya, terdapat kemungkinan pasien yang tercatat dalam sistem tersebut merupakan warga dari luar Kota Pangkalpinang yang datang untuk mendapatkan pengobatan.

“Namun data ini tidak serta-merta penduduk Kota Pangkalpinang. Ini ada penduduk di luar Kota Pangkalpinang yang berobat di sini, di Kota Pangkalpinang,” kata Holipah kepada Bangkapos.com, Jumat (4/9/2026).

Menurut Holipah, SKDR menjadi salah satu sumber data penting dalam memantau perkembangan penyakit di wilayah Pangkalpinang. Sistem tersebut menghimpun laporan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan yang menjadi unit pelapor.

Data tidak hanya berasal dari puskesmas, tetapi juga rumah sakit yang ikut memasukkan laporan kasus ke dalam sistem.

“Data kasus ini sebenarnya yang paling baiknya sebenarnya yang ada di SKDR. Kenapa di SKDR? SKDR ini kan mencakup seluruhnya, baik itu Puskesmas maupun Rumah Sakit,” ujarnya.

Jumlah Fasilitas Pelapor Bertambah

Salah satu faktor yang turut memengaruhi peningkatan angka kasus yang tercatat pada 2026 adalah bertambahnya jumlah fasilitas kesehatan yang aktif melaporkan kasus melalui SKDR.

Pada 2025, Dinkes Pangkalpinang memiliki 16 unit pelapor. Jumlah tersebut meningkat menjadi 24 unit pelapor pada 2026.

Penambahan delapan unit pelapor membuat cakupan data yang masuk ke dalam sistem menjadi lebih luas. Dengan semakin banyak fasilitas kesehatan yang melaporkan, kasus yang sebelumnya berpotensi tidak tercatat kini dapat masuk ke dalam pemantauan SKDR.

“Kalau dulu unit pelapor kita hanya 16 unit pelapor, sekarang 24 unit pelapor. Artinya semakin banyak yang melapor ke Pangkalpinang,” jelas Holipah.

Karena itu, peningkatan angka kasus yang tercatat perlu dilihat dengan mempertimbangkan perubahan cakupan pelaporan tersebut.

Dinkes tetap menjadikan data SKDR sebagai bahan pemantauan untuk melihat perkembangan penyakit dari waktu ke waktu, termasuk apakah peningkatan tersebut menunjukkan kondisi epidemiologis yang sebenarnya atau turut dipengaruhi oleh peningkatan cakupan pelaporan.

Cuaca Kering dan Asap Karhutla Jadi Perhatian

Selain faktor pelaporan, kondisi lingkungan juga menjadi perhatian Dinkes Pangkalpinang dalam melihat peningkatan kasus gangguan saluran pernapasan.

Holipah menyebut kondisi cuaca yang ekstrem dan cenderung kering dapat membuat debu lebih mudah beterbangan. Kondisi tersebut meningkatkan potensi masyarakat terpapar partikel yang dapat mengganggu saluran pernapasan.

Situasi tersebut dapat semakin buruk apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghasilkan asap dan menurunkan kualitas udara.

“Untuk kenaikan kasus ini ya, selain pengaruh cuaca, juga ada pengaruh juga dengan kebakaran hutan,” kata Holipah.

Menurutnya, asap akibat karhutla dapat memberikan dampak terhadap sistem pernapasan masyarakat. Paparan asap dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan gangguan seperti batuk, iritasi hingga sesak napas.

“Kalau karhutla, misalnya asap itu kan menyerang paru-paru. Kan nanti bisa menimbulkan sesak,” ujarnya.

Kondisi cuaca dan kualitas udara tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan masyarakat, terutama ketika aktivitas di luar ruangan berpotensi meningkatkan paparan debu maupun asap.

Kasus Mulai Menurun

Meski secara kumulatif angka kasus hingga minggu ke-32 2026 jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Dinkes Pangkalpinang melihat adanya perubahan tren dalam beberapa pekan setelahnya.

Angka 750 kasus menjadi titik tertinggi yang tercatat hingga minggu ke-32. Setelah mencapai angka tersebut, pemantauan mingguan menunjukkan jumlah kasus mulai mengalami kecenderungan penurunan.

Holipah mengatakan tren tersebut masih harus diamati dalam beberapa pekan berikutnya untuk memastikan apakah penurunan benar-benar berlanjut.

“Kalau minggu 1 sampai 32, tarikan 2025, tarikan yang sekarang juga minggu 1 sampai minggu ke-32. Kita ngambil puncak yang tertinggi, nih. Di minggu ke-32. Kalau empat minggu yang ke depannya ini udah agak turun, kan bisa dilihat trennya,” jelasnya.

Dinkes Pangkalpinang hingga kini masih melakukan pemantauan melalui laporan SKDR dari seluruh unit pelapor.

Pemantauan tersebut penting untuk mengetahui perkembangan kasus secara berkala sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah pencegahan dan pengendalian penyakit.

Di tengah meningkatnya kasus yang tercatat, masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi lingkungan dan kualitas udara, terutama saat cuaca kering maupun ketika terjadi paparan asap karhutla.

Dengan cakupan pelaporan yang semakin luas dan pemantauan yang dilakukan secara rutin, Dinkes Pangkalpinang akan terus melihat perkembangan kasus ISPA untuk memastikan apakah tren penurunan yang mulai terlihat dapat bertahan pada minggu-minggu berikutnya. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *