PJSBABEL.COM (BANGKA BELITUNG) – Perjuangan pembentukan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Bangka Utara ditegaskan tidak boleh berhenti pada slogan dan romantisme sejarah semata. Tahun 2026 diproyeksikan sebagai momentum akselerasi nyata, dengan langkah konkret berupa pembentukan tiga kecamatan persiapan sebagai fondasi awal pemekaran wilayah. Minggu (28/12/2025).
Penegasan tersebut mengemuka dalam silaturahmi akhir tahun yang digelar oleh perintis Forum Koordinasi Daerah Percepatan Pembentukan CDOB Bangka Utara (Forkoda PP CDOB Bangka Utara), Dr Ahmad Nahwani ST MT, yang akrab disapa Bang Iwan, bersama jajaran pengurus Forkoda Bangka Utara dan para tokoh Forum Unit Kinerja Sarjana Bangka Belitung (Fokus Babel).
Pertemuan yang berlangsung hangat namun sarat gagasan strategis itu digelar di Tin Gallery Pangkalpinang, Jumat (26–27/12/2025).
Sejumlah tokoh Fokus Babel hadir, di antaranya Ir M Natsir (Guru Natsir)*, *Zamhari SE MM, Rikky Fermana S.IP, Rudi S Panjaitan ST, dan Ahmad Ichwanda SE.
Dalam sambutannya, Bang Iwan menekankan bahwa perjuangan pemekaran Bangka Utara harus memasuki fase baru yang lebih terukur dan sistematis.
Menurutnya, keberhasilan pemekaran daerah tidak cukup hanya digerakkan oleh semangat, tetapi membutuhkan peta jalan yang jelas dan kerja kolektif lintas elemen.

“Perjuangan ini tidak boleh berhenti di tataran wacana dan simbolik. Tahun 2026 harus kita jadikan momentum akselerasi, dengan fokus utama pada pembentukan tiga kecamatan persiapan sebagai fondasi pemekaran Bangka Utara,” tegasnya.
Selain isu pemekaran wilayah, forum ini juga menyoroti rencana strategis pemerintah terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Kelasa, Bangka Belitung, yang digalang oleh PT Thorcon Power Indonesia.
PLTN tersebut direncanakan menggunakan teknologi Thorium Molten Salt Reactor (TMSR) yang bersifat modular dan dirakit di galangan kapal, dengan target operasi sekitar 2030–2031.
Bang Iwan memandang pembangunan PLTN sebagai bagian dari transisi energi nasional yang tak terelakkan, sekaligus peluang besar bagi Bangka Belitung untuk memperkuat ketahanan energi dan mendorong kesejahteraan masyarakat di tengah menurunnya ketergantungan pada energi fosil.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa dukungan publik hanya akan tumbuh jika prosesnya dilakukan secara transparan dan partisipatif.

“Kami mendukung pembangunan infrastruktur energi seperti PLTN, apalagi tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat. Tapi perusahaan yang mendapat mandat negara, seperti PT Thorcon, harus membuka ruang diskusi secara terbuka bagi masyarakat Babel—baik kritik maupun gagasan—agar tercapai solusi yang saling menguntungkan,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Guru Natsir, Ketua Umum Fokus Babel. Ia menilai sosialisasi PLTN tidak cukup hanya bersifat satu arah, tetapi harus melibatkan forum-forum masyarakat, akademisi, dan pakar lintas disiplin secara masif dan berkelanjutan.
Menurut Natsir, diskursus publik berbasis ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk meminimalkan potensi dampak negatif dan memastikan keberadaan PLTN benar-benar membawa manfaat jangka panjang bagi daerah.
“Kita harus mengumpulkan para ahli—nuklir, lingkungan hidup, sosial kemasyarakatan, kesehatan, kelistrikan, hingga teknologi—secara kontinyu dan konsisten. Hasil diskusi itu harus menjadi rekomendasi ilmiah yang bisa dijadikan kerangka acuan bagi pemerintah pusat dan PT Thorcon,” kata Natsir.

Di sisi lain, Natsir juga menegaskan komitmen Fokus Babel untuk terus mendukung perjuangan Forkoda Bangka Utara. Ia mengingatkan bahwa Fokus Babel memiliki rekam jejak historis dalam perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
“Fokus Babel selalu ada di awal dan di akhir perjuangan pembentukan Provinsi Bangka Belitung. Bahkan sebelum provinsi ini terbentuk, organisasi yang sudah menggunakan nama ‘Babel’ adalah Fokus Babel. Karena itu, kami mendukung penuh agar perjuangan Forkoda Bangka Utara benar-benar terwujud,” pungkasnya.
Meski dikemas dalam suasana santai dan kekeluargaan, silaturahmi ini mencerminkan kedewasaan berpikir para tokoh yang hadir. Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan besar—mulai dari pemekaran wilayah hingga transisi energi—yang menempatkan kepentingan masyarakat Bangka Belitung sebagai tujuan utama. (KBO Babel)










