Darmansyah Husein Desak Hilirisasi Kelapa dan Lada Jadi Prioritas di Babel

Lada Babel Mulai Tergeser Vietnam, Darmansyah Minta Pemerintah Turun Tangan

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (JAKARTA)– Senator Bangka Belitung sekaligus Anggota Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Darmansyah Husein, menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi sektor pertanian di Bangka Belitung, khususnya pada dua komoditas unggulan, yakni kelapa dan lada. Hal itu ia sampaikan dalam Rapat Kerja Komite II DPD RI bersama Kementerian Pertanian di Gedung DPD RI, Senayan, Jakarta, Senin (15/9/2025).

Menurut Darmansyah, hilirisasi menjadi kunci bagi Bangka Belitung untuk keluar dari ketergantungan pada sektor tambang, terutama timah, yang selama ini mendominasi ekonomi daerah. Ia menekankan bahwa pengembangan hilirisasi kelapa dan lada dapat memperkuat nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

banner 336x280

“Gubernur kami sudah mencanangkan hilirisasi kelapa sejak beberapa tahun lalu. Kebetulan Kementerian Pertanian juga punya program serupa, jadi ini momentum tepat untuk memperkuat sektor kelapa,” tegas Darmansyah.

Fokus pada Kelapa sebagai Komoditas Utama

Darmansyah menjelaskan, kelapa menjadi prioritas utama dalam hilirisasi karena memiliki potensi besar di Bangka Belitung. Dengan luas lahan yang tersedia, pengembangan kelapa dapat dilakukan secara terintegrasi mulai dari pembibitan, perkebunan, hingga industri pengolahan.

“Kami siap menyiapkan lahan pembibitan, dan akan koordinasi dengan para petani di sana. Langkah pertama adalah membangun perkebunan kelapa yang luas, bahkan bisa menjadi yang terbesar di Asia Tenggara,” ungkapnya.

Ia menyoroti pentingnya adanya pusat pembibitan kelapa, mengingat Bangka dan Belitung sebagai dua pulau besar memiliki peluang besar untuk mengembangkan perkebunan skala besar. Hal ini, menurutnya, dapat menjadi pondasi kuat bagi program hilirisasi yang berkesinambungan.

Namun, Darmansyah mengakui adanya tantangan besar, terutama terkait pengalihan lahan yang selama ini digunakan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI). Banyak masyarakat menolak keberadaan HTI, khususnya yang ditanami karet, sehingga perlu ada solusi yang lebih produktif.

“Sekarang banyak masyarakat menolak HTI. Kalau ini terus ditolak tanpa solusi, lahan yang luas ini bisa jadi malah dikeruk untuk tambang rakyat. Karena itu, saya pikir perlu dipertimbangkan apakah lahan HTI bisa dialihkan untuk perkebunan kelapa,” jelasnya.

Lada Bangka Belitung Terancam Tergusur

Selain kelapa, Darmansyah juga menekankan pentingnya menjaga kejayaan lada Bangka Belitung. Ia menyebut, sejak era kolonial Belanda, lada Babel dikenal berkualitas tinggi dan menjadi komoditas unggulan di pasar Eropa. Namun kini, posisinya mulai tergeser oleh Vietnam yang berhasil meningkatkan produksi dan memperkuat pasarnya.

“Lada Bangka Belitung sejak zaman Belanda sudah terkenal. Kualitasnya bagus, terutama untuk pasar Eropa. Tapi sekarang posisinya mulai digeser oleh Vietnam,” ujar Darmansyah.

Ia menyoroti bahwa salah satu penyebab melemahnya daya saing lada Babel adalah sulitnya akses petani terhadap pupuk bersubsidi. Saat ini, lada tidak termasuk dalam sembilan komoditas yang mendapatkan subsidi pupuk, padahal permintaan dari masyarakat sangat besar agar lada dimasukkan dalam daftar tersebut.

“Banyak permintaan dari masyarakat agar lada dimasukkan sebagai komoditas penerima subsidi pupuk. Apalagi sekarang lada juga sudah masuk dalam program hilirisasi,” tandasnya.

Hilirisasi sebagai Jalan Meningkatkan Ekonomi Daerah

Bagi Darmansyah, hilirisasi tidak sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari setiap komoditas. Ia mencontohkan, kelapa bisa diolah menjadi minyak, sabut kelapa, hingga produk turunan lain yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Sementara lada dapat dikembangkan dalam bentuk produk jadi yang memiliki daya saing di pasar global.

“Kalau kita hanya menjual bahan mentah, nilai tambahnya sangat kecil. Tapi kalau sudah diolah, itu akan jauh lebih menguntungkan petani sekaligus meningkatkan pendapatan daerah,” katanya.

Ia berharap pemerintah pusat dan daerah dapat bersinergi dalam memperkuat program hilirisasi ini. Menurutnya, tanpa dukungan kebijakan dari pemerintah pusat, terutama terkait alokasi lahan dan subsidi, upaya hilirisasi akan sulit berjalan maksimal.

“Sinergi pusat dan daerah sangat penting. Kalau program ini berjalan, kelapa dan lada bisa menjadi penggerak utama ekonomi Babel ke depan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sektor tambang,” pungkasnya.

Dorongan untuk Keberlanjutan

Selain aspek ekonomi, Darmansyah juga menilai bahwa hilirisasi kelapa dan lada dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk menjaga lingkungan di Bangka Belitung. Dengan banyaknya lahan yang terbengkalai akibat tambang rakyat, pengembangan perkebunan kelapa dan lada akan lebih ramah lingkungan serta memberikan kepastian bagi generasi mendatang.

“Kita ingin Babel tidak hanya dikenal sebagai daerah tambang, tapi juga sebagai lumbung pertanian kelapa dan lada yang berkelas dunia,” ucapnya.

Hilirisasi yang ia dorong, lanjut Darmansyah, juga dapat membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Dengan begitu, anak muda tidak lagi bergantung pada sektor tambang yang selama ini mendominasi pilihan pekerjaan.

“Kalau hilirisasi ini jalan, banyak lapangan kerja baru tercipta. Petani, pelaku usaha kecil, hingga industri besar bisa bergerak bersama. Ini peluang yang harus dimanfaatkan,” tambahnya.

Harapan Petani Babel

Pernyataan Darmansyah disambut positif oleh sejumlah petani di Bangka Belitung. Mereka menilai, selama ini kelapa dan lada memang menjadi komoditas penting, namun kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

“Kami petani sangat berharap ada program nyata. Kalau ada pembibitan kelapa dan subsidi pupuk untuk lada, itu akan sangat membantu,” kata seorang petani lada asal Bangka Tengah.

Dengan dorongan dari Senator Darmansyah Husein serta sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, hilirisasi kelapa dan lada diharapkan benar-benar dapat terealisasi. Program ini diyakini mampu menjadi pilar baru dalam pembangunan ekonomi Bangka Belitung, sekaligus memperkuat posisi daerah di pasar global. (Sumber : Sumsel Post, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *