Delapan Perusahaan AMDK Ungkap Asal Sumber Air, dari Gunung hingga Sumur Dalam

Rapat DPR Bahas Sumber Air AMDK: Aqua, Le Minerale hingga Cleo Beberkan Asal Airnya

Berita, Nasional290 Dilihat
banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Delapan perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia membeberkan asal sumber air yang mereka gunakan dalam produksi. Penjelasan tersebut disampaikan dalam rapat kerja (raker) Komisi VII DPR RI bersama Direktur Jenderal Industri Agro dan Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, yang digelar pada Senin (10/11/2025). Rabu (12/11/2025)

Kedelapan perusahaan yang hadir dalam rapat tersebut adalah PT Panfila Indosari (RON 88), PT Amidis Tirta Mulia (Amidis), PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale), PT Muawanah Al Ma’soem (Al Ma’soem), PT Super Wahana Tekno (Pristine), PT Tirta Investama (Aqua), PT Sariguna Primatirta Tbk (Cleo), dan PT Jaya Lestari Sejahtera (Le Yasmin).

banner 336x280

Rapat tersebut digelar untuk menjawab berbagai pertanyaan publik terkait asal sumber air yang digunakan perusahaan-perusahaan AMDK di Indonesia, di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat soal eksploitasi sumber daya air di daerah-daerah pegunungan dan kawasan resapan air.


1. PT Panfila Indosari (RON 88)

PT Panfila Indosari, produsen air kemasan merek RON 88, menyebut bahwa air yang digunakan berasal dari mata air pegunungan alami di kaki Gunung Mandalawangi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Factory Manager PT Panfila Indosari, Rita Bulna Dewi, menjelaskan bahwa sumber air tersebut muncul langsung dari celah batuan tanpa melalui proses pengeboran.

“Karena lokasi pabrik kami di kaki Gunung Mandalawangi, tepatnya di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Jadi sumber yang kami gunakan adalah mata air pegunungan yang keluar langsung melalui celah batuan tanpa pengeboran,” ujarnya, dikutip dari kanal YouTube Komisi VII DPR RI.

Rita menegaskan bahwa perusahaan telah memiliki izin resmi dan memastikan pengambilan air dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar.


2. PT Amidis Tirta Mulia (Amidis)

PT Amidis Tirta Mulia, produsen air bermerek Amidis, menggunakan teknologi demineralisasi dalam proses produksinya. Produk ini bukan air mineral, melainkan air hasil distilasi atau penyulingan yang menghilangkan seluruh kandungan mineral.

Perwakilan PT Amidis, Oky Setiawan, menjelaskan bahwa sumber air yang digunakan berasal dari air sumur dalam tanah.

“Sumber air kita, sumber dalam, dari bawah tanah,” kata Oky.

Amidis dikenal sebagai salah satu produk air minum hasil proses teknologi tinggi, yang menonjolkan kemurnian air dibandingkan kandungan mineralnya.


3. PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale)

Perusahaan PT Tirta Fresindo Jaya, produsen air mineral kemasan Le Minerale, memiliki sembilan pabrik di berbagai wilayah Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan, dengan ekspansi ke Jawa Tengah dan Sumatera Utara.

Direktur External Affairs dan Regulatory PT Tirta Fresindo Jaya, Johan Muliawan, menyebutkan bahwa perusahaan menggunakan air tanah dalam dengan kedalaman antara 80 hingga 120 meter.

“Jadi sumber air kami dari air tanah yang dalam, di bawah 80 sampai 120 meter. Kami sebelum izin-izin sudah membuat feasibility study bersama perguruan tinggi untuk menentukan lokasi akuifer dalam yang layak,” jelas Johan.

Namun dalam keterangan terpisah, Johan menegaskan bahwa Le Minerale bersumber dari air pegunungan terpilih, bukan air tanah biasa.

“Saya menegaskan bahwa Le Minerale bersumber dari air pegunungan. Yang terbaik adalah dari dalam gunung,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).

Ia menambahkan bahwa setiap tetes Le Minerale berasal dari pegunungan vulkanik kaya mineral seperti Gunung Salak, Gunung Pangrango, Gunung Mandalawangi, Gunung Gede, dan Gunung Bromo.

“Sumber air kami berasal dari pegunungan vulkanik terpilih yang kaya mineral di berbagai wilayah Indonesia,” ungkap Johan.


4. PT Muawanah Al Ma’soem (Al Ma’soem)

PT Muawanah Al Ma’soem, berbasis di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memproduksi air minum kemasan merek Al Ma’soem, Quazam, dan Asri.

Perwakilan perusahaan, Evan Agustianto, mengatakan pabriknya berlokasi sekitar 6 kilometer dari kaki Gunung Manglayang, di kawasan Cileunyi.

“Domisili kita ada di bawah kaki Gunung Manglayang, kurang lebih 6 kilometer di daerah Cileunyi,” ujarnya.

Sumber air yang digunakan berasal dari mata air pegunungan yang dikelola bersama Perhutani, untuk memastikan keberlanjutan dan konservasi sumber daya air.


5. PT Super Wahana Tekno (Pristine)

PT Super Wahana Tekno, produsen air pH tinggi merek Pristine, mengambil sumber air dari mata air Gunung Pangrango, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Perwakilan perusahaan, Edwin, menjelaskan bahwa perusahaan memiliki kerja sama dengan beberapa pabrik maklon di Jawa Barat dan Jawa Timur untuk mendukung produksi.

“Mata airnya, kita menggunakan mata air dari Gunung Pangrango,” katanya.

Air Pristine dikenal memiliki kadar pH tinggi yang diklaim bermanfaat bagi keseimbangan tubuh dan kesehatan metabolik.


6. PT Tirta Investama (Aqua)

Sebagai salah satu produsen AMDK terbesar di Indonesia, PT Tirta Investama dengan merek Aqua memiliki 20 pabrik di seluruh Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Sulawesi hingga Bali.

Direktur Komunikasi Korporat Aqua, Vera Galuh Sugijanto, menjelaskan bahwa setiap lokasi pabrik diawali dengan studi hidrogeologi dan isotop bersama perguruan tinggi seperti UGM dan Unpad, untuk memastikan air berasal dari sumber alami pegunungan.

“Sumber air kami adalah sumber air pegunungan sesuai studi hidrogeologi tersebut,” jelas Vera.

Ia menambahkan bahwa proses pengeboran dilakukan untuk mencapai akuifer terlindungi secara alami di kedalaman tertentu, bukan sekadar air tanah biasa.

“Pengeboran yang dilakukan kedalamannya sesuai dengan kondisi akuifer dan izin dari Kementerian ESDM,” ujarnya.

Aqua memastikan bahwa setiap titik sumber air dijaga ketat kelestariannya agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan di sekitar area pengambilan.


7. PT Sariguna Primatirta Tbk (Cleo)

PT Sariguna Primatirta Tbk, produsen air kemasan Cleo, menggunakan air bawah tanah dalam sebagai sumber utama bahan bakunya.

Perwakilan perusahaan, Zaka, menyebut Cleo memiliki 32 pabrik di seluruh Indonesia, yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Kami menggunakan bahan baku dari air bawah tanah dalam. Pabrik kami tersebar di berbagai wilayah Indonesia,” katanya.

Produk Cleo dikenal sebagai air demineral dengan teknologi filtrasi canggih untuk menghasilkan air murni tanpa kandungan mineral berlebih.


8. PT Jaya Lestari Sejahtera (Le Yasmin)

Perusahaan PT Jaya Lestari Sejahtera, produsen air minum merek Le Yasmin, berbasis di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Perwakilan perusahaan, Dwi Suhadi, menyampaikan bahwa sumber air baku Le Yasmin berasal dari sumur dalam dengan kedalaman 100–120 meter, dengan empat izin SIPA resmi dari pemerintah.

“Sumber air baku kami menggunakan sumber air tanah, sumur dalam. Kami memiliki empat izin SIPA yang rata-rata kedalamannya sekitar 100–120 meter,” ujar Dwi.

Le Yasmin merupakan salah satu merek air kemasan lokal yang berkembang pesat di wilayah Bogor dan sekitarnya.


Komitmen Pemerintah Awasi Sumber Air

Rapat Komisi VII DPR RI ini juga menyoroti pentingnya transparansi dan keberlanjutan pengelolaan sumber daya air oleh industri AMDK. Pemerintah menekankan agar setiap perusahaan memastikan izin eksploitasi air, analisis dampak lingkungan (AMDAL), dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat sekitar dijalankan sesuai ketentuan.

Kementerian Perindustrian melalui BSKJI menegaskan bahwa setiap izin pengambilan air harus diaudit secara berkala, terutama di kawasan pegunungan dan daerah resapan. “Kami ingin memastikan bahwa industri AMDK tidak merusak ekosistem air dan tetap memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar perwakilan BSKJI dalam rapat tersebut.

Dengan pengungkapan ini, publik kini bisa mengetahui lebih jelas asal sumber air yang digunakan oleh delapan produsen AMDK besar di Indonesia, mulai dari mata air pegunungan vulkanik hingga sumur dalam berizin, yang semuanya diklaim telah memenuhi standar keamanan dan kelestarian lingkungan. (Sumber : detikHealth, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *