KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Jalur penyeberangan laut yang menghubungkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung melalui Pelabuhan Sadai, Kabupaten Bangka Selatan, untuk sementara dihentikan. Keputusan tersebut diambil setelah kondisi fondasi dermaga dinilai mengalami kerusakan serius sehingga tidak lagi memenuhi standar keselamatan untuk melayani operasional kapal penyeberangan. Selasa (21/7/2026)
Sebagai solusi agar konektivitas antarpulau tetap terjaga, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bangka memutuskan mengalihkan sementara layanan penyeberangan ke Pelabuhan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang. Targetnya, layanan reguler Bangka–Belitung dari pelabuhan tersebut mulai beroperasi paling lambat pada awal Agustus 2026.
Kebijakan tersebut disampaikan dalam audiensi antara DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Asosiasi Sopir Lintas Bangka Belitung, dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bangka yang berlangsung di Ruang Kerja Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (20/7/2026).
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bangka, Agustinus Cahyo Upandika, mengatakan penghentian operasional di Pelabuhan Sadai dilakukan semata-mata untuk menjamin keselamatan masyarakat dan pengguna jasa transportasi laut.
Menurutnya, hasil evaluasi menunjukkan struktur fondasi dermaga mengalami kerusakan yang cukup berat sehingga tidak memungkinkan lagi digunakan untuk aktivitas bongkar muat maupun penyeberangan kapal.
“Target kami paling lambat awal Agustus layanan penyeberangan reguler dari Pangkalbalam menuju Belitung sudah dapat beroperasi,” ujar Cahyo usai mengikuti audiensi.
Ia menjelaskan, hingga saat ini proses pengalihan operasional masih berada pada tahap penyelesaian administrasi serta berbagai persiapan teknis. Seluruh aspek operasional harus dipastikan siap agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lancar tanpa mengurangi faktor keselamatan.
Menurut Cahyo, pemindahan sementara ke Pelabuhan Pangkalbalam menjadi pilihan paling realistis sambil menunggu proses rehabilitasi Pelabuhan Sadai diselesaikan.
“Kalau perbaikan belum rampung. Sambil diperbaiki, kita mencari alternatif agar pelayanan penyeberangan ke Belitung tetap berjalan. Karena itu sementara dipindahkan ke Pangkalbalam,” katanya.
Ia mengungkapkan, kerusakan utama terjadi pada bagian fondasi dermaga yang berfungsi sebagai penopang utama konstruksi. Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko apabila tetap dipaksakan melayani kapal ferry yang memiliki beban cukup besar.
Apabila operasional tetap dilakukan tanpa perbaikan, dikhawatirkan struktur dermaga dapat mengalami keruntuhan yang berpotensi membahayakan keselamatan penumpang, awak kapal, kendaraan, hingga petugas pelabuhan.
Karena itu, ASDP memilih menghentikan sementara aktivitas di Pelabuhan Sadai hingga seluruh proses perbaikan selesai dilakukan dan dinyatakan layak digunakan kembali oleh pemerintah.
Untuk jangka panjang, Cahyo memastikan Pelabuhan Sadai tetap akan menjadi salah satu pelabuhan penyeberangan utama Bangka Belitung setelah proses rehabilitasi selesai.
“Kalau Sadai sudah selesai diperbaiki dan dinyatakan aman, tentu kami akan kembali beroperasi di sana. Kami mengikuti arahan dari Pemerintah Provinsi terkait kelayakan fasilitas tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Didit Sri Gusjaya, menyampaikan bahwa penghentian sementara operasional di Pelabuhan Sadai merupakan langkah yang harus diambil demi menghindari risiko kecelakaan.
Menurutnya, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dibanding memaksakan operasional di fasilitas yang kondisinya sudah tidak layak.
“Alhamdulillah, hal ini sudah ada solusi. Untuk sementara aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Sadai dipindahkan ke Pelabuhan Pangkalbalam oleh rekan-rekan ASDP. Mereka menargetkan paling lambat awal Agustus 2026 rute ini sudah berjalan kembali,” kata Didit.
Ia menilai langkah cepat ASDP dalam menyiapkan pelabuhan alternatif patut diapresiasi karena dapat menjaga kelancaran mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung.
Jalur penyeberangan tersebut selama ini memiliki peran strategis sebagai penghubung transportasi kendaraan pribadi, angkutan barang, kendaraan logistik, hingga kebutuhan masyarakat yang melakukan perjalanan antarpulau.
Didit mengakui masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang harus segera diselesaikan sebelum layanan dipindahkan sepenuhnya ke Pelabuhan Pangkalbalam.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penyesuaian tarif kepelabuhanan dan biaya pelayanan yang melibatkan PT Pelindo sebagai pengelola pelabuhan.
Menurutnya, pembahasan tarif harus dilakukan secara cermat agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun beban tambahan bagi masyarakat pengguna jasa.
“Dengan catatan, besok pagi insya Allah GM ASDP akan berkoordinasi dengan GM Pelindo menyangkut tarif. Ini penting dilakukan supaya tidak ada permasalahan hukum di kemudian hari,” tegasnya.
Audiensi tersebut juga dihadiri perwakilan Asosiasi Sopir Lintas Bangka Belitung yang selama ini menjadi pengguna utama layanan penyeberangan. Para sopir berharap proses pengalihan operasional dapat segera direalisasikan sehingga aktivitas distribusi barang antarpulau tidak terganggu terlalu lama.
Keberlangsungan jalur penyeberangan Bangka–Belitung dinilai sangat penting bagi perekonomian daerah. Selain menjadi jalur transportasi masyarakat, lintasan tersebut juga menjadi urat nadi distribusi berbagai kebutuhan pokok, hasil pertanian, produk UMKM, material bangunan, hingga komoditas perdagangan lainnya.
Dengan dipindahkannya sementara operasional ke Pelabuhan Pangkalbalam, diharapkan arus logistik tetap berjalan normal sehingga tidak menimbulkan kelangkaan barang maupun lonjakan biaya distribusi.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama DPRD, PT ASDP Indonesia Ferry, PT Pelindo, dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat penyelesaian seluruh aspek administrasi maupun teknis agar layanan penyeberangan reguler dapat kembali beroperasi pada awal Agustus 2026.
Sementara itu, proses rehabilitasi Dermaga Sadai akan terus dipantau hingga seluruh struktur dinyatakan aman dan memenuhi standar keselamatan. Setelah pekerjaan selesai, Pelabuhan Sadai direncanakan kembali difungsikan sebagai salah satu simpul utama transportasi laut yang menghubungkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung secara aman, nyaman, dan berkelanjutan. (Ahmad Hadira Sandi/KBO Babel)
















