Ekspor Timah Babel Merosot Tajam, Total Nilai Perdagangan Turun 43 Persen pada Oktober 2025

Krisis Ekspor Timah Babel Semakin Dalam, Sektor Nontimah Jadi Penyangga Ekonomi

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Kinerja ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kembali mendapat sorotan tajam setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru terkait perdagangan luar negeri daerah tersebut untuk periode Oktober 2025. Data tersebut menunjukkan penurunan drastis pada komoditas utama ekspor Babel, yakni timah, yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi daerah kepulauan tersebut. Selasa (2/12/2025)

Berdasarkan laporan resmi BPS, nilai ekspor timah Babel pada Oktober 2025 hanya mencapai USD 78,20 juta, merosot sangat tajam hingga 54,17 persen secara year-on-year (y-on-y). Penurunan signifikan ini disebut sebagai salah satu yang terdalam dalam beberapa tahun terakhir dan memberikan dampak langsung terhadap keseluruhan kinerja ekspor provinsi ini.

banner 336x280

Kepala BPS Babel, Toto Haryanto Silitonga, membenarkan penurunan tersebut dalam konferensi pers, Senin (1/12/2025). Ia menyebut kontraksi pada komoditas timah terjadi bukan hanya dari sisi nilai, tetapi juga secara volume.

“Untuk komoditas timah, pada bulan Oktober 2025, nilai ekspornya sebesar USD 78,20 juta. Dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu (y-on-y), terkontraksi sebesar 54,17 persen,” kata Toto.

Menurut Toto, penurunan nilai ekspor ini juga selaras dengan anjloknya volume timah olahan yang diekspor Indonesia — yang sebagian besar berasal dari Babel — mencapai 59,78 persen, atau hanya 2.643,05 metrik ton sepanjang bulan tersebut. Data ini menandakan adanya tekanan besar terhadap komoditas yang selama ini menjadi nadi perdagangan luar negeri Babel.

Total Nilai Ekspor Turun 43,47 Persen

Merosotnya ekspor timah memberikan pengaruh langsung terhadap total nilai ekspor Provinsi Bangka Belitung. BPS mencatat total ekspor Babel pada Oktober 2025 hanya mencapai USD 113,78 juta, atau turun 43,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini menunjukkan betapa dominannya kontribusi timah terhadap performa perdagangan internasional Babel. Ketika ekspor timah terganggu, maka total ekspor provinsi pun ikut anjlok secara drastis.

“Komoditas timah sangat mempengaruhi struktur ekspor Babel. Ketika timah mengalami penurunan, total ekspor ikut terseret,” ujar Toto.

Meskipun demikian, tidak semua data menunjukkan tren penurunan. Secara akumulasi atau cumulative-to-cumulative (c-to-c), yakni periode Januari hingga Oktober 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, total nilai ekspor Babel masih mencatat kenaikan sebesar 16,41 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa performa ekspor pada bulan-bulan sebelumnya cukup kuat untuk menahan lonjakan penurunan di Oktober.

Negara Tujuan Ekspor Masih Didominasi Asia

BPS mencatat bahwa ekspor timah dari Bangka Belitung masih didominasi oleh negara-negara kawasan Asia. Singapura tercatat menjadi negara tujuan utama ekspor timah Babel, disusul negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Malaysia, dan India. Hal ini menegaskan posisi strategis negara-negara Asia sebagai pasar utama timah olahan Indonesia.

Namun meski demand dari luar negeri masih ada, tekanan terhadap harga global, regulasi ekspor, serta dinamika pasar internasional disebut sebagai faktor yang ikut mendorong penurunan ekspor timah Babel pada Oktober 2025.

Sektor Nontimah Menjadi Penopang Stabilitas

Di tengah keterpurukan timah, sektor ekspor nontimah justru menunjukkan kinerja yang lebih stabil. Bahkan, beberapa komoditas mencatatkan kontribusi signifikan dalam menopang total ekspor Babel.

Komoditas lemak dan minyak hewan/nabati (termasuk CPO) menjadi yang terbesar dalam ekspor nontimah. Secara kumulatif, periode Januari–Oktober 2025, nilai ekspornya mencapai USD 181,75 juta, berkontribusi 57,54 persen dari total nilai ekspor nontimah.

Selain itu, komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah menjadi penyumbang terbesar kedua dengan nilai USD 36,48 juta atau 11,55 persen. Kemudian disusul komoditas ikan dan udang yang tercatat memiliki nilai ekspor sebesar USD 30,32 juta atau 9,60 persen.

“Komoditas ekspor nontimah terbesar keempat dan kelima adalah karet dan barang dari karet serta bahan bakar dan mineral dengan nilai sebesar USD 19,94 juta dan USD 16,33 juta,” jelas Toto.

Tantangan Ekonomi Babel Semakin Kompleks

Anjloknya ekspor timah di Oktober 2025 menjadi alarm serius bagi perekonomian Bangka Belitung yang selama puluhan tahun bergantung pada komoditas logam tersebut. Fluktuasi pasar global, perubahan regulasi industri, hingga dinamika geopolitik dinilai menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi performa ekspor timah Babel.

Dari sisi internal, berbagai persoalan tata kelola pertimahan, perizinan, supply chain, hingga keberlanjutan produksi juga disebut menjadi tantangan yang harus segera ditangani oleh pemerintah daerah dan pusat.

Penurunan tajam ekspor timah juga bisa berdampak pada sejumlah sektor lain, termasuk industri pengolahan, pendapatan daerah, dan kesempatan kerja.

Harapan Pemulihan di Akhir Tahun

Meski data Oktober menunjukkan kontraksi tajam, pemerintah dan pelaku industri berharap kondisi ekspor bisa membaik pada November dan Desember. Beberapa faktor seperti kenaikan harga timah global, perbaikan produksi, serta penurunan hambatan ekspor diharapkan dapat mendorong kinerja perdagangan Babel.

Namun demikian, BPS mengingatkan bahwa keberlanjutan ekspor Babel tetap sangat bergantung pada diversifikasi komoditas dan penguatan sektor nontimah.

Dengan kondisi saat ini, Babel dituntut untuk tidak lagi hanya mengandalkan timah sebagai tulang punggung ekonomi. Sektor nontimah yang mulai menunjukkan kinerja baik dinilai harus terus diperkuat agar ekonomi daerah tidak terlalu sensitif terhadap guncangan pada satu komoditas saja. (Sumber : wowbabel, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *