KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) — Kepolisian Sektor (Polsek) Mentok akhirnya meluruskan isu penculikan anak yang sempat membuat warga resah selama dua hari terakhir. Melalui proses mediasi dan klarifikasi resmi, dipastikan bahwa kabar tersebut bukan aksi penculikan, melainkan ulah iseng seorang penjual sayur yang berniat melakukan prank. Peristiwa ini mengundang keprihatinan aparat penegak hukum dan masyarakat, mengingat isu penculikan anak sangat sensitif dan dapat memicu kepanikan publik. Kamis (20/11/2025)
Kapolsek Mentok, Iptu Rusdi Yunial, menjelaskan bahwa video dan tangkapan layar status WhatsApp yang viral di masyarakat Mentok, Rabu (19/11/2025), memunculkan informasi adanya percobaan penculikan terhadap seorang siswa SD Negeri 10 Mentok. Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengumpulan data, polisi memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan, mediasi, dan klarifikasi terkait video viral tentang isu penculikan anak. Pelaku mengakui perbuatannya dan menyampaikan bahwa niatnya hanya ngeprank. Ia sudah memohon maaf kepada publik,” tegas Kapolsek Rusdi.
Kronologis Kejadian
Insiden terjadi pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 11.00 WIB di Simpang Pemda Pal 4 Daya Baru, Dusun III Desa Air Belo, Mentok. Saat itu, pelaku bernama M. Reza Ardiansyah (17), pedagang sayur asal Balunijuk, bersama dua rekannya menggunakan mobil pick-up hitam dari arah Pasar Mentok. Mereka berhenti di warung sayur milik seorang warga bernama Tina.
Ketika berada di lokasi, Reza bertemu dengan seorang anak berinisial MI (7), siswa kelas 1 SDN 10 Mentok, yang sedang berjalan kaki pulang dari sekolah. Pelaku kemudian melontarkan pertanyaan iseng kepada sang anak.
“Pelaku menanyakan kepada MI, ‘Dek, di mane ade jual kepala budak?’ Setelah mendengar kalimat itu, MI langsung ketakutan dan berjalan cepat meninggalkan lokasi,” jelas Kapolsek.
Tak lama setelah kejadian, sejumlah tangkapan layar status WhatsApp dan video berseliweran di masyarakat yang menyebutkan telah terjadi upaya penculikan anak. Informasi itu menyebar cepat dan mengakibatkan kepanikan di kalangan orang tua serta warga Mentok.
Langkah Cepat Polisi
Menindaklanjuti laporan tersebut, Unit Res Intel Polsek Mentok bekerja sama dengan Unit 4 Sat Intelkam Polres Bangka Barat dan Bhabinkamtibmas Desa Air Belo langsung melakukan penyelidikan lapangan, memeriksa saksi-saksi, dan mengumpulkan bukti.
Dari hasil penyelidikan, polisi memperoleh informasi bahwa dugaan pelaku penculikan ternyata adalah pedagang sayur yang biasa berjualan di wilayah Mentok. Berdasarkan keterangan saksi dan korban, polisi kemudian memanggil pelaku untuk dimintai klarifikasi.
“Setelah kami lakukan pulbaket, teridentifikasi bahwa pelaku adalah penjual sayur dari Desa Balunijuk. Ia mengaku kalimat itu hanya candaan yang tidak disengaja menimbulkan ketakutan,” ujar Rusdi.
Mediasi dan Permintaan Maaf
Polsek Mentok kemudian menggelar proses mediasi antara pelaku, korban MI yang didampingi orang tua, dan pihak SDN 10 Mentok. Dalam mediasi, pelaku mengakui kesalahan dan meminta maaf secara langsung kepada keluarga korban dan masyarakat Mentok.
“Kedua belah pihak sepakat berdamai dan tidak melanjutkan proses ini ke jalur hukum. Pelaku juga bersedia membuat video klarifikasi untuk meminta maaf kepada masyarakat,” ungkap Kapolsek.
Polisi menegaskan bahwa meski kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan, kejadian seperti ini tidak boleh terulang. Menurut Rusdi, tindakan sembrono yang berkaitan dengan isu penculikan dapat mengganggu stabilitas keamanan dan menciptakan situasi tidak kondusif.
Pesan Kepolisian untuk Warga
Kapolsek Rusdi Yunial mengimbau masyarakat agar berhati-hati dalam menyebarkan informasi di media sosial, terutama terkait isu sensitif. Ia menekankan bahwa kepolisian tidak akan mentolerir prank atau tindakan lain yang dapat memicu keresahan publik.
“Kami berharap tidak ada lagi yang membuat gaduh dan menimbulkan ketakutan di masyarakat. Jika menemukan hal serupa, silakan langsung hubungi kami atau kantor polisi terdekat, bukan diviralkan melalui media sosial,” tegasnya.
Ia juga meminta para orang tua untuk tetap mengawasi anak-anak dan segera melapor bila menemukan aktivitas mencurigakan, agar penanganan bisa dilakukan cepat dan tepat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa candaan yang tidak pada tempatnya dapat berdampak luas, apalagi jika menyangkut keselamatan anak. Polisi memastikan akan meningkatkan patroli serta penyuluhan kepada masyarakat untuk mencegah munculnya informasi hoaks maupun prank yang membahayakan.
Dengan selesainya proses mediasi, diharapkan suasana di Mentok kembali kondusif, dan masyarakat lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta lebih waspada terhadap potensi gangguan keamanan. (Sumber : Bangkapos, Editor : KBO Babel)














