
KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Inovasi ramah lingkungan lahir dari balik tembok Lapas Kelas IIA Pangkalpinang. Para warga binaan berhasil mengolah limbah pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3 Bangka menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi yang siap dimanfaatkan untuk sektor pertanian. Kamis (19/2/2026)
Program pembinaan produktif ini tidak hanya memberikan keterampilan baru bagi warga binaan, tetapi juga menghadirkan solusi pengelolaan limbah industri yang berkelanjutan. Ampas batu bara yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini diubah menjadi nutrisi tanah yang bermanfaat.

Kepala Lapas Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, mengungkapkan kebanggaannya atas capaian tersebut. Ia menilai keberhasilan ini merupakan buah dari ketekunan para warga binaan sejak program pelatihan dimulai pada 2025.
“Kami berupaya mewujudkan pemanfaatan sumber daya yang ada di lapas dengan dukungan berbagai pihak,” ujar Sugeng, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian penting dari pembinaan kemandirian warga binaan. Melalui pelatihan pengolahan kompos, mereka tidak hanya memperoleh keterampilan kerja, tetapi juga memiliki bekal untuk kembali ke masyarakat dengan kemampuan produktif.
Komitmen tersebut dibuktikan dengan pengiriman perdana sebanyak enam ton pupuk kompos ke kelompok tani di Bangka Tengah. Pengiriman ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa produk hasil pembinaan lapas mampu bersaing dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sugeng menegaskan bahwa program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan berkembang. Selain meningkatkan kemandirian warga binaan, kegiatan produktif semacam ini juga diyakini dapat menekan angka pengulangan tindak pidana setelah mereka bebas.
“Kami berharap dukungan semua pihak agar program pembinaan di lapas berkelanjutan, mendorong kemandirian, serta mencegah pengulangan tindak pidana bagi warga binaan,” katanya.
Program pengolahan limbah batu bara menjadi kompos ini merupakan hasil kolaborasi antara Lapas Pangkalpinang dengan UMKM Green Soil Bangka Tengah serta PT PLN Nusantara Power Services Unit PLTU 3 Bangka sebagai penyedia bahan baku.
Pelaksana tugas Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung, Gunawan Sutrisnadi, menilai inovasi tersebut sejalan dengan program akselerasi yang dicanangkan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.
Menurut Gunawan, pengiriman kompos ke kelompok tani menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Pengiriman perdana enam ton kompos karya warga binaan Lapas Pangkalpinang ini menjadi kebanggaan Pemasyarakatan Bangka Belitung dan diharapkan terus meningkat serta menginspirasi inovasi di lapas lain,” ujarnya.
Ia optimistis program pembinaan produktif tersebut dapat berkelanjutan apabila didukung peningkatan kapasitas produksi, perluasan pemasaran, serta pelatihan berkelanjutan bagi warga binaan. Sinergi dengan berbagai pihak juga dinilai penting agar produk kompos dapat dipasarkan lebih luas.
Sementara itu, Manager Unit PLTU 3 Bangka, I Gusti Ngurah Putra Astawa, menjelaskan bahwa limbah sisa pembakaran batu bara berupa fly ash dan bottom ash sebenarnya memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan.
Menurutnya, fly ash mengandung unsur hara makro yang setara dengan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium (NPK), serta silika yang bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah. Kandungan tersebut dinilai sangat cocok untuk kondisi tanah di Bangka Belitung yang cenderung asam dan miskin unsur hara.
“Kandungan silika dalam fly ash dapat membantu menetralisir kondisi tanah sehingga lebih subur untuk pertanian,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi kerja sama dengan Lapas Pangkalpinang karena tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah industri, tetapi juga memberikan pelatihan keterampilan bagi warga binaan.
“Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut karena memberikan manfaat ganda, baik bagi lingkungan maupun pemberdayaan masyarakat,” tambah Putra Astawa.
Program ini dinilai sebagai contoh nyata ekonomi sirkular, di mana limbah industri dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomi. Selain mengurangi potensi pencemaran lingkungan, kegiatan ini juga membuka peluang usaha baru di bidang pertanian organik.
Ke depan, pihak lapas berencana meningkatkan volume produksi kompos serta memperluas jaringan pemasaran ke berbagai daerah di Bangka Belitung. Tidak menutup kemungkinan produk tersebut juga akan dipasarkan secara komersial untuk mendukung pembiayaan program pembinaan.
Dengan keberhasilan ini, Lapas Pangkalpinang menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan dapat menjadi pusat inovasi sosial dan lingkungan. Dari balik tembok penjara, lahir solusi nyata yang tidak hanya mengubah limbah menjadi berkah, tetapi juga membuka harapan baru bagi warga binaan untuk masa depan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat. (Sumber : MetroTV News, Editor : KBO Babel)








