KBOBABEL.COM (BANGKA TENGAH) – Puluhan truk tangki pengangkut Crude Palm Oil (CPO) sempat dihentikan warga di pinggir jalan Desa Lampur, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (5/3/2026). Penghentian tersebut dilakukan warga setelah muncul dugaan insiden kecelakaan lalu lintas yang melibatkan salah satu truk CPO dengan sepeda motor milik warga setempat. Jumat (6/3/2026)
Peristiwa itu membuat deretan panjang truk tangki terparkir di sepanjang jalan desa sejak pagi hari. Kendaraan-kendaraan berukuran besar berwarna kuning bergaris biru tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan karena warga meminta seluruh sopir berhenti sementara hingga sopir yang diduga terlibat dalam insiden ditemukan.
Salah seorang sopir truk CPO yang ikut tertahan mengatakan, mereka diberhentikan warga sekitar pukul 08.00 WIB saat melintas dari arah Simpang Rimba menuju Pangkalpinang. Para sopir memilih mengikuti permintaan warga agar situasi tetap kondusif.
“Kami dari arah Simpang Rimba mau ke Pangkalpinang. Biasanya memang lewat jalan ini, tapi tadi diberhentikan oleh masyarakat sekitar jam delapan pagi. Kami ikut saja karena tidak tahu juga masalahnya,” ujar sopir tersebut.
Ia menjelaskan, warga menghentikan semua truk yang melintas karena sedang mencari sopir yang diduga menyenggol sepeda motor milik salah satu warga. Menurut informasi yang beredar di lokasi, setelah kejadian tersebut truk yang diduga terlibat tidak berhenti sehingga memicu kemarahan warga.
“Masyarakat bilang ada truk CPO yang menyenggol motor warga, tapi truknya tidak berhenti. Karena tidak tahu truk yang mana, akhirnya semua truk yang lewat diminta berhenti dulu,” katanya.
Para sopir yang tidak mengetahui pasti kejadian tersebut hanya bisa menunggu di lokasi sambil berharap persoalan segera diselesaikan. Selama beberapa jam, puluhan truk terlihat berjajar di pinggir jalan sehingga menarik perhatian warga sekitar dan pengguna jalan lainnya.
Sekretaris Desa (Sekdes) Lampur, Zumar, membenarkan adanya penghentian aktivitas truk CPO oleh warga. Menurutnya, tindakan warga dilakukan karena ingin memastikan sopir yang diduga terlibat dalam kecelakaan tersebut bertanggung jawab.
“Iya benar, warga sempat menghentikan truk-truk CPO yang lewat. Mereka hanya ingin mencari sopir yang diduga menyenggol motor warga agar ada pertanggungjawaban,” kata Zumar saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, insiden yang memicu penghentian truk tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WIB. Saat itu seorang pengendara motor diduga tersenggol oleh salah satu truk yang melintas di kawasan Desa Lampur.
Namun karena tidak ada sopir yang langsung mengakui terlibat dalam kejadian tersebut, warga kemudian berinisiatif menghentikan seluruh truk CPO yang melintas di jalur tersebut.
“Karena tidak tahu truk yang mana, masyarakat akhirnya menahan semua truk yang lewat untuk menanyakan kepada para sopir siapa yang merasa menyenggol,” jelasnya.
Situasi sempat membuat aktivitas lalu lintas di kawasan tersebut melambat, namun tidak sampai menimbulkan kemacetan panjang karena kendaraan masih bisa melintas secara bergantian.
Zumar mengatakan, setelah dilakukan pencarian dan komunikasi dengan para sopir serta pihak perusahaan, akhirnya ditemukan sopir yang diduga kuat terlibat dalam insiden tersebut.
“Alhamdulillah sekitar jam dua siang tadi sudah ditemukan sopir yang diduga menyenggol motor warga,” ungkapnya.
Setelah sopir tersebut ditemukan, pihak desa bersama aparat kepolisian kemudian memfasilitasi pertemuan antara sopir, pihak perusahaan, dan warga yang terlibat dalam insiden tersebut.
Sopir yang diduga menyenggol sepeda motor itu selanjutnya dibawa ke kantor Desa Lampur untuk dilakukan mediasi guna menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Zumar menyebutkan penyelesaian kasus tersebut dilakukan dengan pendekatan restorative justice atau penyelesaian masalah melalui musyawarah antara pihak-pihak yang terlibat.
“Setelah sopirnya ditemukan, langsung dilakukan mediasi di kantor desa bersama pihak kepolisian. Penyelesaiannya menggunakan pendekatan restorative justice agar semua pihak bisa mencapai kesepakatan,” ujarnya.
Dalam mediasi tersebut, pihak sopir dan perusahaan menyatakan kesediaan untuk bertanggung jawab atas insiden yang terjadi. Sementara warga juga sepakat untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara damai.
Dengan adanya kesepahaman antara kedua belah pihak, situasi di Desa Lampur kembali kondusif. Puluhan truk CPO yang sebelumnya sempat tertahan akhirnya diperbolehkan melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing.
“Setelah ada kesepakatan, truk-truk yang sempat berhenti sudah bisa kembali melanjutkan perjalanan,” kata Zumar.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian bagi para pengemudi kendaraan besar saat melintas di kawasan permukiman warga, terutama di jalur yang juga digunakan oleh pengendara sepeda motor dan kendaraan kecil lainnya. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)

















