KBOBABEL.COM (Jakarta) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza. Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 80 orang dilaporkan tewas, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Kamis (26/6/2025)
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa setidaknya 79 warga Palestina kehilangan nyawa akibat serangan tersebut, sementara hampir 400 lainnya mengalami luka-luka. Serangan ini terjadi di tengah kondisi yang sudah genting, dengan banyak warga sipil terkena dampaknya.
Di Tepi Barat, situasi juga memanas. Empat warga Palestina, termasuk seorang remaja, tewas akibat tindakan pasukan Israel. Remaja tersebut dilaporkan ditembak oleh tentara Israel. Selain itu, tiga warga Palestina lainnya tewas dalam serangan pemukim Israel di kota Kafr Malek, yang terletak di timur laut Ramallah. Serangan itu juga menyebabkan tujuh orang lainnya terluka.
Sebelumnya, perhatian militer Israel sempat terpusat pada konflik dengan Iran. Namun, setelah gencatan senjata antara kedua negara disepakati, fokus kini kembali dialihkan ke Jalur Gaza.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan ini merupakan bagian dari upaya untuk memulangkan sandera dan menghentikan pemerintahan Hamas yang didukung oleh Iran. Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, menegaskan bahwa meskipun gencatan senjata dengan Iran telah tercapai, konflik dengan Gaza tetap menjadi prioritas.
“Fokusnya sekarang beralih kembali ke Gaza — untuk memulangkan para sandera dan membubarkan rezim Hamas. Saya bangga memiliki hak istimewa untuk memimpin organisasi ini selama periode ini,” ujar Zamir dalam pernyataannya yang dilansir Anadolu Agency, Rabu (25/6).
Gencatan senjata antara Israel dan Iran mulai berlaku pada Selasa (24/6), setelah melalui negosiasi panjang yang diwarnai kebingungan soal waktu dimulainya penghentian pertempuran udara. Pengumuman mengejutkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi pemicu tercapainya kesepakatan tersebut.
Meskipun demikian, Kepala Staf Militer Israel menegaskan bahwa kampanye Israel terhadap Iran belum sepenuhnya berakhir.
“Kampanye kami terhadap Iran telah memasuki fase baru,” tambah Zamir, merujuk pada dukungan Iran terhadap Hamas yang menguasai Jalur Gaza.
Hamas, yang didukung oleh Teheran, telah menjadi musuh utama Israel di wilayah tersebut. Konflik antara kedua pihak semakin intens sejak Oktober 2023, ketika serangan udara dan pertempuran darat menciptakan krisis kemanusiaan di Gaza.
Israel bertekad untuk menghentikan dukungan Iran terhadap Hamas, yang dianggapnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional. Namun, upaya ini terus memakan korban jiwa di kalangan warga sipil, baik di Gaza maupun di Tepi Barat.
Serangan terbaru ini memicu reaksi keras dari berbagai organisasi kemanusiaan dan masyarakat internasional. Mereka menyerukan penghentian kekerasan serta penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Situasi di Gaza kini semakin kritis, dengan fasilitas kesehatan yang kewalahan menangani jumlah korban. Ratusan warga sipil harus mengungsi dari rumah mereka akibat serangan udara yang tak kunjung berhenti.
(Sumber: Detikcom, Editor: KBO Babel)