Isu Terasi Berbahaya Merebak, Pengrajin Toboali Tegaskan Produksi Tanpa Bahan Kimia

BPOM Temukan Rhodamin B, Pengrajin Terasi Tradisional Minta Produk Lokal Tak Disamaratakan

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) – Kekhawatiran mendalam tengah dirasakan para pengrajin terasi tradisional di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, setelah temuan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pangkalpinang mengenai adanya terasi yang diduga mengandung pewarna tekstil jenis rhodamin B di pasar tradisional. Temuan itu sontak memicu keresahan, terutama bagi para pengrajin yang selama ini memproduksi terasi secara tradisional tanpa tambahan bahan kimia apa pun. Kamis (27/11/2025)

Di sebuah rumah sederhana di kawasan pesisir Toboali, aroma khas udang fermentasi menyeruak dari tumpukan terasi yang baru saja selesai dijemur. Rumah itu adalah milik Rusyaden (63), seorang pengrajin terasi sekaligus nelayan udang sungkur yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya pada produksi terasi rumahan. Di teras rumahnya, ia tampak sibuk merapikan bungkus terasi berwarna cokelat kemerahan yang telah siap dipasarkan.

banner 336x280

Rusyaden mengaku kaget sekaligus khawatir ketika mengetahui bahwa dari 20 sampel terasi yang diuji BPOM, satu di antaranya mengandung rhodamin B, serta satu sampel pengembang ditemukan mengandung boraks Tjap Djago. Menurutnya, temuan tersebut dapat berdampak buruk pada kepercayaan masyarakat terhadap terasi lokal, padahal para pengrajin di Toboali selama ini menjaga kualitas produksi dengan ketat.

“Alhamdulillah, terasi yang saya buat ini murni dari hasil tangkapan sendiri. Semua bahannya alami, tidak ada campuran apa pun, hanya garam makanan,” ujar Rusyaden, Kamis (27/11/2025).

Ia menegaskan, besar kemungkinan terasi yang mengandung pewarna berbahaya itu bukan berasal dari pengrajin asli Toboali. Menurutnya, selama puluhan tahun memproduksi terasi, tidak pernah sekalipun dirinya maupun pengrajin lain menggunakan bahan tambahan kimia. Proses produksi terasi tradisional di Toboali diwariskan turun-temurun dan sangat mengutamakan kesegaran bahan baku.

Kualitas terasi, jelasnya, sangat bergantung pada kesegaran udang kecil atau rebon yang baru ditangkap. Udang segar memiliki aroma khas dan menghasilkan terasi dengan rasa gurih alami. Karena itu, ia selalu langsung mengolah udang setiba dari melaut.

“Udang yang masih segar aromanya berbeda. Begitu pula dengan rasanya yang lebih gurih, tidak pahit, dan warnanya memang kemerahan,” ungkapnya.

Rusyaden kemudian memaparkan proses pembuatan terasi yang ia jalani setiap harinya. Setelah udang ditangkap, ia akan mencucinya hingga bersih sebelum dijemur untuk mengurangi kadar air. Setelah agak kering, udang rebon ditumbuk halus lalu dicampur garam. Garam berfungsi sebagai penambah rasa sekaligus pengawet alami yang menjadikan terasi tidak mudah rusak. Adonan tersebut kemudian difermentasi selama semalam sebelum dijemur kembali hingga benar-benar kering. Tahap terakhir adalah menumbuk kembali adonan hingga halus dan membentuknya menjadi balok terasi siap jual.

Menanggapi isu terasi berwarna cerah yang diduga mengandung bahan kimia, Rusyaden menegaskan bahwa terasi tradisional tidak pernah memiliki warna merah mencolok. Menurutnya, warna terasi asli dipengaruhi oleh jenis udang serta proses fermentasi.

“Warna terasi alami itu tidak seragam. Tidak mungkin merah menyala. Kalau warnanya mencurigakan, itu patut dipertanyakan,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap masyarakat lebih teliti dalam memilih terasi di pasar. Rusyaden menyarankan agar pembeli memperhatikan beberapa ciri fisik terasi alami, seperti warna yang tidak terlalu cerah, tekstur yang lembut namun padat, serta aroma kuat khas udang fermentasi tanpa bau kimia. Terasi berkualitas juga tidak memiliki rasa pahit.

“Kami berharap terasi dari pengrajin lokal tidak disamaratakan dengan produk luar yang mungkin memakai bahan tambahan,” ucapnya penuh harap.

Menurutnya, keresahan para pengrajin bukan hanya soal penurunan minat masyarakat, tetapi juga menyangkut kelangsungan usaha kecil yang selama ini menjadi tumpuan hidup banyak keluarga nelayan. Isu negatif seperti ini sangat mudah mempengaruhi pasar dan dapat memukul pendapatan pengrajin terasi rumahan yang sudah terjepit oleh persaingan harga.

Rusyaden juga meminta pemerintah daerah dan BPOM untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak dalam memilih produk pangan. Ia menilai, sosialisasi mengenai ciri-ciri terasi aman konsumsi sangat penting dilakukan, tidak hanya untuk kepentingan konsumen tetapi juga menjaga keberlangsungan industri rumahan.

“Untuk bisa membedakan terasi murni dan terasi yang diduga mengandung bahan tambahan hanya dengan pengamatan sederhana,” tutupnya.

Isu terasi berpewarna kimia kini menjadi perhatian serius di Bangka Belitung. Para pengrajin berharap masalah ini dapat segera dituntaskan agar kepercayaan masyarakat kembali pulih dan produk lokal tetap menjadi pilihan utama masyarakat. (Sumber : Bangkapos, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *