KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker. Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah untuk mengurangi risiko paparan partikel halus PM2,5 yang terdapat dalam asap kebakaran. Sabtu (22/8/2026)
Budi mengatakan asap karhutla membawa berbagai partikel yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah PM2,5, yakni partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup.
“Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA,” kata Budi, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, masyarakat yang berada di kawasan dengan kualitas udara buruk perlu meningkatkan kewaspadaan. Ketika kondisi udara dipenuhi asap, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi, terutama jika tidak memiliki keperluan mendesak.
PM2,5 Berbahaya bagi Pernapasan
PM2,5 merupakan partikel udara dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya sangat kecil, partikel tersebut dapat terhirup hingga mencapai bagian dalam paru-paru.
Paparan PM2,5 dari asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Keluhan yang muncul dapat berupa iritasi mata, tenggorokan terasa gatal, batuk, hingga sesak napas.
Pada kondisi tertentu, paparan polusi udara juga dapat memperburuk penyakit pernapasan yang sudah dialami seseorang. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala kesehatan yang muncul ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dapat dilakukan masyarakat saat harus berada di luar ruangan. Selain menggunakan masker, warga juga dianjurkan mengurangi waktu berada di lingkungan terbuka ketika konsentrasi asap sedang tinggi.
Warga Diminta Pantau Kualitas Udara
Budi juga mendorong masyarakat untuk secara rutin memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi atau sumber informasi resmi.
Pemantauan kualitas udara dinilai penting agar masyarakat dapat menentukan apakah kondisi lingkungan masih aman untuk melakukan aktivitas di luar rumah.
Dengan mengetahui kondisi kualitas udara, masyarakat dapat menyesuaikan kegiatan harian dan mengambil langkah pencegahan apabila terjadi peningkatan polusi akibat asap karhutla.
Masyarakat juga diminta lebih memperhatikan kondisi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan atau penyakit pernapasan. Kelompok tersebut dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara mengalami penurunan.
Jangan Tunda Berobat Jika Mengalami Gejala
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, sebelumnya juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan.
Masyarakat tidak dianjurkan menunggu kondisi memburuk sebelum mendapatkan pertolongan medis. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk yang tidak kunjung membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, maupun keluhan lain yang mengganggu aktivitas.
“Jangan menunda berobat bila mengalami batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengganggu, terutama pada kelompok berisiko,” pesan Aji.
Kabut Asap Papar 3 Juta Jiwa
Kementerian Kesehatan mencatat dampak karhutla hingga Jumat (21/8/2026) telah meluas ke 87 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi.
Wilayah tersebut meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dari wilayah yang terdampak tersebut, sekitar 3 juta jiwa di 37 kabupaten/kota tercatat terpapar langsung kabut asap.
Besarnya jumlah masyarakat yang terdampak membuat upaya pencegahan gangguan kesehatan akibat asap menjadi penting. Masyarakat di daerah terdampak diharapkan mengikuti perkembangan kualitas udara dan mengurangi paparan asap semaksimal mungkin.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan dampak kabut asap terhadap kesehatan. Penggunaan masker, pembatasan aktivitas luar ruangan, pemantauan kualitas udara, serta pemeriksaan kesehatan ketika muncul gejala menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko akibat paparan asap karhutla. (Sumber : Liputan6, Editor : KBO Babel)











