JANGAN MEMBUNUH MASA DEPAN (Dari Menolak Amplop hingga Melindungi Identitas Anak)

Oleh: Mahmud Marhaba (Ketua Umum PJS)

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM – Di hari kelima Ramadhan ini, mari kita bicara soal “Nilai”. Nilai diri seorang wartawan, nilai sebuah berita, dan nilai kemanusiaan terhadap anak-anak.

Mengawali hari, saya ingin menegaskan kembali soal integritas lewat sebuah pesan sederhana:
“Rezeki halal itu nikmat, amplop suap itu laknat.”

banner 336x280

Di bulan suci ini, godaan terbesar bukan hanya menahan lapar, tapi menahan diri dari “rezeki haram” yang merusak marwah profesi. Seorang wartawan yang bisa dibeli dengan amplop, sejatinya sudah kehilangan nilai dirinya.

Berita “Mahal” Bukan Berarti “Bad News”
Sore hari seringkali kita bingung mencari berita. Ingat rumus lama: “Bad news is good news”? Lupakan! Itu kuno.

Seorang jurnalis kompeten harus paham News Value (Nilai Berita).
Seekor kucing melahirkan di jalanan, itu hanya kejadian biasa.
Tapi seekor kucing melahirkan di podium Istana Negara saat Presiden pidato, itu BERITA.

Pahamilah konteks, keunikan, dan dampaknya.
Kita tidak perlu mencari keburukan orang lain hanya untuk mendapatkan berita “seksi”.
Berita positif dan inspiratif pun bisa punya news value tinggi
jika dikemas dengan sudut pandang yang tepat.

Pasal 5 KEJ: Satu Huruf Bisa Membunuh Masa Depan
Namun, ada kalanya news value berbenturan dengan etika.
Di sinilah ujian sesungguhnya.

Malam ini, sorotan utama kita adalah Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Bunyinya: “Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban
kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.”

Hati-hati, rekan-rekan! Satu foto tanpa sensor, satu inisial nama yang bocor,
atau penyebutan nama sekolah, bisa membunuh masa depan seorang anak seumur hidup.
Jejak digital itu kejam dan abadi.

Ada dua kategori yang WAJIB dilindungi identitasnya:
1. Korban Susila: Baik dewasa maupun anak-anak.
2. Anak Pelaku Kejahatan: Ingat, anak yang berhadapan dengan hukum adalah korban dari lingkungan dan pengasuhan. Jangan cap mereka sebagai penjahat.

Konsep Satrul Aib: Menutup Aib Saudara

Dalam Islam, kita mengenal konsep Satrul Aib (Menutup Aib). Membuka aib seorang anak kecil yang salah jalan, sama dengan memakan bangkai saudara sendiri.
Jika Tuhan saja menutup aib kita, kenapa kita sebagai wartawan justru “telanjang” mengumbarnya demi clickbait?

Solusi Praktis di Lapangan

Bagaimana agar berita tetap tayang tapi aman secara etika?
• Wartawan: Jangan pernah memotret wajah anak yang menjadi korban atau pelaku, walau dari jauh sekalipun. Jangan sebut nama sekolah, nama orang tua, atau alamat lengkap, karena itu bisa menjadi petunjuk untuk melacak identitas anak. Gunakan istilah “Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH)”.
• Redaktur: Cek foto dan naskah dengan teliti. Pastikan tidak ada celah yang bisa mengungkap siapa anak tersebut.
• Pemred: Tanamkan pada redaksi bahwa melindungi anak adalah misi kemanusiaan. Jangan biarkan masa depan mereka hancur di ujung pena kita.

Berita kita mungkin viral hari ini, tapi dampaknya bagi si anak bisa seumur hidup. Mari lindungi anak-anak bangsa dengan jurnalisme yang beradab.

Selamat menjalankan ibadah puasa.

Salam Kompeten!

Catatan Penulis:
Tulisan ini merupakan rangkuman intisari dari materi edukasi jurnalistik yang saya tayangkan secara visual (video reels) pada Hari Kelima Ramadhan. (**)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *