KAGAMA dan BRIN Serahkan Alat Pengolah Sampah Plastik untuk Babel, Dorong Ekonomi Sirkular

Inovasi UGM dan BRIN Hadir di Babel: Sampah Plastik Diubah Jadi Sumber Daya Bernilai

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Persoalan sampah plastik menjadi tantangan besar bagi daerah kepulauan seperti Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Selain mencemari lingkungan laut, sampah plastik juga mengancam ekosistem perikanan dan pariwisata yang menjadi penopang ekonomi masyarakat Babel. Untuk menjawab persoalan tersebut, Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyerahkan alat pengolah sampah plastik kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sabtu (8/11/2025)

Serah terima alat pengolah sampah plastik itu berlangsung di Rumah Magot Sahabat Farm, Kelurahan Bukit Besar, Pangkalpinang, Jumat (7/11/2025). Acara dihadiri oleh Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepulauan Babel, Fery Afriyanto, yang hadir mewakili Gubernur Hidayat Arsani.

banner 336x280

Dalam sambutannya, Fery menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bukti nyata kolaborasi antara lembaga riset, dunia akademik, dan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah lingkungan, khususnya pengelolaan sampah plastik.

“Kita menyaksikan salah satu langkah nyata dari kolaborasi tersebut, yakni serah terima alat pengolah sampah plastik hasil riset bersama pihak BRIN dan UGM. Inovasi ini merupakan wujud nyata dari semangat riset anak bangsa yang tidak hanya mencari solusi teknis, tetapi juga membawa misi besar, mengubah masalah menjadi peluang, dan limbah menjadi sumber daya,” ungkap Fery yang juga menjabat sebagai Ketua KAGAMA Babel.

Ia menjelaskan, alat pengolah sampah plastik ini merupakan hasil dari program Hibah Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) yang melibatkan BRIN, FMIPA UGM, KAGAMA, dan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUMKM) Babel. Alat ini dirancang untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan yang bernilai ekonomis, seperti bijih plastik daur ulang dan bahan bakar alternatif.

Menurut Fery, Provinsi Babel saat ini menghadapi kondisi darurat sampah. Berdasarkan data, sekitar 150 ton sampah dihasilkan setiap hari, sementara kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah melampaui batas.

“Kondisi ini tentu memerlukan langkah-langkah inovatif. Alat ini bukan sekadar mesin, tetapi perubahan dalam cara kita mengelola sampah. Dari konsep kumpul, angkut, buang menjadi kurangi, olah, dan manfaatkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, teknologi ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan ekonomi sirkular di daerah. Dalam konsep ekonomi sirkular, sampah tidak lagi dianggap sebagai akhir dari suatu proses konsumsi, tetapi sebagai bahan awal untuk proses produksi baru.

“Dengan teknologi ini, kita berharap dapat mengurangi beban TPA, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM di bidang pengelolaan limbah,” lanjut Fery.

Selain itu, kerja sama ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara alumni perguruan tinggi, peneliti, dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem riset terapan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.

“KAGAMA Babel berkomitmen untuk terus mendorong inovasi yang berdampak sosial dan ekonomi. Kita ingin agar hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi diterapkan di lapangan untuk membantu masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan dari FMIPA UGM menyampaikan bahwa alat pengolah sampah plastik yang diserahkan menggunakan teknologi ramah lingkungan dan efisien energi. Prosesnya mampu mengurai plastik menjadi material yang bisa digunakan kembali tanpa menghasilkan limbah berbahaya.

“Kami ingin mendukung pemerintah daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Teknologi ini sudah diuji dan diharapkan bisa direplikasi di daerah lain,” ujarnya.

Dinas KUMKM Babel yang turut hadir juga berencana melibatkan pelaku usaha mikro dan koperasi dalam operasionalisasi alat tersebut. Dengan demikian, pengolahan sampah plastik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.

“Kolaborasi lintas sektor ini merupakan contoh bagaimana riset dan inovasi dapat bersinergi dengan pemberdayaan masyarakat. Kami optimis, alat ini akan menjadi titik awal perubahan dalam sistem pengelolaan sampah di Babel,” kata perwakilan Dinas KUMKM Babel.

Acara serah terima alat pengolah sampah plastik ini diakhiri dengan peninjauan langsung cara kerja mesin oleh seluruh peserta. Pemerintah Provinsi Babel berharap inovasi ini bisa segera diterapkan secara luas, terutama di daerah pesisir yang paling terdampak oleh pencemaran plastik.

“Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus berinovasi dan bersinergi. Karena menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat,” tutup Fery. (Sumber : Babelpos, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *