Kasus Keracunan Massal Meluas, Suara Ibu Indonesia Desak Program MBG Dihentikan

Ratusan Ibu-Ibu Geruduk Kantor BGN, Desak Pemerintah Hentikan Program Makan Bergizi Gratis

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Ratusan ibu rumah tangga, anak muda, dan aktivis perempuan yang tergabung dalam kelompok Suara Ibu Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025).

Aksi ini digelar sebagai bentuk protes terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai gagal dan berujung pada serangkaian kasus keracunan massal di berbagai daerah. Para peserta aksi menuntut agar pemerintah menghentikan pelaksanaan program tersebut secara nasional.

banner 336x280

Pantauan di lokasi menunjukkan massa aksi membawa berbagai spanduk dan poster dengan tulisan bernada protes. Salah satu spanduk besar bertuliskan “Stop MBG, Utamakan Kualitas, Keamanan, dan Martabat Anak”, sementara spanduk lainnya bertuliskan “STOP MBG! Kembalikan Makanan Bergizi kepada Keluarga dan Sekolah”.

Ketua Suara Ibu Indonesia, Rahayu Prameswari, mengatakan aksi ini merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan anak-anak sekolah yang menjadi korban keracunan akibat program MBG. Ia menilai program tersebut tidak dijalankan dengan sistem pengawasan yang baik.

“Program ini diklaim sebagai solusi perbaikan gizi anak sekolah, tapi yang terjadi justru krisis kesehatan, krisis akuntabilitas, dan krisis moral dalam tata kelola negara,” tegas Rahayu dalam orasinya.

Mengutip data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Rahayu menyebut ada lebih dari 10.482 anak sekolah di berbagai daerah menjadi korban keracunan massal akibat makanan dari program MBG.

“Alih-alih menjadi program wajib, seharusnya MBG hanya difokuskan untuk daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) dan anak-anak keluarga pra-sejahtera yang memang membutuhkan intervensi gizi,” ujarnya.

Menurutnya, dana besar yang dialokasikan untuk MBG seharusnya dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, memperbaiki infrastruktur sekolah di daerah tertinggal, dan membangun kantin sehat berbasis komunitas yang dikelola oleh sekolah bersama guru dan orang tua siswa.

“Kami tidak menolak upaya pemerintah memperbaiki gizi anak, tapi tolong lakukan dengan akal sehat dan tanggung jawab. Jangan jadikan anak-anak korban eksperimen kebijakan,” tutur Rahayu.

Sentil Pelibatan TNI-Polri

Dalam aksi tersebut, kelompok Suara Ibu Indonesia juga menyoroti keterlibatan TNI dan Polri dalam rantai distribusi dan pengawasan program MBG. Menurut mereka, langkah itu menandai bentuk militerisasi urusan sipil yang berpotensi menimbulkan penyalahgunaan wewenang.

“Mengapa urusan makanan anak sekolah harus melibatkan aparat militer? Ini jelas melanggar prinsip tata kelola sipil. Militer bukan lembaga pangan, dan tugas mereka bukan mengurus gizi anak-anak,” kata Nadila Karim, salah satu juru bicara aksi.

Pihaknya mendesak pemerintah untuk mencabut pelibatan TNI/Polri dari seluruh aspek penyelenggaraan MBG, serta program sosial lain yang menyentuh ranah sipil.

“Kami menuntut pemerintah menghentikan proyek MBG di seluruh Indonesia. Program ini telah gagal menjamin keselamatan, kesehatan, dan inklusivitas anak-anak,” tegas Nadila.

Desak Audit Nasional

Selain menghentikan program MBG, para peserta aksi juga menuntut dilakukan audit nasional independen terhadap seluruh vendor, dapur sekolah, dan rantai pasok MBG. Mereka mendesak agar hasil audit tersebut dipublikasikan secara terbuka agar publik mengetahui kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak.

“Publik berhak tahu siapa yang bertanggung jawab dalam setiap kasus keracunan. Audit ini penting untuk memastikan tidak ada lagi vendor abal-abal yang bermain dalam program sebesar ini,” ujar Rahayu menambahkan.

Ia juga menyoroti kondisi pekerja dapur yang selama ini menjadi pelaksana lapangan program MBG. Banyak di antara mereka adalah pekerja informal, ibu rumah tangga, dan tenaga paruh waktu yang tidak memiliki perlindungan kerja dan pelatihan keamanan pangan yang memadai.

“Kami memahami banyak ibu-ibu yang menggantungkan penghasilan dari MBG, tapi ketika pekerja kecil tidak terlindungi dan anak-anak makan makanan yang tak aman, maka program bantuan ini berubah menjadi bencana,” ungkap Rahayu.

Suara Hati Para Ibu

Dalam orasi penutup, para ibu menyanyikan lagu perjuangan bertema “Anak Sehat Indonesia” sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Jangan Biarkan Anak Kami Jadi Korban Lagi”.

Mereka juga menyerahkan surat terbuka kepada Kepala Badan Gizi Nasional yang berisi lima tuntutan utama:

  1. Hentikan sementara program MBG di seluruh Indonesia.

  2. Lakukan audit nasional independen terhadap seluruh vendor dan dapur MBG.

  3. Cabut pelibatan TNI/Polri dari rantai distribusi dan pengawasan MBG.

  4. Alihkan anggaran MBG untuk peningkatan gizi berbasis keluarga dan sekolah.

  5. Publikasikan hasil audit dan evaluasi secara transparan kepada publik.

Aksi berlangsung damai selama lebih dari dua jam di bawah pengawasan aparat kepolisian. Setelah menyampaikan aspirasi, massa membubarkan diri dengan tertib.

“Ini bukan tentang politik atau pihak mana pun. Ini tentang masa depan anak-anak Indonesia yang berhak mendapat makanan bergizi, aman, dan bermartabat,” pungkas Rahayu. (Sumber : CNN Indonesia, editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *