Kekeringan Bikin Petani Bangka Selatan Tak Berani Tanam, Produksi Hortikultura Tertekan

Air Terbatas, Petani Bangka Selatan Tunda Tanam Kembali, Harga Cabai Mulai Naik

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) — Kekeringan mulai memberikan tekanan terhadap aktivitas pertanian hortikultura di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Keterbatasan ketersediaan air membuat sejumlah petani belum dapat kembali mengolah lahan dan melakukan penanaman setelah memasuki penghujung masa panen. Rabu (7/10/2026)

Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap keberlanjutan produksi berbagai komoditas hortikultura. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan memperkirakan produksi sejumlah komoditas mengalami penurunan sekitar 10 persen akibat petani belum dapat segera melakukan penanaman kembali.

banner 336x280

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan, Luhung Amin Firdaus, mengatakan persoalan utama yang dihadapi petani saat ini bukan sepenuhnya berhentinya aktivitas budidaya, melainkan kesulitan untuk memulai kembali proses penanaman karena ketersediaan air yang terbatas.

“Sekarang banyak kawan-kawan petani hortikultura yang saat ini sama dengan petani padi, yaitu belum bisa olah lahan kembali karena tidak ada ketersediaan air,” kata Luhung, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura yang menjadi bagian dari produksi pertanian daerah. Beberapa komoditas yang menjadi perhatian antara lain cabai merah keriting (CMK), cabai rawit serta sayuran buah semusim seperti terong, sawi dan bayam.

Keterbatasan air menjadi persoalan karena sebagian tanaman telah memasuki penghujung masa panen. Dalam kondisi normal, petani seharusnya dapat segera membersihkan lahan, mengolah tanah dan menanam komoditas berikutnya setelah tanaman sebelumnya selesai dipanen.

Namun, kondisi kekeringan membuat tahapan tersebut tidak dapat dilakukan secara optimal.

Akibatnya, terdapat jeda produksi yang berpotensi memengaruhi jumlah komoditas yang tersedia dari petani lokal. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan memperkirakan penurunan produksi berada di kisaran 10 persen.

“Kalau penurunannya kurang lebih 10 persen, semua komoditas, yang sayur buah semusim, cabai merah, maupun cabai rawit,” ujar Luhung.

Cabai Mulai Masuk Penghujung Panen

Komoditas cabai menjadi salah satu tanaman yang paling terlihat mengalami penurunan produksi karena memasuki akhir masa panen.

Penurunan tersebut sebenarnya merupakan kondisi yang umum terjadi ketika tanaman memasuki akhir siklus produksi. Namun, persoalannya menjadi lebih besar karena petani belum dapat menyiapkan tanaman baru akibat terbatasnya air.

Kondisi tersebut berpotensi membuat pasokan cabai dan komoditas hortikultura lainnya dari produksi lokal mengalami tekanan apabila kekeringan berlangsung lebih lama.

Hal ini menjadi perhatian karena Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menargetkan produksi cabai lokal mencapai 84 ton sepanjang 2026.

Target tersebut tentu membutuhkan kesinambungan kegiatan budidaya. Jika petani tidak dapat melakukan penanaman kembali dalam waktu yang cukup lama, produksi berpotensi mengalami penyesuaian.

Selain berdampak terhadap volume produksi, keterbatasan pasokan juga dapat berpengaruh terhadap harga komoditas di tingkat petani.

Luhung mengakui harga sejumlah komoditas di tingkat petani mulai mengalami kenaikan. Namun, kenaikan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh kekeringan.

Menurutnya, faktor siklus produksi juga berpengaruh karena sejumlah tanaman memang telah memasuki penghujung masa panen. Dengan demikian, penurunan hasil produksi yang terjadi merupakan kombinasi antara berakhirnya masa panen dan belum dimulainya siklus tanam berikutnya.

“Kondisi kekeringan lebih berpengaruh terhadap keberlanjutan produksi karena petani belum dapat menyiapkan tanaman baru,” jelasnya.

Berpotensi Tekan Inflasi

Kondisi produksi yang menurun dan harga komoditas yang mulai meningkat juga berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi daerah.

Meski demikian, Luhung menilai dampak terhadap inflasi secara keseluruhan sejauh ini belum terlalu besar. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diantisipasi apabila kekeringan berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.

“Memicu inflasi kalau secara umum tidak banyak, pasti berdampak, karena harga tingkat petani sudah agak mengalami kenaikan,” katanya.

Kenaikan harga di tingkat petani dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan pemerintah. Apabila produksi lokal terus menurun sementara permintaan masyarakat tetap tinggi, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat pasar.

Terlebih komoditas seperti cabai merupakan salah satu bahan pangan yang pergerakan harganya cukup sensitif terhadap perubahan pasokan.

Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga sekaligus membantu petani menghadapi dampak kekeringan.

Salah satu langkah yang telah disiapkan pemerintah daerah adalah pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM). Program tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi untuk menjaga keterjangkauan harga pangan masyarakat di tengah adanya tekanan pada produksi pertanian.

Data Produksi dan Perdagangan Perlu Disinergikan

Luhung menjelaskan, kewenangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan lebih banyak berada pada aspek budidaya hingga pascapanen. Sementara itu, informasi mengenai stok dan perkembangan harga di tingkat perdagangan menjadi kewenangan perangkat daerah terkait.

Karena itu, untuk mengetahui dampak kekeringan secara lebih menyeluruh, data produksi dari sektor pertanian perlu dipadukan dengan informasi mengenai stok dan harga dari sektor perdagangan.

“Sebenarnya kalau untuk lebih pasnya nanti ditanyakan stok di kawan-kawan di Perdagangan, terkait harga maupun stok sekarang,” ucapnya.

Sinergi data tersebut dinilai penting untuk menentukan langkah antisipasi apabila kekeringan terus berlangsung.

Di sisi petani, kebutuhan utama saat ini adalah ketersediaan air agar lahan dapat kembali diolah dan siklus tanam berikutnya bisa segera dimulai. Semakin panjang jeda tanam, semakin besar pula potensi penurunan produksi lokal.

Pemerintah daerah juga perlu memantau kondisi lahan dan ketersediaan air di sentra-sentra hortikultura agar intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Bagi petani, keberlanjutan produksi bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan komoditas, tetapi juga menyangkut pendapatan rumah tangga. Ketika petani tidak dapat menanam, maka peluang memperoleh pendapatan dari hasil panen berikutnya ikut tertunda.

Kondisi kekeringan yang terjadi saat ini menjadi tantangan bagi sektor pertanian Bangka Selatan. Dengan perkiraan penurunan produksi sekitar 10 persen, pemerintah perlu terus memantau perkembangan cuaca, ketersediaan air, produksi, stok serta harga komoditas.

Jika kondisi segera membaik dan petani dapat kembali melakukan penanaman, tekanan terhadap produksi diharapkan tidak berlangsung berkepanjangan.

Namun apabila kekeringan terus berlanjut, dampaknya dapat meluas dari lahan pertanian hingga rantai pasok pangan dan harga di pasar.

Karena itu, menjaga ketersediaan air untuk kegiatan pertanian menjadi salah satu kunci agar produksi hortikultura Bangka Selatan tetap berjalan dan target produksi komoditas strategis, termasuk cabai, dapat dipertahankan. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *