KBOBABEL.COM (Bandung) – Dua mahasiswa Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni A. Zaky Aditya dan Wenny Yusvicka, berhasil meraih pendanaan penelitian nasional melalui program Student Research Funding 2025 yang diselenggarakan Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI). Sabtu (4/4/2026)
Keduanya tergabung dalam tim “TIMah Primer” yang mengangkat riset berjudul Geochemical Evolution of Klabat Granite and Its Implications for Sn-REE Enrichment: A Case Study from Greisen-Type Primary Tin Deposits in Pangkalan Baru, Bangka Island. Proposal tersebut dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima hibah setelah melalui proses seleksi ketat dan kompetitif.
Program hibah riset MGEI ini bertujuan mendorong lahirnya penelitian berkualitas dari kalangan mahasiswa sekaligus memperkuat kapasitas akademik dan teknis generasi muda di bidang geosains. Setiap tim terpilih memperoleh pendanaan hingga Rp50 juta untuk mendukung pelaksanaan penelitian selama enam bulan.
Menurut Zaky, proses seleksi dimulai dari penyaringan puluhan proposal yang kemudian mengerucut menjadi 15 besar untuk menjalani tahap evaluasi lanjutan. Setelah itu, tim yang lolos diwajibkan menjalankan penelitian dengan sejumlah tahapan yang telah ditentukan.
“Setelah terpilih, kami meneliti selama enam bulan dengan beberapa milestone seperti laporan kemajuan, presentasi di MGEI Annual Convention, hingga presentasi akhir pada 4 Maret 2026,” ujarnya.
Penelitian yang dilakukan berlokasi di kawasan Pangkalan Baru, Pulau Pulau Bangka, tepatnya di area Izin Usaha Pertambangan milik PT Timah Tbk. Fokus utama riset ini adalah memahami proses geologi dan geokimia yang mengontrol terbentuknya mineralisasi timah (Sn) dan unsur tanah jarang (Rare Earth Elements atau REE).
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan berbagai pendekatan ilmiah, mulai dari pemetaan zona alterasi hidrotermal, analisis struktur geologi yang mengontrol aliran fluida mineralisasi, hingga identifikasi tahapan pembentukan mineral. Selain itu, penelitian juga menelaah distribusi REE yang menunjukkan karakteristik granit tipe-S yang sangat terfraksinasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses evolusi geokimia granit Klabat memiliki peran penting dalam pengayaan unsur timah dan REE. Tim juga berhasil mengembangkan model struktural-hidrotermal yang menggambarkan mekanisme pembentukan mineralisasi pada endapan timah primer tipe greisen.
Model ini dinilai memiliki nilai strategis, khususnya dalam mendukung kegiatan eksplorasi sumber daya mineral di masa depan. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kontrol geologi dan geokimia, perusahaan tambang dapat meningkatkan efisiensi dalam menemukan cadangan baru.
“Pemahaman ini penting untuk membantu strategi eksplorasi, terutama dalam mencari endapan timah primer yang potensial di Indonesia,” jelas Zaky.
Meski demikian, proses penelitian tidak berjalan tanpa hambatan. Tim menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara kegiatan akademik di kampus dan aktivitas penelitian lapangan yang cukup intensif. Selain itu, kondisi lapangan di area tambang aktif juga menuntut kemampuan adaptasi tinggi terhadap situasi yang dinamis.
Namun, tantangan tersebut justru menjadi pengalaman berharga bagi keduanya. Mereka mengaku mendapatkan pembelajaran langsung yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis di lapangan.
Melalui program ini, tim memperoleh pengalaman komprehensif, mulai dari penyusunan proposal ilmiah, pengambilan data lapangan, analisis geokimia di laboratorium, hingga presentasi hasil penelitian di hadapan akademisi dan profesional industri.
Wenny menambahkan bahwa keberhasilan mereka tidak lepas dari pemilihan topik yang relevan dengan kebutuhan industri serta metodologi penelitian yang kuat. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan dalam menghadapi sesi wawancara sebagai bagian dari proses seleksi.
“Topik harus relevan dengan kebutuhan industri, metodologi harus jelas, dan saat wawancara kita harus benar-benar memahami penelitian yang diajukan,” katanya.
Ke depan, mereka berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia yang berani terjun ke dunia penelitian sejak dini. Menurutnya, riset di bidang sumber daya alam memiliki potensi besar untuk mendukung daya saing nasional, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral strategis seperti timah dan REE.
“Harapannya, semakin banyak mahasiswa yang tertarik meneliti. Dari situlah inovasi lahir dan bisa membawa Indonesia bersaing di tingkat regional maupun global,” ujarnya.
Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan industri pertambangan. Dengan dukungan program seperti yang digagas MGEI, diharapkan lahir lebih banyak riset inovatif yang mampu menjawab tantangan eksplorasi dan pengelolaan sumber daya mineral di masa depan.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap mineral kritis dunia, penelitian seperti ini menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama timah sekaligus pemain potensial dalam pengembangan unsur tanah jarang. (Sumber : itb.ac.id, Editor : KBO Babel)

















