KBOBABEL.COM (JAKARTA) – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menyampaikan kecaman keras atas pembunuhan Direktur Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) di Gaza, dr. Marwan Al Sultan, oleh serangan udara Israel. Insiden tragis ini terjadi pada Rabu (2/7), ketika Al Sultan beserta istri dan anak-anaknya tewas di tempat tinggal sementara mereka di Gaza utara akibat gempuran militer Israel. Jumat (4/7/2025)
“Pembunuhan dr. Marwan Al Sultan dan keluarganya merupakan pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan dan tindakan ketidakadilan berat yang harus dipertanggungjawabkan. Ini adalah hari berkabung bagi seluruh umat manusia. Kami menolak untuk tetap diam,” demikian isi pernyataan resmi MER-C Indonesia yang dirilis pada Kamis (3/7).
MER-C mengungkapkan, dr. Marwan Al Sultan merupakan sosok konsultan kardiologi intervensional yang selama ini menjadi figur penting dalam pelayanan medis di Jalur Gaza. Sejak dimulainya agresi Israel ke Gaza pada Oktober 2023, Al Sultan tanpa lelah memimpin RS Indonesia di tengah keterbatasan sumber daya dan ancaman serangan udara yang terus-menerus.
“Ia menyediakan layanan medis penting bagi rakyat Palestina meskipun terus-menerus diancam serangan udara Israel, dan keterbatasan sumber daya yang parah,” kata MER-C dalam pernyataan yang sama.
Selain itu, MER-C juga menekankan peran Al Sultan yang terbuka dan kooperatif dalam menjalin kerja sama dengan tim-tim kemanusiaan internasional dari berbagai negara, seperti Inggris, Belanda, hingga Maroko.
“Di bawah kepemimpinannya, RS Indonesia menjadi pusat vital untuk layanan kesehatan, bukan target militer seperti yang dituduhkan secara keliru oleh narasi Israel,” tegas MER-C.
Mereka mengenang sosok Al Sultan sebagai pemimpin yang tegas, terbuka, dan penuh dedikasi. Selama periode Januari hingga Maret 2025, MER-C bersama Al Sultan berhasil menghidupkan kembali layanan darurat serta memulihkan operasi RS Indonesia secara penuh, meski rumah sakit tersebut sering kali berada dalam kondisi kritis akibat pengepungan dan serangan Israel.
“Ia dikenal karena keterusterangan, spontanitas, dan kepemimpinannya yang tegas, sifat-sifat yang membentuk rapat manajemen rumah sakit sehari-hari, yang sering kali diisi dengan perdebatan sengit dan selalu diakhiri dengan keakraban sambil minum kopi dan makan bersama,” ungkap MER-C mengenang sosok Al Sultan.
Serangan yang menewaskan Al Sultan disebut sebagai bagian dari pembantaian terbaru Israel yang menyasar Kota Gaza. Sumber dari Al Jazeera melaporkan, serangan udara tersebut menargetkan sebuah bangunan perumahan di bagian barat daya kota. Selain Al Sultan, istri dan anak-anaknya juga menjadi korban tewas dalam serangan tersebut.
Al Sultan selama ini juga dikenal sebagai sumber informasi utama dari Gaza, yang rutin menyampaikan laporan mengenai kondisi warga Palestina kepada publik internasional. Ia berulang kali mendesak masyarakat internasional untuk memastikan keselamatan tim medis di Gaza, terutama setelah serangkaian serangan brutal Israel yang mengepung RS Indonesia.
Israel diketahui meluncurkan agresi besar-besaran ke Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Sejak saat itu, militer Israel menggempur habis-habisan fasilitas sipil, termasuk rumah sakit, kamp pengungsian, sekolah, hingga tempat ibadah. Selama periode agresi ini, RS Indonesia menjadi salah satu fasilitas medis yang berulang kali menjadi sasaran pengepungan dan serangan Israel.
Pihak Israel sering kali menuding adanya markas Hamas di fasilitas medis tersebut sebagai dalih untuk menghancurkannya. Namun, tuduhan itu tidak pernah dapat dibuktikan. MER-C menyebut tuduhan tersebut sebagai narasi serampangan yang dijadikan alasan untuk melumpuhkan pelayanan kesehatan di Gaza.
Data terbaru mencatat, akibat agresi Israel, lebih dari 56.000 warga Palestina meninggal dunia. Ratusan ribu rumah hancur dan ratusan fasilitas sipil, termasuk rumah sakit, porak-poranda akibat bombardir yang terus berlangsung.
“Tragedi ini semakin mempertegas bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis adalah kejahatan perang yang harus diadili. Kami menyerukan kepada masyarakat internasional untuk bertindak tegas menghentikan genosida di Gaza,” tegas MER-C dalam pernyataan penutupnya. (Sumber: CNN Indonesia, Editor: KBO Babel)