KBOBABEL.COM – Di Bangka Belitung ini, saya perhatikan bahwa kita sebenarnya tidak kekurangan dakwah. Bahkan kalau mau jujur, kita “kelebihan”. Masjid ramai, pengajian ada di mana-mana, ceramah tinggal buka HP. Mau dengar ustaz siapa saja, kapan saja, semuanya tersedia. Secara lahiriah, kita ini terlihat seperti masyarakat yang sangat dekat dengan agama. Tapi semakin saya perhatikan, semakin saya merasa ada yang tidak sepenuhnya beres.
Di tengah ramainya suasana keagamaan itu, saya justru sering menemukan orang-orang yang tidak benar-benar tenang. Ada yang gampang cemas, ada yang cepat lelah secara mental, ada yang hidupnya seperti jalan tapi tidak tahu arah. Bahkan tidak sedikit yang sebenarnya “aktif secara agama”, tapi tetap merasa kosong. Ini bukan asumsi, ini yang sering muncul dalam obrolan-obrolan santai, curhat kecil, atau sekadar ekspresi yang sulit disembunyikan. Di situ saya mulai bertanya dalam hati, kalau dakwah kita sudah seramai ini, kenapa jiwa kita masih sering terasa sepi?
Saya tidak sedang menyalahkan dakwah. Sama sekali tidak. Tapi mungkin kita perlu jujur bahwa ada yang kurang pas dalam cara kita menjalaninya. Selama ini, dakwah sering terasa seperti “memberi tahu” apa yang boleh, apa yang tidak, mana yang benar, mana yang salah. Itu penting, iya. Tapi hidup manusia tidak sesederhana itu.
Orang hari ini tidak hanya butuh tahu mana yang benar. Mereka juga butuh ditemani saat merasa salah arah. Mereka tidak hanya butuh nasihat, tapi juga butuh dipahami. Saya melihat banyak dari kita yang rajin ibadah, tapi tidak pernah benar-benar diajari bagaimana menghadapi kecemasan. Kita diajarkan sabar, tapi tidak diajarkan bagaimana mengelola tekanan hidup. Kita diingatkan untuk tawakal, tapi tidak dibantu memahami kenapa hati kita tetap gelisah. Akhirnya, agama jadi terasa seperti kewajiban yang harus dijalankan, bukan tempat untuk pulang.
Di Bangka Belitung, perubahan hidup juga tidak kecil. Ekonomi yang naik turun, ketergantungan pada sektor tertentu seperti tambang, belum lagi tekanan hidup modern yang datang dari media sosial. Semuanya ikut memengaruhi kondisi batin kita, terutama anak muda. Mereka hidup di tengah tuntutan untuk “jadi sesuatu”, tapi sering tidak tahu harus jadi apa.
Saya sering melihat anak-anak muda yang sebenarnya baik, religius, tapi gampang merasa tidak cukup. Sedikit-sedikit overthinking. Mudah membandingkan diri. Merasa tertinggal dan yang paling sering, merasa sendirian. Ironisnya, di saat seperti itu, mereka tidak selalu tahu harus ke mana. Mau cerita, takut dianggap lemah. Mau ke profesional, masih ada stigma. Mau lari ke agama, kadang yang didapat justru ceramah yang terasa “menyuruh”, bukan “memeluk”. Di situ saya merasa, mungkin selama ini kita terlalu fokus membuat dakwah itu terdengar, tapi belum cukup membuatnya terasa.
Padahal kalau kita mau jujur, Islam itu tidak hanya bicara soal hukum. Ia bicara tentang hati, tentang jiwa. Tentang bagaimana manusia menghadapi dirinya sendiri. Ada ruang besar dalam agama ini untuk bicara tentang kegelisahan, tentang luka, tentang rasa takut. Tapi ruang itu jarang benar-benar kita buka dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering bicara dosa daripada luka. Lebih sering bicara kewajiban daripada kelelahan. Lebih sering mengingatkan daripada mendengarkan. Mungkin di sinilah letak paradoksnya. Dakwah kita ramai, tapi tidak semua jiwa merasa ditemani.
Saya membayangkan, bagaimana kalau suasana ini sedikit kita ubah. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat orang merasa aman untuk jujur tentang dirinya. Pengajian bukan hanya ceramah satu arah, tapi juga ruang untuk bertanya, bahkan untuk mengeluh. Pendakwah bukan hanya penyampai pesan, tapi juga pendengar yang baik. Tidak perlu terlalu ideal dulu. Cukup mulai dari hal sederhana: mau mendengar tanpa menghakimi, mau memahami tanpa langsung menilai. Karena kadang, yang dibutuhkan orang bukan jawaban panjang. Tapi perasaan bahwa mereka tidak sendirian.
Bangka Belitung ini sebenarnya punya kekuatan besar. Kita punya budaya kebersamaan, kita tidak terlalu individualistik, dan nilai agama sudah hidup. Tinggal bagaimana semua itu kita arahkan agar tidak hanya menjaga hubungan sosial, tapi juga merawat kesehatan batin. Saya tidak bilang kita sedang krisis besar. Tapi kalau dibiarkan, kegelisahan kecil yang banyak ini bisa jadi sesuatu yang lebih besar di kemudian hari.
Saya pikir, sudah saatnya kita mulai bertanya dengan lebih jujur. Apakah dakwah yang kita jalankan selama ini benar-benar menyentuh hati? atau hanya lewat di telinga? Kalau jawabannya yang kedua, mungkin tidak heran kalau kita terus hidup dalam suasana yang sama. Ramai di luar, tapi sepi di dalam, sehingga diam-diam, ternyata banyak dari kita sedang berjuang sendirian, di tengah keramaian yang tidak selalu memahami.***











