Penyelam Timah Tewas Tertimbun Longsoran Pasir di Laut Bangka Barat, Polisi Selidiki Penyebabnya

Nambang di Dasar Laut Berujung Maut, Penyelam Muda di Bangka Barat Meninggal Tertimbun Material

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) — Seorang penambang timah tradisional bernama Adil (23), warga Desa Air Nyatoh, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, ditemukan tewas setelah tertimbun material longsor di dasar laut kawasan Pasir Kuning, Kecamatan Tempilang, Sabtu (8/11/2025) sore. Senin (10/11/2025)

Korban yang bekerja sebagai penyelam tambang timah diduga meninggal dunia akibat tertimbun pasir saat menyedot material menggunakan selang di kedalaman sekitar enam meter.

banner 336x280

Kepala Seksi Humas Polres Bangka Barat, Iptu Yos Sudarso, membenarkan peristiwa tragis tersebut. Menurutnya, kecelakaan tambang laut itu terjadi sekitar pukul 15.00 WIB saat korban sedang bekerja bersama dua rekannya, Salman (23) dan Lepan (19), di atas ponton isap produksi.

Kejadian terjadi sekitar pukul 15.00 WIB saat korban bekerja bersama dua rekannya di perairan Pasir Kuning. Korban diduga tertimbun material pasir di dasar laut saat melakukan penyelaman,” kata Yos saat dikonfirmasi, Minggu (9/11/2025).

Korban Hilang Kontak Saat Menyelam

Dijelaskan Yos, sejak pagi korban bersama dua rekannya berangkat dari Desa Air Nyatoh menuju lokasi tambang di laut Tempilang menggunakan ponton selam. Sekitar siang hari, korban mulai menyelam untuk menyedot material timah menggunakan pipa hisap. Namun, tidak lama kemudian korban tidak lagi merespons saat dihubungi rekannya dari permukaan.

Saat penyelaman berlangsung, korban tiba-tiba tidak memberikan respons setelah selang udara yang digunakan tertarik ke dasar laut. Rekan-rekan korban yang khawatir kemudian melakukan pencarian manual di sekitar titik tersebut,” ujarnya.

Setelah dilakukan pencarian selama beberapa menit, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dasar laut. Tubuh korban kemudian dievakuasi ke permukaan dan dibawa ke daratan menggunakan perahu nelayan terdekat.

Dugaan Longsoran Pasir

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara di lokasi, korban diduga meninggal akibat tertimbun material pasir yang longsor saat aktivitas penyedotan berlangsung. Kedalaman laut yang hanya sekitar enam meter membuat risiko tertimbun cukup besar karena tekanan dan pergerakan sedotan di dasar perairan.

Dugaan sementara korban meninggal akibat tertimbun pasir. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain di tubuh korban, namun kami tetap melakukan pemeriksaan dan visum untuk memastikan penyebab pastinya,” jelas Yos.

Polisi Lakukan Pemeriksaan dan Evakuasi Ponton

Usai kejadian, tim Sat Polairud Polres Bangka Barat langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi memeriksa rekan-rekan korban yang menjadi saksi, termasuk melakukan pengecekan terhadap alat-alat yang digunakan di ponton isap produksi tersebut.

Tim Sat Polairud sudah memeriksa dua rekan korban dan mengamankan peralatan tambang. Kami juga berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Tempilang untuk melakukan visum terhadap korban,” tutur Yos.

Selain itu, pihak kepolisian juga akan melakukan pengambilan titik koordinat lokasi dan mengevakuasi ponton yang digunakan untuk ditarik ke Mako Sat Polairud sebagai barang bukti pemeriksaan.

Lokasi Dekat Jalur Nelayan

Menurut Yos, lokasi kecelakaan berada tidak jauh dari garis pantai Pasir Kuning, yang juga merupakan jalur utama perahu nelayan setempat. Aktivitas tambang selam di kawasan tersebut disebut kerap berdekatan dengan jalur tangkap nelayan, sehingga polisi berencana melakukan pemetaan ulang area tambang dan jalur nelayan demi keselamatan bersama.

Kami akan melakukan pengambilan titik koordinat lokasi serta mengevakuasi ponton selam sebagai barang bukti untuk diamankan di Mako Sat Polairud,” tegasnya.

Peringatan untuk Penambang

Polres Bangka Barat mengimbau kepada para penambang timah laut agar selalu memperhatikan faktor keselamatan dan tidak memaksakan bekerja dalam kondisi berisiko tinggi. Selain itu, penambangan yang dilakukan di luar zona izin resmi juga berpotensi membahayakan keselamatan jiwa para pekerja.

Kami berharap masyarakat lebih berhati-hati dalam beraktivitas di laut, terutama bagi penambang tradisional yang menggunakan sistem selam. Utamakan keselamatan diri dan patuhi aturan yang berlaku,” pungkas Yos.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan tambang timah laut di wilayah Bangka Belitung, yang kerap menelan korban jiwa akibat minimnya pengawasan dan standar keselamatan kerja di lapangan. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *