KBOBABEL.COM (Jakarta) – Hubungan China dan Jepang kembali memasuki fase ketegangan serius setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait kemungkinan pengerahan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) jika China melakukan invasi ke Taiwan. Pernyataan yang disampaikan pada 7 November 2025 tersebut memicu respons keras dari Beijing dan membuka babak baru perselisihan diplomatik kedua negara. Jumat (21/11/2025)
Takaichi menyebut bahwa penggunaan kekuatan militer oleh China terhadap Taiwan dapat “menimbulkan situasi yang mengancam kelangsungan hidup bagi Jepang.” Menurutnya, instabilitas di Selat Taiwan akan berdampak langsung terhadap keamanan nasional Jepang, terutama karena jalur perdagangan vital Jepang melewati wilayah tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Takaichi tak lama setelah ia resmi menjabat sebagai perdana menteri, menjadikannya salah satu langkah awal yang berdampak besar terhadap hubungan internasional Tokyo.
China Meradang: Tuduhan Provokasi Politik
Pemerintah China langsung mengecam pernyataan tersebut. Kementerian Luar Negeri China melalui juru bicaranya, Mao Ning, menilai ucapan Takaichi sebagai provokasi yang membahayakan fondasi hubungan kedua negara.
“China dengan serius mendesak Jepang mencabut pernyataan keliru tersebut, berhenti memprovokasi isu-isu yang berkaitan dengan China, mengambil langkah-langkah praktis untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan, serta menegakkan fondasi politik hubungan China-Jepang,” tegas Mao Ning pada 18 November.
Ia menambahkan bahwa China tidak akan tinggal diam jika Jepang terus bertindak pada “jalur yang salah”.
“Jika Jepang menolak mencabutnya atau bahkan terus menempuh jalan yang salah, China akan mengambil tindakan balasan yang tegas dan keras, dan segala konsekuensi yang timbul akan ditanggung oleh Jepang,” lanjutnya.
Hingga kini, Mao Ning tidak merinci bentuk langkah balasan yang akan diambil, namun sejarah hubungan kedua negara menunjukkan bahwa China memiliki berbagai opsi, mulai dari pembatasan perdagangan hingga sanksi diplomatik dan ekonomi.
Tokyo Bergeming, Beijing Tingkatkan Tekanan
Meskipun ditekan, PM Sanae Takaichi menolak mencabut pernyataannya. Sikap tegas ini justru memperburuk situasi. Sebagai respons, pemerintah China mengeluarkan imbauan dan pembatasan yang secara langsung menyasar Jepang.
Beijing mengeluarkan larangan bepergian bagi warganya ke Jepang. Warga China yang sudah berada di Negeri Sakura juga diminta berhati-hati, menghindari kerumunan besar, dan meningkatkan kewaspadaan. Langkah ini biasanya menjadi sinyal kuat bahwa hubungan bilateral sedang berada dalam titik kritis.
Selain itu, China menghentikan impor produk laut Jepang dan memblokir penayangan anime Jepang di sejumlah platform media. Keputusan tersebut berdampak ekonomi besar, mengingat pasar China merupakan salah satu tujuan ekspor utama produk perikanan Jepang dan distributor besar konten budaya pop Jepang.
“Dalam situasi ini, tidak akan ada pasar untuk produk laut Jepang, bahkan jika produk tersebut masuk ke China,” tegas Mao Ning.
Taiwan: Garis Merah China yang Tidak Bisa Dinegosiasikan
Dari sudut pandang China, Taiwan merupakan bagian dari wilayah kedaulatan mereka berdasarkan prinsip “One China”. Beijing berulang kali menegaskan bahwa penyatuan kembali dengan Taiwan adalah keniscayaan, bahkan dengan penggunaan kekuatan militer jika diperlukan.
Pernyataan Takaichi dianggap China sebagai pelanggaran terhadap kesepahaman diplomatik yang telah menjadi dasar hubungan bilateral. Beijing menolak keras campur tangan negara lain, termasuk Jepang, dalam isu Taiwan. Setiap bentuk dukungan militer, politik, atau diplomatik terhadap Taiwan dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan China.
Ketegangan ini semakin rumit karena keterlibatan Amerika Serikat. Sikap AS yang berkomitmen memasok senjata ke Taiwan membuat hubungan AS–China terus tegang, dan Jepang—sekutu utama AS di Asia—sering diposisikan berada di sisi Washington.
Faktor Pemicu Lain: Kunjungan Takaichi ke Kuil Yasukuni
Amarah China terhadap Jepang sebenarnya bukan hanya soal Taiwan. Sanae Takaichi diketahui beberapa kali mengunjungi Kuil Yasukuni, tempat penghormatan bagi korban perang Jepang. Namun, kuil itu juga menjadi lokasi penghormatan bagi 14 penjahat perang Kelas A, sesuai penetapan Pengadilan Militer Internasional usai Perang Dunia II.
Bagi China, kunjungan pejabat Jepang ke Yasukuni merupakan simbol upaya “memutihkan sejarah agresi Jepang”. Tindakan Takaichi dipandang sebagai penolakan terhadap tanggung jawab Jepang atas kekejaman selama pendudukan di Asia pada awal abad ke-20.
China menilai rangkaian tindakan Takaichi, mulai dari pernyataan soal Taiwan hingga kunjungan ke Yasukuni, sebagai sinyal bahwa Jepang ingin mengambil sikap yang lebih konfrontatif dan nasionalistis.
Hubungan China–Jepang di Persimpangan
Dengan ketegangan yang kini memburuk, hubungan China dan Jepang berada pada salah satu titik paling rapuh dalam satu dekade terakhir. Pernyataan pemimpin Jepang yang bersinggungan dengan isu Taiwan telah menyentuh sensitivitas utama China, menjadikannya isu diplomatik yang berpotensi berlanjut menjadi konflik ekonomi dan politik yang lebih besar.
Jika Jepang dan China gagal mengelola krisis ini secara hati-hati, kawasan Asia Timur berpotensi menghadapi instabilitas baru, terutama karena Taiwan adalah isu internasional yang melibatkan banyak kepentingan global.
Sementara itu, Takaichi tampaknya tidak akan menarik pernyataannya, dan China juga tidak menunjukkan tanda-tanda meredakan sikapnya. Situasi ini membuat masa depan hubungan bilateral kedua negara masih sangat tidak menentu. (Sumber : CNN Indonesia, Editor : KBO Babel)















