KBOBABEL.COM (Pangkalpinang) – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), khususnya berbasis thorium, kembali menjadi sorotan dalam Diskusi Publik bertajuk “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi Data dan Fakta” yang digelar di Aston Emidary Bangka Hotel & Conference Center, Pangkalpinang, Sabtu (7/2/2026). Diskusi ini menghadirkan berbagai perspektif strategis, mulai dari aspek teknis, sumber daya manusia, hingga dimensi sosial yang menyertainya. Selasa (10/2/2026)
Menutup rangkaian diskusi, Arya Rezavidi, M.EE., PhD., Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) sekaligus Dewan Penasihat Kopetindo, menegaskan bahwa pembangunan PLTN tidak dapat dipahami semata sebagai proyek teknologi berskala besar. Menurutnya, PLTN adalah proses multidimensi yang menuntut kesiapan menyeluruh, baik dari sisi sumber daya manusia, kelembagaan, hingga penerimaan masyarakat.
“Kesiapan sumber daya manusia adalah fondasi utama. Mulai dari tahap perencanaan, pengoperasian, hingga pemanfaatannya, teknologi setinggi apa pun tidak akan optimal tanpa SDM yang kompeten, berintegritas, dan berkelanjutan dalam pengembangannya,” ujar Arya dalam closing statement-nya.

Arya menambahkan, pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa PLTN telah lama menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional. Energi nuklir terbukti mampu menyediakan pasokan listrik yang andal, berkapasitas besar, rendah emisi, dan berkelanjutan. Karakteristik inilah yang menjadikan nuklir relevan dalam mendukung industrialisasi, riset, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dalam konteks Indonesia, Arya menilai bahwa visi besar Indonesia Emas tidak akan tercapai tanpa dukungan sumber energi yang stabil dan masif.
“Kita membutuhkan energi yang bukan hanya bersih, tetapi juga mampu menopang kebutuhan industri dan pembangunan nasional dalam jangka panjang. PLTN menjadi salah satu opsi strategis untuk itu,” tegasnya.
Selain aspek energi, rencana pembangunan PLTN juga dinilai membawa dampak ekonomi dan sosial yang signifikan. Arya menyebutkan, proyek PLTN berpotensi menciptakan sekitar 6.850 lapangan pekerjaan, baik pada tahap konstruksi, pengoperasian, hingga pengembangan industri pendukung. Peluang ini, menurutnya, dapat menjadi katalis peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional sekaligus memperkuat kemandirian teknologi dan industri dalam negeri.

Namun demikian, Arya tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang menyertai rencana pembangunan PLTN. Kekhawatiran publik terhadap dampak kesehatan jangka panjang, khususnya terkait potensi paparan radiasi dan risiko kanker, masih menjadi isu dominan yang harus dijawab secara serius. Ia menekankan pentingnya penjelasan berbasis sains, data, dan pengalaman empiris dari negara-negara yang telah mengoperasikan PLTN selama puluhan tahun.
“Ketakutan masyarakat itu nyata dan tidak bisa diabaikan. Karena itu, jawabannya bukan retorika, melainkan data yang akurat, kajian ilmiah yang transparan, dan komunikasi yang jujur,” ujarnya.
Di sisi lain, stigma negatif terhadap energi nuklir juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut Arya, nuklir kerap dipersepsikan identik dengan senjata, perang, dan kehancuran. Padahal, pada hakikatnya, nuklir adalah teknologi yang dapat dimanfaatkan secara damai untuk memenuhi kebutuhan energi jangka panjang.
“Oleh karena itu, pembangunan PLTN harus dilakukan tidak hanya dengan pendekatan teknis, tetapi juga pendekatan sosial yang humanis. Edukasi publik yang berkelanjutan, keterlibatan aktif masyarakat, serta standar keselamatan tertinggi adalah kunci utama,” jelasnya.
Melalui diskusi publik ini, Arya berharap masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan berimbang mengenai rencana PLTN di Bangka Belitung. Baginya, keberhasilan PLTN bukan hanya diukur dari beroperasinya reaktor, tetapi dari sejauh mana kepercayaan publik dapat dibangun dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. (*)










