Presiden Prabowo Ingatkan Dampak Perang Timur Tengah Bisa Tekan Ekonomi Indonesia

Hadapi Ketidakpastian Dunia, Prabowo Ajak Bangsa Indonesia Tetap Bersatu

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (Jakarta) – Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi berbagai kesulitan yang muncul akibat dinamika geopolitik global, termasuk konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, situasi dunia saat ini penuh ketidakpastian dan dapat berdampak pada berbagai sektor kehidupan, terutama ekonomi. Selasa (10/3/2026)

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat memberikan sambutan yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Senin (9/3/2026).

banner 336x280

Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa pemerintah tidak akan menutup mata terhadap berbagai tantangan yang muncul akibat konflik global. Ia menegaskan bahwa sikap terbuka dan kesiapan menghadapi masalah menjadi kunci dalam mengelola situasi yang tidak menentu.

“Kita menghadapi kesulitan dengan sikap kita ingin mengatasi kesulitan. Kita tidak menutupi kesulitan, kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan,” ujar Prabowo.

Dampak Konflik Timur Tengah

Presiden menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di berbagai kawasan dunia, terutama di Timur Tengah, berpotensi memicu tekanan terhadap perekonomian global. Ketegangan geopolitik seringkali berdampak langsung pada stabilitas pasar energi, perdagangan internasional, hingga stabilitas keuangan dunia.

Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi perekonomian Indonesia, mengingat keterkaitan ekonomi nasional dengan dinamika pasar global. Salah satu dampak yang mulai terasa adalah kenaikan harga minyak dunia yang dapat meningkatkan beban subsidi energi serta memicu tekanan terhadap anggaran negara.

“Akibat perang di Timur Tengah, kita harus siap menghadapi kesulitan,” kata Prabowo.

Namun demikian, Presiden menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan tersebut. Ia menyebut kekuatan bangsa terletak pada persatuan nasional serta kemampuan masyarakat dalam bekerja sama menghadapi berbagai krisis.

Persatuan Jadi Kekuatan Bangsa

Prabowo menilai bahwa solidaritas dan persatuan menjadi faktor penting bagi Indonesia dalam melewati berbagai situasi sulit. Ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia telah berkali-kali menghadapi tantangan besar dalam sejarahnya dan mampu melewatinya dengan baik.

“Kita bersyukur bahwa sebenarnya bangsa Indonesia punya kekuatan. Kita punya kekuatan yang besar,” ujarnya.

Menurutnya, dengan persatuan yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa, Indonesia dapat menghadapi dampak krisis global dengan lebih baik.

Presiden juga optimistis Indonesia tidak hanya mampu melewati krisis, tetapi juga berpotensi keluar dari situasi tersebut dengan kondisi yang lebih kuat.

“Bersatu kita kuat, bersatu kita akan menghadapi semua kesulitan, kita akan keluar dari semua krisis,” tegasnya.

Tekanan terhadap Ekonomi Nasional

Situasi geopolitik global yang memanas belakangan ini telah memicu gejolak di pasar keuangan internasional. Salah satu dampak yang terlihat adalah kenaikan harga minyak dunia yang cukup signifikan.

Kenaikan tersebut turut memengaruhi kondisi ekonomi nasional, termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin (9/3), nilai tukar rupiah dilaporkan menembus angka Rp17 ribu per dolar AS.

Kondisi ini menjadi perhatian para ekonom karena dapat memengaruhi stabilitas fiskal dan inflasi domestik.

Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Bhima, jika harga minyak global terus meningkat dalam jangka waktu yang lama, beban subsidi energi dan belanja negara dapat meningkat secara signifikan.

Ia bahkan memperkirakan defisit APBN berpotensi melebar hingga sekitar Rp314 triliun jika kondisi tersebut terus berlanjut.

“Lonjakan harga minyak sebabkan ‘armagedon’ tekanan fiskal terburuk sejak pandemi COVID-19,” kata Bhima kepada media.

Pemerintah Diminta Antisipatif

Sejumlah pengamat menilai pemerintah perlu menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi potensi dampak ekonomi dari konflik global. Kebijakan pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar, serta pengelolaan subsidi energi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Selain itu, penguatan sektor produksi dalam negeri dan diversifikasi sumber energi juga dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap gejolak harga energi global.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Presiden Prabowo kembali mengingatkan pentingnya optimisme dan kerja sama seluruh elemen bangsa. Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk tetap tumbuh dan berkembang meskipun menghadapi berbagai tantangan global.

Dengan kekuatan sumber daya alam, jumlah penduduk yang besar, serta semangat persatuan, Prabowo yakin Indonesia mampu menghadapi tekanan ekonomi dunia dan tetap menjaga stabilitas nasional di tengah situasi global yang penuh dinamika. (Sumber : CNN Indonesia, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed