Ramai Jelang Lebaran, Jalur Sungai Selan Diserbu Pemudik karena Lebih Murah dan Cepat

H-5 Idulfitri, Kapal Tradisional Sungai Selan Penuh Penumpang Menuju Banyuasin

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA TENGAH) — Aktivitas penyeberangan di dermaga tradisional Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, mulai dipadati pemudik menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Memasuki H-5 Lebaran, Senin (16/3/2026), sejumlah kapal kayu dan speedboat tampak hilir mudik mengangkut penumpang dari Pulau Bangka menuju wilayah “Jalur” di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Selasa (17/3/2026)

Dari kejauhan, kapal-kapal kayu berukuran sedang terlihat meninggalkan dermaga dengan membawa puluhan penumpang. Barang bawaan pemudik tampak ditumpuk di bagian atas kapal, mulai dari tas besar hingga kardus berisi kebutuhan Lebaran. Meski sederhana, penyeberangan ini menjadi pilihan favorit bagi sebagian warga yang ingin pulang kampung lebih cepat.

banner 336x280

Tradisi mudik Lebaran memang selalu diikuti dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jalur resmi penyeberangan biasanya melalui pelabuhan feri seperti Pelabuhan Tanjungkalian. Namun di luar jalur tersebut, masyarakat juga memanfaatkan dermaga tradisional seperti Sungai Selan sebagai alternatif perjalanan menuju Sumatera.

Pilihan Cepat Tanpa Transit

Bagi sebagian pemudik, jalur Sungai Selan dinilai lebih praktis dan efisien. Salah satunya Warsiti (34), warga Desa Nibung, Kecamatan Koba, yang mengaku sudah bertahun-tahun menggunakan jalur ini untuk pulang ke kampung halamannya di Banyuasin.

“Ini mau pulang ke Jalur 14 Banyuasin. Sudah sering naik dari sini, sembilan tahun di Bangka, pulang lewat sini,” ujar Warsiti.

Ia mengatakan perjalanan dari Sungai Selan menuju daerah Jalur di Banyuasin hanya memakan waktu sekitar dua jam, jauh lebih singkat dibandingkan jalur resmi.

Warsiti mudik bersama suami dan dua anaknya. Ia menyebut total biaya perjalanan sekitar Rp1.050.000 untuk empat orang.

“Lebih dekat dan cepat. Tidak perlu mutar lewat Mentok,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan Misran, perantau yang telah 15 tahun tinggal di Pulau Bangka. Ia memilih jalur Sungai Selan karena tidak perlu transit dan waktu tempuh lebih singkat.

“Kalau berangkat jam 10 dari sini, jam 2 siang sudah sampai rumah di Jalur,” katanya.

Menurutnya, jalur resmi melalui Mentok membutuhkan waktu lebih lama karena harus menempuh perjalanan darat menuju pelabuhan, kemudian menyeberang ke Sumatera, dan melanjutkan perjalanan darat kembali menuju Banyuasin.

Lebih Hemat Biaya

Selain lebih cepat, faktor biaya juga menjadi pertimbangan utama pemudik memilih jalur ini. Fitri, salah satu penumpang tujuan Banyuasin, mengaku ongkos penyeberangan dari Sungai Selan jauh lebih murah dibandingkan jalur feri.

“Hari ini mau perjalanan ke daerah trans Palembang di Banyuasin. Lebih cepat, tidak perlu transit. Paling tiga jam sudah sampai,” ujarnya.

Fitri menyebut biaya perjalanan hanya sekitar Rp300 ribu per orang menuju Jalur 13 Banyuasin.

“Kalau lewat Mentok bisa dua kali lipat dan waktunya bisa seharian,” katanya.

Meski menggunakan kapal kayu sederhana, ia menilai perjalanan relatif nyaman karena sebagian besar rute melewati aliran sungai.

“Dari sungai keluar ke laut sekitar satu jam, lalu di laut sekitar setengah jam, setelah itu masuk lagi ke sungai,” jelasnya.

Namun, ia mengakui kondisi cuaca tetap menjadi tantangan tersendiri, terutama saat melintasi perairan laut terbuka.

“Kalau angin besar, gelombang juga besar. Tapi biasanya aman,” tambahnya.

Lonjakan Penumpang Jelang Lebaran

Pengelola pelabuhan tradisional Sungai Selan, Sote, mengatakan jumlah penumpang mulai meningkat signifikan dalam beberapa hari terakhir menjelang Lebaran.

Menurutnya, pada periode mudik seperti sekarang, aktivitas penyeberangan bisa mencapai empat hingga lima kali keberangkatan dalam sehari, tergantung jumlah penumpang dan ketersediaan armada.

“Kalau penuh baru berangkat. Satu kapal bisa 20 sampai 25 penumpang. Menjelang Lebaran bisa empat atau lima kali keberangkatan,” ujar Sote.

Ia menjelaskan, jadwal keberangkatan tidak bersifat tetap karena bergantung pada kesiapan kapal dan kondisi di lapangan.

“Kalau hari biasa tetap ada minimal satu kali berangkat, kecuali Sabtu dan Selasa tidak ada penyeberangan,” katanya.

Meski bukan pelabuhan resmi penumpang, pihak pengelola mengklaim telah menyediakan sejumlah fasilitas keselamatan di setiap kapal.

“Ada pelampung untuk setiap penumpang. Selain itu juga ada alat pemadam api ringan di kapal,” ungkapnya.

Pengawasan Diperketat

Meningkatnya aktivitas penyeberangan di Sungai Selan juga menjadi perhatian aparat kepolisian. Kapolres Bangka Tengah, I Gede Nyoman Bratasena, menyatakan pihaknya akan memperketat pengawasan selama periode mudik Lebaran.

Menurutnya, kawasan Sungai Selan pada dasarnya diperuntukkan bagi transportasi barang, bukan penumpang. Namun karena tingginya minat masyarakat, jalur tersebut tetap dimanfaatkan sebagai alternatif mudik.

“Kami mengimbau agar operator memperhatikan aspek keamanan. Life jacket harus tersedia dan jangan memaksakan jumlah penumpang,” tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa pihak kepolisian akan melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan penumpang guna menjaga keamanan wilayah.

Selain itu, pengawasan dilakukan untuk mengantisipasi potensi kecelakaan laut maupun pelanggaran keselamatan pelayaran.

“Kami akan terus melakukan pemantauan di lapangan, terutama pada titik-titik keberangkatan,” tambahnya.

Perlu Penataan ke Depan

Fenomena meningkatnya penggunaan jalur Sungai Selan setiap musim mudik menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses transportasi yang cepat dan terjangkau.

Pemerintah daerah bersama aparat terkait diharapkan dapat mencari solusi jangka panjang terhadap keberadaan pelabuhan tradisional tersebut, baik melalui penataan menjadi pelabuhan resmi maupun penyediaan alternatif jalur transportasi yang lebih aman.

Koordinasi antara pemerintah daerah, kepolisian, dan instansi terkait menjadi penting untuk memastikan keselamatan penumpang tanpa mengabaikan kebutuhan mobilitas masyarakat.

Di tengah keterbatasan fasilitas, jalur Sungai Selan tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian pemudik yang mengutamakan kecepatan dan efisiensi biaya. Namun, aspek keselamatan tetap menjadi perhatian utama yang tidak boleh diabaikan.

Dengan semakin dekatnya Hari Raya Idulfitri, arus mudik diperkirakan akan terus meningkat. Aktivitas di Sungai Selan pun diprediksi semakin padat, seiring bertambahnya jumlah warga yang ingin pulang kampung dan merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *