KBOBABEL.COM (JAKARTA) – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan permintaan maaf atas kekeliruannya dalam menilai besarnya dampak banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025. Permintaan maaf tersebut disampaikan secara langsung saat meninjau lokasi terdampak di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Selasa (2/12/2025)
Dalam kunjungan lapangannya di Kecamatan Batangtoru, Suharyanto mengaku terkejut melihat kondisi kerusakan dan dampak banjir di wilayah tersebut. Ia turut didampingi Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, saat meninjau lokasi banjir bandang.
“Nah, Tapsel ini saya surprise begitu ya, saya tidak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati,” ujar Suharyanto, seperti dikutip dari siaran Kompas TV, Minggu (30/11/2025).
Suharyanto menegaskan bahwa permintaan maaf tersebut menunjukkan keseriusannya dalam memastikan penanganan bencana berlangsung cepat, tepat, dan menyentuh seluruh korban. Ia memastikan bahwa BNPB terus mengirimkan bantuan logistik, personel, dan dukungan sarana pendukung untuk mempercepat pemulihan.
“Bukan berarti kami tidak peduli,” tegas Suharyanto, menepis anggapan bahwa pemerintah pusat kurang responsif menangani situasi kritis di beberapa wilayah terdampak banjir.
Pernyataan Sebelumnya Jadi Sorotan
Sebelumnya, pada Jumat (28/11/2025), Suharyanto sempat menjadi perhatian publik karena pernyataannya yang menepis isu mengenai parahnya dampak banjir Sumatera yang beredar di media sosial. Saat itu, ia menilai beberapa informasi viral tidak sepenuhnya sesuai dengan situasi sebenarnya di lapangan.
“Memang kemarin kelihatannya mencekam karena berseliweran di media sosial, tetapi begitu kami tiba langsung di lokasi, banyak daerah yang sudah tidak hujan. Yang paling serius memang Tapanuli Tengah, tetapi wilayah lain relatif membaik,” kata Suharyanto dalam konferensi pers tersebut.
Ia menjelaskan bahwa banjir dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh masih berada dalam kategori bencana tingkat provinsi. Menurutnya, kondisi tersebut belum memerlukan penetapan status bencana nasional, meski ia menegaskan bahwa dukungan pusat tetap diberikan secara maksimal.
Pemerintah Tetap Kerahkan Dukungan Besar
Meski status bencana tidak dinaikkan ke tingkat nasional, Suharyanto memastikan bahwa pemerintah pusat memberikan penanganan dalam skala besar, melibatkan berbagai kementerian dan lembaga.
“Karena statusnya tingkat provinsi, pemerintah pusat melalui BNPB, TNI, Polri, dan seluruh kementerian/lembaga memberikan dukungan maksimal. Buktinya, Presiden mengerahkan bantuan besar-besaran, TNI mengirim alutsista dalam jumlah besar, dan BNPB menggerakkan seluruh kekuatan yang ada,” ujar Suharyanto.
TNI diketahui telah mengerahkan sejumlah peralatan seperti helikopter, kendaraan taktis, serta personel tambahan untuk membantu pencarian korban dan distribusi bantuan ke wilayah terisolasi. Sementara BNPB telah mengirimkan tenda darurat, perahu karet, logistik makanan, perlengkapan kebersihan, hingga dukungan kesehatan darurat untuk para pengungsi.
Komitmen Percepatan Pemulihan
BNPB memastikan bahwa proses asesmen kerusakan masih berlangsung untuk menentukan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang. Pemerintah pusat juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memetakan dampak lanjutan, termasuk risiko banjir susulan akibat kondisi cuaca ekstrem.
Dengan permintaan maaf dan peninjauan langsung ini, BNPB menegaskan kembali komitmennya untuk menangani situasi darurat secara transparan dan responsif. Upaya percepatan distribusi bantuan serta dukungan pemulihan dipastikan terus berjalan hingga kondisi masyarakat benar-benar pulih. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

















