Tradisi Peh Cun Kembali Digelar, Ribuan Telur Berdiri Ramaikan Pantai Pasir Padi Pangkalpinang

Peh Cun 2026 Meriah, Sebanyak 3.000 Telur Berdiri Serentak di Pangkalpinang

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Ribuan telur ayam berdiri tegak di kawasan Pantai Pasir Padi, Kota Pangkalpinang, dalam rangkaian Festival Peh Cun 2026 yang digelar masyarakat Tionghoa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tradisi unik tersebut menjadi daya tarik utama sekaligus simbol pelestarian budaya yang hingga kini masih terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sabtu (20/6/2026)

Sebanyak 3.000 butir telur ayam didirikan secara bersamaan oleh peserta festival pada Jumat (19/6). Tradisi tersebut menarik perhatian masyarakat yang memadati kawasan objek wisata Pantai Pasir Padi untuk menyaksikan secara langsung prosesi yang hanya dilakukan pada momen tertentu dalam kalender budaya masyarakat Tionghoa.

banner 336x280

Festival Peh Cun tahun ini berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Juni 2026. Selain menjadi agenda budaya tahunan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana promosi pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat.

Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat di tengah perkembangan zaman dan arus globalisasi.

Menurutnya, budaya tidak hanya berfungsi sebagai warisan leluhur, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dikembangkan melalui sektor pariwisata dan industri kreatif.

“Kita berharap tradisi mendirikan telur ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan lokal maupun nusantara di daerah ini,” kata Saparudin.

Ia menjelaskan bahwa tradisi Peh Cun merupakan salah satu budaya masyarakat Tionghoa yang masih terus dilestarikan di Kota Pangkalpinang.

Tradisi mendirikan telur biasanya dilakukan tepat sekitar pukul 11.30 WIB. Masyarakat percaya bahwa pada waktu tersebut terdapat keseimbangan energi alam yang memungkinkan telur dapat berdiri tegak.

Selain tradisi mendirikan telur, Festival Peh Cun juga identik dengan pembagian kue bakcang kepada masyarakat.

Bakcang yang dibagikan kepada pengunjung menjadi simbol penting dalam perayaan Peh Cun. Tradisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tionghoa.

“Kita menjadikan tradisi Peh Cun ini sebagai festival budaya untuk menarik wisatawan lokal, nusantara, dan mancanegara agar dapat menyaksikan secara langsung budaya masyarakat di daerah ini,” ujarnya.

Menurut Saparudin, pelaksanaan Festival Peh Cun juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

Kehadiran ribuan pengunjung di kawasan Pantai Pasir Padi diharapkan mampu meningkatkan pendapatan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan selama kegiatan berlangsung.

“Alhamdulillah, masyarakat sangat antusias mengikuti dan menyaksikan tradisi mendirikan telur ayam. Kami memperkirakan jumlah pengunjung akan terus meningkat hingga akhir festival,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang, Yan Rizana, mengatakan bahwa Festival Peh Cun tahun ini diikuti sebanyak 78 tim.

Ratusan peserta tersebut terlibat dalam kegiatan mendirikan 3.000 telur ayam di kawasan objek wisata Pantai Pasir Padi.

“Kegiatan utama hari ini adalah mendirikan telur ayam dan membagikan kue bakcang yang menjadi simbol tradisi Peh Cun,” ujarnya.

Menurut Yan, pemerintah daerah terus berupaya menjadikan Festival Peh Cun sebagai agenda wisata tahunan yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah.

Selain memperkenalkan budaya Tionghoa, festival tersebut juga menjadi sarana memperkuat kerukunan dan keberagaman masyarakat di Kota Pangkalpinang.

Festival budaya dinilai memiliki peran penting dalam menjaga identitas lokal sekaligus memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Di sisi lain, tantangan pelestarian budaya saat ini cukup besar, terutama akibat pengaruh globalisasi dan berkurangnya minat generasi muda terhadap tradisi lokal.

Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong berbagai upaya pelestarian melalui pendidikan budaya, promosi digital, serta penyelenggaraan festival yang melibatkan generasi muda.

Melalui kegiatan seperti Festival Peh Cun, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal tradisi sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Antusiasme masyarakat yang memadati Pantai Pasir Padi menunjukkan bahwa tradisi budaya masih memiliki tempat di tengah kehidupan modern.

Festival Peh Cun pun tidak hanya menjadi perayaan budaya masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi ruang bersama yang mempererat persatuan, memperkuat toleransi, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Pangkalpinang.

Dengan terus dilestarikannya tradisi ini, Pemerintah Kota Pangkalpinang berharap Festival Peh Cun dapat menjadi salah satu ikon wisata budaya yang mampu menarik wisatawan sekaligus menjaga kekayaan budaya daerah agar tetap hidup di tengah generasi masa depan. (Sumber : Koran Jakarta, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed