KBOBABEL.COM (TOBOALI) – Kru Kapal Induk Produksi (KIP) Duang Dae 4, mitra PT Timah Tbk, mengalami ancaman serius saat mencoba mengusir aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) selam yang diduga ilegal di perairan Sukadamai, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Minggu, 7 Desember 2025. Dalam insiden tersebut, salah seorang penambang malah mengacungkan parang ke arah pekerja KIP, sehingga membuat situasi di laut menjadi tegang dan membahayakan keselamatan kru. Senin (8/12/2025)
Peristiwa itu bermula ketika para kru KIP mendapati kembali munculnya aktivitas TI selam di jalur operasi kapal. Keberadaan penambang ilegal tersebut sangat berisiko karena berada terlalu dekat dengan lintasan KIP Duang Dae 4 yang sedang bersiap melakukan kegiatan produksi. Kru pun berinisiatif memberikan peringatan kepada para penambang agar segera menjauh demi menghindari potensi kecelakaan kerja yang bisa berakibat fatal.
Namun, upaya peringatan tersebut justru berujung pada tindakan intimidasi. Salah satu penambang di lokasi tidak menggubris peringatan dan malah mengacungkan sebilah parang ke arah kru KIP. Aksi tersebut membuat para pekerja merasa terancam dan terpaksa mundur demi menghindari bentrokan lebih lanjut di tengah laut. Ketegangan pun sempat berlangsung beberapa saat sebelum situasi kembali mereda.
Kepada awak media, salah seorang kru KIP mengungkapkan keresahan mereka atas kondisi tersebut. Menurutnya, jarak antara TI selam ilegal dan lintasan operasional KIP sangat dekat dan dapat memicu kecelakaan serius ketika kapal mulai bermanuver.
“Kami merasa resah, nanti bisa menyebabkan kecelakaan kalau TI selam diduga ilegal tersebut berada di sekitaran KIP menambang,” ujarnya.
Ia juga menyesalkan sikap penambang yang justru bersikap agresif saat diberi peringatan. Menurutnya, tindakan mengacungkan parang merupakan bentuk ancaman serius terhadap keselamatan pekerja.
“Bahkan tadi, saat saya memberi peringatan, penambang itu mengacungkan parang,” ungkapnya. Situasi tersebut membuat kru merasa tidak aman untuk melaksanakan tugasnya secara normal.
Para kru KIP juga mempertanyakan keberadaan dan peran Satuan Tugas Halilintar yang seharusnya melakukan pengawasan dan penertiban terhadap aktivitas tambang ilegal di perairan tersebut. Mereka menilai, selama ini laporan sudah beberapa kali disampaikan, namun aktivitas TI selam masih saja kembali bermunculan di sekitar area produksi PT Timah.
“Kami berharap Satgas Halilintar tidak hanya menerima laporan saja, tapi benar-benar turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi aman. Seharusnya kami yang mendapatkan pengawalan agar tidak terjadi seperti kejadian pagi tadi,” kata kru tersebut. Ia menegaskan bahwa pengamanan sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang dan tidak sampai menimbulkan korban.
Keberadaan TI selam ilegal di jalur operasional KIP dinilai tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga membahayakan banyak pihak. Selain membahayakan penambang ilegal itu sendiri, risiko terbesar juga mengancam kru kapal yang setiap hari bekerja di laut dengan alat berat dan sistem produksi yang berisiko tinggi. Jika terjadi kecelakaan, dampaknya bisa sangat fatal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Satgas Halilintar maupun aparat keamanan setempat terkait insiden pengacungan parang tersebut. Pihak PT Timah juga diharapkan segera berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk memastikan area produksi tetap steril dari aktivitas ilegal yang membahayakan keselamatan kerja serta kelancaran operasional perusahaan di wilayah perairan Sukadamai, Toboali, Bangka Selatan. (Sumber : Belitong Ekspres, Editor : KBO Babel)










