KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) — Penangkapan dua kolektor pasir timah ilegal, Aldi Lesmana (28) dan Aries (41), oleh jajaran Polres Bangka Barat pada Jumat malam, 5 Desember 2025, belum sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat pesisir. Justru, penindakan tersebut memunculkan tanda tanya besar terkait siapa aktor utama yang selama ini mengendalikan aktivitas tambang timah ilegal di kawasan Keranggan–Tembelok. Senin (15/12/2025)
Pasca penangkapan tersebut, warga pesisir menyebut satu nama yang kembali mencuat, yakni Bos Dayat. Sosok ini selama bertahun-tahun disebut sebagai pengendali jaringan distribusi pasir timah ilegal di wilayah tersebut. Namun ironisnya, sejak dua anak buahnya diamankan polisi, keberadaan Dayat justru menghilang dan tidak lagi terlihat di lapangan.
Sejumlah sumber yang ditemui menyebutkan bahwa Aldi dan Aries hanyalah kolektor tingkat bawah yang bertugas mengumpulkan pasir timah dari ponton-ponton ilegal. Pasir timah tersebut kemudian disalurkan ke titik-titik penampungan tertentu sebelum akhirnya masuk ke jalur distribusi yang lebih besar.
“Kalau Aldi dan Aries itu cuma pengumpul. Mereka bekerja atas perintah. Ada atasan di atas mereka,” ujar salah satu sumber warga pesisir yang enggan disebutkan namanya.
Menurut sumber tersebut, Dayat diduga menjadi penghubung antara kolektor lapangan dengan penadah besar. Sejak aparat melakukan penangkapan, Dayat disebut-sebut memilih menghindar dari pantauan masyarakat dan media, memunculkan dugaan kuat bahwa ia mengetahui arah penyelidikan aparat.
Lebih jauh, informasi di lapangan juga menyebut bahwa Dayat tidak berdiri sendiri. Ia diduga memiliki afiliasi langsung dengan sosok besar bernama Liku, nama yang sudah lama dikenal dalam dunia pertimahan Bangka Barat. Liku disebut-sebut sebagai pemain lama yang memiliki peran penting sebagai penadah besar pasir timah ilegal, khususnya dari kawasan Keranggan–Tembelok.
“Dayat itu cuma kepanjangan tangan. Yang menopang dan punya jaringan besar itu Liku. Dia bukan pemain baru, sudah lama dan sangat paham jalur pertimahan di daerah ini,” ungkap sumber lain.
Nama Liku sendiri memang bukan sosok asing di telinga masyarakat pesisir. Ia kerap disebut sebagai figur kunci yang mampu mengendalikan alur distribusi timah dari hulu hingga hilir. Namun sejauh ini, nama tersebut belum tersentuh secara resmi dalam proses penegakan hukum.
Upaya konfirmasi yang dilakukan sejumlah awak media terhadap Bos Dayat hingga Sabtu, 13 Desember 2025, belum membuahkan hasil. Dayat tidak dapat ditemui dan tidak merespons panggilan maupun pesan yang disampaikan melalui berbagai jalur. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada klarifikasi resmi yang disampaikan olehnya.
Kondisi tersebut justru memperkuat persepsi masyarakat bahwa penangkapan Aldi dan Aries belum menyentuh struktur utama jaringan tambang ilegal. Bagi warga, pola semacam ini sudah terlalu sering terjadi: pelaku lapangan ditangkap, sementara aktor besar tetap aman di balik layar.
“Yang ditangkap cuma anak buah saja. Begitu anak buah kena, bosnya menghilang. Polanya selalu begitu dari dulu,” ujar seorang nelayan tua di pesisir Mentok dengan nada kecewa.
Masyarakat pesisir menilai bahwa aktivitas ponton ilegal di Keranggan–Tembelok telah berdampak langsung terhadap kehidupan mereka. Keruhnya laut, berkurangnya hasil tangkapan, hingga rusaknya ekosistem perairan menjadi beban yang harus mereka tanggung, sementara keuntungan justru dinikmati oleh segelintir orang.
Hingga kini, Polres Bangka Barat belum memberikan penjelasan terbuka mengenai dugaan hubungan struktural antara Dayat, Liku, dan dua kolektor yang telah ditangkap. Publik juga masih menunggu langkah lanjutan aparat untuk menelusuri aliran pasir timah serta pihak-pihak yang diduga menjadi penadah utama.
Minimnya informasi resmi membuat spekulasi di tengah masyarakat semakin berkembang. Banyak pihak berharap aparat penegak hukum tidak berhenti pada penindakan simbolis, melainkan berani menelusuri hingga ke akar jaringan.
“Kalau mau serius, harus berani sentuh penadah besarnya. Kalau tidak, yang ditangkap cuma ganti-ganti orang, tambangnya tetap jalan,” kata seorang warga lainnya.
Di tengah kondisi laut yang kian rusak dan tekanan ekonomi yang dirasakan nelayan, masyarakat pesisir Bangka Barat menunggu satu kepastian: apakah penegakan hukum benar-benar akan menyasar aktor utama di balik tambang timah ilegal, atau kembali berhenti pada pelaku lapangan semata.
Kasus ini dinilai menjadi ujian penting bagi aparat penegak hukum dalam membuktikan komitmen pemberantasan tambang ilegal. Keberanian menembus jaringan besar bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga menyangkut keadilan bagi masyarakat pesisir yang selama ini menjadi pihak paling terdampak. (Sumber : Okeyboz.com, Editor : KBO Babel)










