KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) — Festival Perang Ketupat Tempilang 2026 kembali digelar dengan meriah pada Minggu (8/2/2026) di Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Tradisi adat tahunan masyarakat pesisir ini menjadi momen penting dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2024. Senin (23/2/2026)
Acara dibuka secara resmi oleh Gubernur Babel, Hidayat Arsani, yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Babel, Widya Kemala Sari. Kegiatan ini juga dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi dan Kabupaten Bangka Barat, Bupati Bangka Barat, tokoh agama, tokoh adat, serta ribuan masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Widya Kemala Sari menyampaikan pesan dari Gubernur Hidayat Arsani, menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya lokal, termasuk Festival Perang Ketupat Tempilang.
“Pemprov Babel mendukung penuh kegiatan ini sebagai bagian dari pelestarian budaya dan identitas masyarakat Tempilang,” ujar Widya.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui bantuan anggaran senilai Rp20 juta untuk pelaksanaan festival tahun ini, meski mengalami penyesuaian dari rencana awal Rp50 juta karena efisiensi anggaran. Selain itu, Widya juga mengungkapkan rencana pembentukan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 2026.
“Selama ini, urusan pelestarian budaya di Babel masih berada di bawah BPK Provinsi Jambi. Dengan keberadaan BPK lokal, proses pelestarian, pencatatan, hingga pengembangan kebudayaan daerah akan lebih cepat, mudah, dan dekat dengan masyarakat,” jelasnya.
Festival Perang Ketupat Tempilang merupakan tradisi tahunan yang digelar setiap bulan Ruah atau Syaban, menjelang Ramadan. Kegiatan dimulai dengan penampilan tari tradisional dan doa bersama sebagai ungkapan syukur masyarakat. Puncak acara adalah prosesi perang ketupat, di mana ketupat dilemparkan satu sama lain sebagai simbol tolak bala sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir.
Ritual ditutup dengan Nganyot Perae, yaitu menghanyutkan perahu ke laut sebagai simbol pelepasan marabahaya serta doa untuk keselamatan dan keberkahan bagi warga. Aktivitas ini melambangkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas yang menjadi ciri khas budaya masyarakat Tempilang.
Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme tinggi dari ribuan warga yang hadir, baik dari Tempilang maupun wilayah sekitarnya. Kehadiran masyarakat dari berbagai lapisan usia menunjukkan bahwa tradisi ini masih menjadi bagian penting dari identitas sosial dan budaya komunitas pesisir.
Selain aspek budaya, Festival Perang Ketupat Tempilang juga menjadi daya tarik wisata daerah. Pemerintah daerah menekankan pentingnya memanfaatkan momen ini untuk mendorong ekonomi lokal, mulai dari UMKM kuliner hingga kerajinan tangan.
“Pelestarian budaya sekaligus bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama menjelang Ramadan,” kata Widya.
Gubernur Hidayat Arsani melalui perwakilannya juga berharap generasi muda terus dilibatkan dalam festival ini agar nilai-nilai budaya dapat diwariskan dan lestari.
“Festival Perang Ketupat bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pendidikan budaya bagi anak-anak dan remaja agar memahami akar sejarah dan tradisi nenek moyang,” tegas Widya.
Dengan suksesnya pelaksanaan Festival Perang Ketupat Tempilang 2026, Pemprov Babel kembali menegaskan bahwa pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, dan pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas pembangunan daerah. Keberhasilan acara ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan potensi budaya dan pariwisata secara berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan Festival Perang Ketupat Tempilang 2026 berakhir dengan ramah tamah antara pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat, meninggalkan kesan hangat dan kebersamaan yang mendalam. Tradisi yang kaya akan nilai spiritual, sosial, dan budaya ini kembali menegaskan bahwa budaya lokal adalah fondasi penting dalam memperkuat jati diri dan persatuan masyarakat Babel. (KBO Babel)











