KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Elvi Diana, menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi jika Bangka Belitung ingin keluar dari berbagai persoalan ekonomi dan mampu bersaing di masa depan. Kamis (4/6/2026)
Menurut Elvi, ketergantungan terhadap sektor komoditas seperti timah, kelapa sawit, dan perikanan tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Fluktuasi harga yang terjadi di pasar global membuat daerah harus memiliki fondasi lain yang lebih kuat, yakni kualitas manusianya.
Hal tersebut disampaikan Elvi Diana saat menghadiri Kuliah Umum yang digelar di Universitas Bangka Belitung (UBB), Rabu (3/6/2026). Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara dirinya dengan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UBB, Prof. Devi, sebagai upaya memberikan wawasan kepada mahasiswa terkait kondisi ekonomi yang sedang dihadapi daerah maupun nasional.
Elvi menjelaskan, penyelenggaraan kuliah umum tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi yang dinilai sedang menghadapi berbagai tantangan. Tidak hanya dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, masyarakat Bangka Belitung juga harus berhadapan dengan berbagai persoalan ekonomi lokal yang berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
“Sebenarnya latar belakang acara kuliah umum di UBB ini tentunya tidak lepas dari gejolak yang ada di Bangka Belitung sendiri. Mulai dari informasi ekonomi makro global yang penuh konflik hingga persoalan dalam negeri. Kita sedang berjibaku dengan harga sawit yang belum stabil, harga komoditas timah yang terus berfluktuasi, serta tantangan di sektor perikanan,” ujar Elvi.
Ia menilai kondisi tersebut perlu dipahami oleh generasi muda, khususnya mahasiswa yang nantinya akan menjadi pelaku pembangunan daerah. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai kondisi ekonomi agar mampu melihat tantangan sekaligus peluang yang ada di masa depan.
Untuk memperkaya wawasan peserta, panitia menghadirkan Mirza Aditsyawara, mantan Wakil Ketua Asosiasi Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2022–2026, sebagai narasumber utama. Kehadiran tokoh yang berpengalaman di bidang ekonomi dan keuangan tersebut diharapkan mampu memberikan perspektif yang lebih luas kepada mahasiswa terkait kondisi ekonomi nasional maupun global.
Elvi mengatakan, pemahaman ekonomi menjadi penting karena sebagian besar mahasiswa UBB berasal dari keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor-sektor unggulan Bangka Belitung, seperti perkebunan sawit, pertambangan timah, dan perikanan.
Menurutnya, ketika mahasiswa memahami kondisi ekonomi yang sedang terjadi, mereka akan lebih mengerti tantangan yang dihadapi keluarga mereka masing-masing. Kesadaran tersebut sekaligus dapat membangun empati dan semangat untuk mencari solusi bagi kemajuan daerah.
“Banyak dari mahasiswa yang orang tuanya bekerja di sektor sawit, timah, atau sebagai nelayan. Dengan memahami gejolak ekonomi ini, mereka mengerti mengapa terkadang orang tua sulit memenuhi kebutuhan, karena memang ada tekanan ekonomi yang nyata. Kesadaran ini penting agar mereka sadar bahwa solusi permasalahan daerah kelak ada di tangan mereka,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, muncul pembahasan mengenai negara-negara yang memiliki keterbatasan sumber daya alam namun mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi dunia. Perbandingan tersebut menjadi refleksi penting bagi Bangka Belitung yang selama ini dikenal sebagai daerah kaya sumber daya alam.
Elvi menilai keberhasilan sejumlah negara seperti Singapura dan Tiongkok menunjukkan bahwa kualitas manusia memiliki peran yang jauh lebih menentukan dibandingkan kekayaan alam semata. Menurutnya, tanpa SDM yang unggul, kekayaan alam hanya akan menjadi potensi yang tidak mampu memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
“Betul sekali. Suatu provinsi atau negara boleh punya segalanya, punya kekayaan alam melimpah, tapi kalau human quality atau kualitas manusianya tidak ada, ya percuma saja. Lihat Singapura, mereka tidak punya apa-apa. Malaysia pun kekayaan alamnya tidak sebanyak kita, tetapi SDM mereka mau berkembang. Sekarang kita justru tertinggal, bahkan oleh Vietnam,” tegas Elvi.
Ia menambahkan bahwa Bangka Belitung memiliki modal besar berupa cadangan timah, sektor perkebunan yang luas, serta potensi kelautan dan perikanan yang melimpah. Namun seluruh potensi tersebut hanya akan memberikan dampak positif apabila dikelola oleh masyarakat yang memiliki kompetensi, keterampilan, inovasi, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Karena itu, Elvi mendorong agar sektor pendidikan terus menjadi prioritas utama pembangunan daerah. Selain peningkatan kualitas akademik, pendidikan juga harus mampu membentuk karakter generasi muda yang berintegritas, berakhlak mulia, serta memiliki semangat membangun daerah.
Menurutnya, tantangan pembangunan ke depan akan semakin kompleks. Oleh sebab itu, generasi muda Bangka Belitung harus mempersiapkan diri sejak sekarang agar mampu menjadi bagian dari Generasi Emas Indonesia 2045 yang produktif, kompetitif, dan berdaya saing tinggi.
“Kuncinya, kalau Bangka Belitung mau maju, tetap SDM yang utama. Masyarakat kita harus terus ditingkatkan pengetahuannya, berakhlak mulia, dan memiliki semangat kuat untuk memajukan daerah. Kita punya timah dan sawit, tetapi kalau tidak bisa mengelola dengan baik, ya akhirnya tidak akan ada apa-apanya untuk masa depan,” pungkasnya.
Melalui kuliah umum tersebut, Elvi berharap mahasiswa tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi mampu tampil sebagai aktor utama yang membawa Bangka Belitung menuju masa depan yang lebih maju, mandiri, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah. (Munawar Sazali/KBO Babel)











