KBOBABEL.COM (ACEH TAMIANG) – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pemulihan masyarakat pascabencana melalui berbagai aksi nyata. Salah satu bentuk kepedulian tersebut diwujudkan dengan pembangunan delapan unit rumah layak huni bagi warga terdampak banjir dan tanah longsor di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Jum’at (24/7/2026)
Program tersebut dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkum Kehutanan) bersama Ikatan Polisi Kehutanan Indonesia (IPKI) sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam yang melanda wilayah tersebut.
Seluruh rumah yang dibangun kini telah selesai dan resmi ditempati oleh para penerima manfaat. Kehadiran hunian baru tersebut diharapkan mampu memberikan rasa aman sekaligus menjadi titik awal bagi warga untuk kembali menjalani kehidupan secara normal setelah terdampak bencana.
Program pembangunan rumah ini menjadi salah satu implementasi arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menekankan pentingnya kehadiran insan kehutanan tidak hanya dalam menjaga kelestarian kawasan hutan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama ketika menghadapi situasi darurat akibat bencana.
Selain menjadi bentuk kepedulian sosial, pembangunan hunian tersebut juga merupakan implementasi nilai-nilai Budhi Bhakti Wirawana, yakni kode etik Polisi Kehutanan yang mengedepankan pengabdian, kepedulian, tanggung jawab, serta semangat gotong royong dalam menjalankan tugas kepada masyarakat.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan nilai-nilai Budhi Bhakti Wirawana menjadi pedoman bagi seluruh jajaran Polisi Kehutanan dalam menjalankan pengabdian kepada bangsa.
Menurutnya, tugas Polisi Kehutanan tidak hanya terbatas pada menjaga kawasan hutan dari berbagai ancaman kerusakan maupun pelanggaran hukum, tetapi juga hadir membantu masyarakat ketika mengalami musibah.
“Budhi Bhakti Wirawana mengajarkan bahwa pengabdian Polisi Kehutanan tidak berhenti pada menjaga kawasan hutan. Ketika masyarakat menghadapi bencana, nilai-nilai itu menuntun kami untuk hadir, bergotong royong, dan memberikan manfaat nyata. Menjaga hutan pada hakikatnya juga berarti menjaga kehidupan masyarakat yang bergantung padanya,” ujar Dwi, Jumat (24/7/2026).
Ia menegaskan bahwa keberadaan hutan memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, upaya menjaga kelestarian hutan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Dwi secara simbolis menyerahkan delapan unit rumah kepada Datok Desa Sekumur sebagai perwakilan masyarakat penerima manfaat.
Penyerahan rumah tersebut menjadi momentum penting dalam proses pemulihan pascabencana yang selama ini terus dilakukan oleh pemerintah bersama berbagai pihak.
Tidak hanya membangun hunian, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pelaksanaan bimbingan teknis pemberdayaan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang diselenggarakan oleh Ditjen Gakkum Kehutanan.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mencegah serta menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengingat wilayah Aceh juga memiliki potensi ancaman kebakaran pada musim kemarau.
Melalui penguatan kapasitas masyarakat, pemerintah berharap warga dapat berperan aktif dalam menjaga kawasan hutan sekaligus mengurangi risiko bencana lingkungan di masa mendatang.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Koordinator Satgas Galapana DPR RI dalam Pemulihan Bencana, T.A. Khalid.
Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat Desa Sekumur untuk tetap optimistis dan bangkit setelah menghadapi bencana.
Menurutnya, proses pemulihan tidak hanya sebatas membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga memulihkan kondisi ekonomi masyarakat melalui berbagai sektor produktif.
Ia mendorong masyarakat memanfaatkan potensi di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai sumber penghidupan yang mampu mempercepat pemulihan ekonomi keluarga.
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Polisi Kehutanan Indonesia (IPKI), Sustyo Iriyono, menjelaskan pembangunan delapan unit rumah merupakan hasil gotong royong anggota Polisi Kehutanan dari berbagai daerah di Indonesia.
Dana pembangunan rumah dihimpun melalui solidaritas anggota IPKI yang secara sukarela memberikan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana.
Menurut Sustyo, aksi sosial tersebut menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dan kepedulian terus hidup di kalangan Polisi Kehutanan.
“Hunian ini berdiri karena semangat kebersamaan keluarga besar Polisi Kehutanan. Setiap dukungan yang diberikan anggota menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membantu saudara-saudara kita di Aceh Tamiang. Inilah makna Budhi Bhakti Wirawana yang kami wujudkan melalui aksi nyata,” katanya.
IPKI memastikan kegiatan sosial tidak berhenti pada pembangunan rumah. Organisasi tersebut telah menyiapkan program lanjutan berupa renovasi Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Desa Sulum, Kecamatan Sekerak.
Renovasi fasilitas pendidikan keagamaan tersebut direncanakan dilaksanakan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Program tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, khususnya bagi anak-anak yang mengikuti pendidikan agama di desa tersebut.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa pengelolaan sektor kehutanan tidak hanya berorientasi pada perlindungan kawasan hutan, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat.
Pembangunan rumah bagi korban bencana, pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan Masyarakat Peduli Api, hingga rencana renovasi sarana pendidikan menjadi bukti bahwa kehadiran pemerintah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kementerian Kehutanan berharap kolaborasi antara pemerintah, aparat, organisasi profesi, legislatif, dan masyarakat terus diperkuat agar proses pemulihan pascabencana berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.
Dengan semangat gotong royong dan nilai-nilai kemanusiaan, program tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat Aceh Tamiang bangkit dari dampak bencana sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan lingkungan di masa mendatang. (Sumber : jpnn.com, Editor : KBO Babel)











