Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Bangka Belitung » Aktivis dan Warga Kepung DPRD Babel, 9 Tuntutan Keadilan Ekologis Disuarakan

Aktivis dan Warga Kepung DPRD Babel, 9 Tuntutan Keadilan Ekologis Disuarakan

  • account_circle sri rezeki
  • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
  • visibility 30
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Koalisi Sipil untuk Keadilan Ekologis menggelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (21/9/2026). Aksi tersebut menjadi momentum bagi warga, aktivis, mahasiswa, nelayan, petani, masyarakat adat, perempuan, akademisi hingga jurnalis untuk menyuarakan persoalan lingkungan dan ruang hidup yang dinilai semakin tertekan. Selasa (22/9/2026)

Aksi yang digelar dalam rangka memperingati Hari Keadilan Ekologis 2026 itu mengusung tema “Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi.” Koalisi membawa sejumlah persoalan dari berbagai wilayah Bangka Belitung, mulai dari pertambangan laut, perkebunan skala besar, konsesi hutan tanaman industri hingga rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Dalam pernyataannya, koalisi menilai Bangka Belitung tengah menghadapi persoalan sosio-ekologis akibat dominasi industri ekstraktif dan perkebunan monokultur berskala besar.

Menurut data yang disampaikan koalisi, terdapat 172 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dengan luas 448.772 hektare yang dikuasai PT Timah dan perusahaan swasta. Selain itu, terdapat 57 perusahaan sawit dengan penguasaan lahan mencapai 250.956 hektare, serta delapan perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan total konsesi mencapai 214.054 hektare.

Koalisi juga mencatat sedikitnya 26 konflik warga di wilayah pertambangan, perkebunan dan HTI dalam lima tahun terakhir. Konflik tersebut disebut melibatkan hampir 67 desa di Bangka Belitung. Data tersebut digunakan koalisi untuk menggambarkan besarnya tekanan terhadap ruang hidup masyarakat.

Koalisi berpandangan bahwa dominasi industri ekstraktif telah memengaruhi corak kehidupan masyarakat yang sebelumnya bertumpu pada sektor agraris dan maritim. Mereka menilai perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi, tetapi juga menyangkut akses masyarakat terhadap tanah, laut, hutan dan sumber daya alam.

Batu Beriga Jadi Salah Satu Titik Sorotan

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian utama adalah kawasan Perairan Batu Beriga, Kabupaten Bangka Tengah.

Koalisi menyoroti keberadaan IUP PT Timah seluas sekitar 5.039 hektare di wilayah tersebut. Mereka juga mempersoalkan ketentuan dalam Perda RZWP3K Nomor 3 Tahun 2020 yang menetapkan kawasan pesisir tersebut sebagai zona pertambangan laut.

Masyarakat yang tergabung dalam koalisi meminta agar kawasan Batu Beriga dikembalikan sebagai ruang tangkap nelayan tradisional. Tuntutan itu sekaligus dikaitkan dengan penolakan terhadap rencana pembangunan PLTN di Pulau Gelasa yang berada di kawasan Bangka Tengah.

Persoalan Batu Beriga bukan isu baru. Pemerintah Provinsi Babel sebelumnya juga pernah menerima aspirasi masyarakat pesisir yang meminta perubahan zonasi laut dan pesisir agar kawasan tertentu dapat digunakan sebagai wilayah tangkap nelayan dan konservasi.

Dalam aksi 21 September, tuntutan tersebut kembali ditegaskan di hadapan DPRD Babel.

Teluk Kelabat Dalam dan Bangka Barat

Selain Batu Beriga, Koalisi Sipil menyoroti Teluk Kelabat Dalam. Mereka mendesak pencabutan tiga IUP PT Timah dengan luas sekitar 3.746 hektare yang menurut koalisi beririsan dengan penetapan wilayah zero tambang laut.

Koalisi juga meminta penertiban aktivitas tambang ilegal yang disebut masih terjadi di kawasan Teluk Kelabat Dalam, termasuk rantai pasok yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.

Sementara di Bangka Barat, sorotan diarahkan pada konsesi PT Bangun Rimba Sejahtera (PT BRS) seluas sekitar 66.460 hektare. Koalisi menilai konsesi tersebut beririsan dengan ruang hidup serta wilayah adat masyarakat di 39 desa.

Persoalan tersebut, menurut koalisi, menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kebijakan pengelolaan ruang dan sumber daya alam secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan aspek investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Sembilan Tuntutan Dibawa ke DPRD Babel

Dalam aksi tersebut, Koalisi Sipil untuk Keadilan Ekologis menyerahkan sembilan tuntutan kepada pembuat kebijakan.

Pertama, mereka meminta moratorium seluruh perizinan baru, evaluasi terhadap izin yang telah ada serta pemulihan lingkungan hidup di Bangka Belitung.

Kedua, pencabutan IUP pertambangan di Perairan Batu Beriga.

Ketiga, revisi Perda RZWP3K agar Batu Beriga ditetapkan sebagai wilayah tangkap nelayan tradisional.

Keempat, pencabutan IUP di Laut Teluk Kelabat Dalam sekaligus penertiban tambang ilegal di kawasan tersebut, DAS Perimping dan Pulau Kianak.

Kelima, pencabutan konsesi PT BRS di Bangka Barat.

Keenam, penghentian rencana pembangunan PLTN di Bangka Belitung.

Ketujuh, penolakan terhadap Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2026 tentang Percepatan Perbaikan Tata Kelola Pertambangan, yang menurut koalisi tidak cukup berpihak pada masyarakat dan pemulihan lingkungan.

Kedelapan, penetapan kebijakan yang memberikan perlindungan, pengakuan dan penghormatan terhadap wilayah kelola rakyat.

Kesembilan, perwujudan pendidikan gratis dan demokratis bagi masyarakat Bangka Belitung.

Tuntutan tersebut menunjukkan bahwa agenda yang dibawa koalisi tidak hanya berkaitan dengan penghentian aktivitas pertambangan tertentu. Mereka juga meminta perubahan kebijakan pengelolaan ruang, perlindungan wilayah kelola masyarakat serta pemulihan lingkungan.

DPRD Babel Merespons Tuntutan

Dalam aksi tersebut, DPRD Babel menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti sejumlah tuntutan masyarakat, khususnya terkait kawasan Batu Beriga.

Anggota DPRD Babel Ferry menyampaikan komitmen untuk melakukan revisi Perda RZWP3K Nomor 3 Tahun 2020. Khusus wilayah Perairan Batu Beriga, DPRD menyatakan akan mengupayakan perubahan status dari zona pertambangan menjadi wilayah tangkap nelayan paling lambat 21 Oktober 2026.

Komitmen tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam aksi yang berlangsung di Gedung DPRD Babel.

Bagi koalisi, penyelesaian persoalan ekologis membutuhkan langkah konkret dan tidak berhenti pada pernyataan politik. Mereka meminta setiap kebijakan menyangkut ruang hidup masyarakat mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, keselamatan masyarakat serta kepentingan generasi mendatang.

Koalisi juga menilai ancaman ekologis tidak dapat dilepaskan dari konflik agraria dan penguasaan sumber daya alam. Karena itu, evaluasi izin, penataan ruang dan pemulihan lingkungan dinilai perlu dilakukan secara bersamaan.

Adapun koalisi yang terlibat terdiri dari WALHI Kepulauan Bangka Belitung, Persatuan Masyarakat Peduli Batu Beriga, BEM FISIP UBB, BEM FH UBB, AJI Pangkalpinang, DPC GMNI Bangka Belitung, Sang Puan Indonesia Lestari, Lingkar Diskusi Gender, serta sejumlah organisasi dan himpunan mahasiswa.

Melalui aksi tersebut, mereka meminta DPRD dan pemerintah daerah menjadikan persoalan di Batu Beriga, Teluk Kelabat Dalam, Bangka Barat dan sejumlah wilayah lainnya sebagai bahan evaluasi terhadap arah pembangunan Bangka Belitung.

Bagi Koalisi Sipil, keadilan ekologis bukan hanya persoalan menjaga lingkungan saat ini, tetapi juga memastikan ruang hidup, sumber daya alam dan lingkungan tetap tersedia bagi masyarakat serta generasi yang akan datang. (Sumber : Timelines.id, Editor : KBO Babel)

  • Penulis: sri rezeki

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPU Bangka Coret Satu Bacalon Pilkada 2025, Hanya 4 Pasangan Lolos Penetapan

    KPU Bangka Coret Satu Bacalon Pilkada 2025, Hanya 4 Pasangan Lolos Penetapan

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • account_circle putri utami
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (BANGKA) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bangka resmi menetapkan satu bakal calon peserta Pilkada Ulang Bangka 2025 tidak memenuhi syarat (TMS) administrasi. Keputusan tersebut diumumkan melalui press rilis yang disebarkan KPU Bangka via WhatsApp Group usai rapat pleno di Kantor KPU Bangka pada Selasa (22/7/2025) malam sekitar pukul 23.45 WIB. Rabu (23/7/2025) […]

  • Heboh Dana Rp2,1 Triliun! DPRD Babel Lacak ke Kemendagri, Diduga Ada Salah Catat di Bank

    Heboh Dana Rp2,1 Triliun! DPRD Babel Lacak ke Kemendagri, Diduga Ada Salah Catat di Bank

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle sri rezeki
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengambil langkah serius untuk menelusuri dugaan adanya dana mengendap sebesar Rp2,1 triliun milik Pemerintah Provinsi Babel sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan RI beberapa waktu lalu. Rabu (29/10/2025) Dalam rapat audiensi bersama Bank Indonesia (BI) Babel dan Badan Keuangan Daerah (Bakuda) Babel di […]

  • PT TIMAH Bantu Biaya Pengobatan Bayi di Pangkalpinang, Ringankan Beban Keluarga

    PT TIMAH Bantu Biaya Pengobatan Bayi di Pangkalpinang, Ringankan Beban Keluarga

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle putri utami
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Perjuangan menjalani pengobatan tidak mudah bagi Muhammad Al Fasha bayi berusia 22 bulan yang merupakan warga Pangkalarang, Kecamatan Pangkalbalam, Pangkalpinang. Di tengah kebutuhan biaya perawatan yang terus berjalan, bantuan dari PT TIMAH Tbk hadir untuk meringankan beban pengobatan yang harus dijalani keluarga. Rabu (5/8/2026) Ibu Al Fasha, Wahyuni (35), menceritakan bahwa […]

  • Memasuki Masa Tenang, Tim Gabungan Sapu Bersih APK Pilkada Ulang di Pangkalpinang

    Memasuki Masa Tenang, Tim Gabungan Sapu Bersih APK Pilkada Ulang di Pangkalpinang

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2025
    • account_circle putri utami
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Memasuki masa tenang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Ulang 2025, tim gabungan melakukan penertiban alat peraga kampanye (APK) di seluruh wilayah Kota Pangkalpinang. Kegiatan tersebut dimulai pada Minggu (24/8) dan berlangsung selama dua hari dengan melibatkan berbagai unsur instansi. Senin (25/8/2025) Penertiban dilakukan atas koordinasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pangkalpinang bersama […]

  • Sidang Pokok Perkara Menanti, Praperadilan dr Ratna Gugur tapi Keberatan Tetap Dibacakan

    Sidang Pokok Perkara Menanti, Praperadilan dr Ratna Gugur tapi Keberatan Tetap Dibacakan

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle sri rezeki
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (Pangkalpinang) — Sidang praperadilan yang diajukan kuasa hukum dr Ratna Setia Asih pada akhirnya dipastikan gugur setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) resmi mendaftarkan perkara pokok ke Pengadilan Negeri Pangkalpinang dan telah dijadwalkan untuk mulai disidangkan pada Kamis, 4 Desember 2025 mendatang. Senin (1/12/2025) Kepastian ini disampaikan oleh hakim tunggal praperadilan, Dewi Sulistiarini SH, […]

  • Kepergok Panen Sawit 1,1 Ton, Pria di Bangka Barat Langsung Diciduk!

    Kepergok Panen Sawit 1,1 Ton, Pria di Bangka Barat Langsung Diciduk!

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • account_circle sri rezeki
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) – Seorang pria berinisial A (38), warga Desa Sinar Sari Utara, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, ditangkap aparat kepolisian setelah kedapatan mencuri kelapa sawit di perkebunan milik PT BPL Sinar Mas. Aksi pencurian itu terjadi di Blok H33/35 kebun perusahaan yang berada di Desa Dendang, Kecamatan Kelapa. Senin (8/9/2025) Pelaku ditangkap tangan […]

expand_less