
KBOBABEL.COM (TOBOALI) — Serangan brutal menimpa seorang aktivis di Kabupaten Bangka Selatan. Muhammad Rosidi (38), yang dikenal luas dengan sapaan Kak Ros, menjadi korban penyiraman air keras oleh dua orang tak dikenal saat berada di dalam mobil pribadinya di kawasan pusat kota Toboali, Selasa (17/2/2026) malam. Rabu (18/2/2026)
Peristiwa terjadi di Jalan Raya Jenderal Sudirman, tepatnya di Simpang Lampu Merah Ampera — salah satu persimpangan paling ramai yang setiap hari dilalui masyarakat. Saat kejadian, Rosidi masih berada di dalam mobil Suzuki Ertiga warna merah marun bernomor polisi BN 1047 VC, dengan kaca pintu samping kanan dalam kondisi terbuka.

Menurut penuturan korban, dua orang pelaku datang menggunakan sepeda motor jenis matic dan langsung menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah tubuhnya sebelum melarikan diri. Serangan berlangsung sangat cepat, membuat korban tidak sempat menghindar.
“Sepertinya pelaku sudah membuntuti sejak saya masih duduk di Warkop 77. Saya rencananya mau santai bersama teman-teman aktivis di Warkop Ampera,” ujar Rosidi saat ditemui wartawan di RSUD Bangka Selatan.
Akibat siraman tersebut, sejumlah bagian tubuh korban mengalami luka serius. Kulit pada area leher, dagu, perut, paha hingga kaki tampak melepuh akibat reaksi kimia dari cairan yang diduga bersifat korosif. Tim medis menyatakan korban harus menjalani perawatan intensif untuk mencegah infeksi dan kerusakan jaringan lebih lanjut.
Rosidi mengaku tidak memiliki firasat sebelumnya. Namun ia menduga serangan tersebut bukan tindakan acak, melainkan sudah direncanakan. Apalagi pelaku berani melakukan aksi di ruang publik yang terang dan ramai.
“Ini jelas bukan peristiwa biasa. Saya akan membuat laporan resmi ke Polres Bangka Selatan agar kasus ini diusut tuntas,” tegasnya.
Hingga kini, aparat kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait identitas pelaku maupun motif penyerangan. Namun sumber internal menyebutkan polisi telah mengumpulkan keterangan saksi serta menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.
Serangan terhadap aktivis di ruang terbuka memicu kekhawatiran masyarakat. Banyak pihak menilai tindakan tersebut bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan berpotensi menjadi intimidasi terhadap kebebasan bersuara di daerah.
Sejumlah rekan sesama aktivis menyatakan keprihatinan mendalam. Mereka mendesak aparat penegak hukum bergerak cepat dan transparan agar tidak menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat sipil.
“Kalau pelaku tidak segera ditangkap, ini bisa menjadi preseden buruk. Orang akan takut bersuara,” ujar salah satu aktivis lokal yang enggan disebutkan namanya.
Lokasi kejadian yang berada di jalan utama kota juga menambah sorotan publik. Keberanian pelaku beraksi di persimpangan lampu merah menunjukkan tingkat nekat yang tinggi sekaligus menimbulkan pertanyaan soal keamanan di ruang publik.
Pengamat sosial di Bangka Belitung menilai, kasus kekerasan terhadap individu yang aktif di ruang publik harus dipandang dalam konteks yang lebih luas. Selain aspek pidana, perlu ditelusuri kemungkinan motif sosial, ekonomi, maupun konflik kepentingan.
Sementara itu, kondisi Rosidi dilaporkan stabil meski masih mengalami rasa nyeri hebat akibat luka bakar kimia. Pihak keluarga meminta doa serta dukungan masyarakat agar korban segera pulih.
Kasus penyiraman air keras dikenal sebagai salah satu bentuk kekerasan yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan cacat permanen bahkan kematian. Oleh karena itu, penanganan medis cepat dan investigasi hukum yang serius menjadi kunci.
Masyarakat Bangka Selatan kini menunggu langkah tegas aparat. Harapan publik sederhana namun mendasar: pelaku segera ditangkap, motif diungkap, dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Jika tidak, serangan ini dikhawatirkan meninggalkan trauma kolektif dan menumbuhkan rasa takut di ruang publik — sesuatu yang tidak boleh terjadi di daerah yang menjunjung keamanan dan demokrasi. (Sumber : Babel Terkini, Editor : KBO Babel)











